Selembar uang lima ribu rupiah menempel di tangan
seorang anak berdiri di hadapan
rambut malu-malu berupaya menudung mata sayu
suaranya lirih menyembunyikan sesuatu
“Beli mie satu”
“hanya itu?”, kataku
“lima ribu, bisa?”
“tentu saja”
suasana kaku kubelah dengan sebilah tanya
apakah sudah sekolah menengah pertama?
ia diam bersahaja
apakah sudah kelas lima?
dia ragu-ragu bersuara
senyum getirnya meloloskan beberapa patah kata:
“sudah berhenti”
selanjutnya aku yang berganti
melakban bibir agar tak lagi bicara
menggilir hati menggemuruhkan iba
ada esensi mengapa seseorang hemat berbicara
jiwanya dikuasai kemelut ribut
anak itu lalu beranjak menenteng sebungkus mie
sepeda bututnya mengajak kakinya bergegas pulang
mungkin di rumah seporsi makanan dinanti-nantikan
dibagi adil
meski tak seperti membagi-bagikan jabatan.
Jonggol, Bogor, 13 Desember 2025











