Hicham sudah bertekad akan melindungi Karima dengan segenap jiwa raganya. Takkan membiarkan putrinya jatuh ke tangan orang yang salah seperti Youssef. Jarak mereka makin dekat. Youssef tetap menyunggingkan senyum misteriusnya ke arah Hicham.
“Sudahlah, calon ayah mertua. Sebaiknya biarkan putrimu bersamaku,aku akan membuatnya bahagia.”
“Tidak akan! Sebaiknya biarkan kami pergi dari sini.”
Karima tidak menyangka jika Youssef tetap pada pendirian.”Nikahkan kami atau kau akan menerima ini… “
Bug! Bug!
Dua pukulan mengenai perut dan punggungHicham membuat pria itu jatuh tersungkur. Hicham merintih kesakitan sambil memegangi perutnya.
“Ayah…!”Karima berteriak histeris dan hendak menolong ayahnya, sayangnya gerakan Youssef lebih kuat dan segera meraih tangannya. Dia menendang Hicham dengan kuat hingga kembali tersungkur.Karima hanya bisa menangis. Tangannya tidak mampu menggapai ayahnya lagi.
“Ikutlah denganku dan bersikaplah manis! Jangan coba membantah calon suamimu!”gertaknya.
“Tidak! Lepaskan aku, Youssef. Aku tidak akan sudi hidup denganmu!”Karima mencoba melepaskan tangan Youssef yang mencekalnya dengan kuat. Dia menyeret Karima.
Hicham mencoba bangkit dan melawan Youssef. Lagi-lagi, pemuda itu berhasil membuatnya tersungkur dan akhirnya tak sadarkan diri.
“Ayah… ” tangis Karima makin kencang. Tiba-tiba…
“Lepaskan dia!” suara seseorang menghentikan langkah Youssef. Yazid berdiri di hadapan mereka beberapa langkah.”Youssef, sadarlah saudaraku, yang kau lakukan itu salah.”
Youssef menyeringai mendengar ucapan Yazid.
“Apa katamu? Saudara? Ha ha ha… ? Hei, Leon palsu, apakah kau tidak pernah bertanya pada dirimu sendiri, jika kau pun melakukan hal yang salah juga?”
“Apa yang aku lakukan, Youssef?”
“Kau mengaku sebagai Leon d’Oro. Kau tahu siapa dia?”
“Aku tidak pernah mengaku sebagai Leon d’Oro. Dia sendiri yang menyuruhku memakai nama itu demi melindungi perusahaannya.”
“Melindungi perusahaan?” Youssef memicingkan matanya.”Dia punya ahli waris, mengapa mesti kau yang melindungi? Ada apa sebenarnya?”
“Kau tak perlu tahu, Youssef. Itu semua rahasia Tuan Leon. Aku pun tak ada maksud untuk menguasai perusahaannya.”
Youssef merasa tersindir dengan ucapan Yazid.
“Ciihhh! Aku tidak percaya dengan omonganmu. Kau adalah manusia serakah!”
“Youssef, sadarkah, kita telah berteman sejak lama. Tidak ada gunanya seperti ini,” bujuk Yazid.
” Aku tahu kau menginginkan wanita ini,” Youssef berkata dengan nada kecemburuan tinggi. Dia sengaja memeluk pinggang Karima di hadapan Yazid untuk memanas-manasi pemuda itu. Yazid hanya bisa memalingkan mukanya. Sedangkan Karima merasa jijik dengan kelakuan Youssef, dia mendorong kuat dada pemuda itu.
Dalam remang, Yazid bisa melihat kecantikan Karima tanpa penutup kepala, rambut gadis itu tergerai sepinggang berkibar tertiup angin malam. Sejenak pemandangan indah itu melenakan Yazid.
“Lepaskan aku, Youssef! Yazid, tolong!” pinta Karima mengiba.
Youssef menjadi makin geram.”Diammm!”
” Youssef, jangan keras terhadap perempuan. Kau pun terlahir dari seorang perempuan, Youssef. Ingat itu.”
Mendengar ucapan Yazid, Youssef bertambah geram, darahnya semakin mendidih. Dia teringat bagaimana ibunya melahirkannya tanpa seorang pendamping. Luka dalam hati Youssef kembali mengangga. Kini kemarahannya sudah tak terbendung. Dia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Karima dan menyerang Yazid. Sementara Karima berlari mendekati ayahnya yang masih tak sadarkan diri.
“Ayah… bangunlah… aku tidak ingin kehilangan Ayah, ” isaknya memeluk tubuh Hicham.”Allah, selamatkan ayahku, jangan pisahkan kami.”
Dengan kemarahan yang memuncak, Youssef menyerang Yazid yang ada dihadapannya dengan membabi buta. Yazid masih bisa mengatasi gerakan Youssef. Bahkan dengan mudah dia bisa menguasainya.
“Jangan pernah sebut ibuku, karena bagiku dia adalah wanita paling mulia,meski dia jadi korban kelicikan dan keserakahan pria tak bermoral seperti Leon d’Oro.”
Nada bicara Youssef kian meninggi dengan napas memburu. Sakit hati yang terlalu dalam dirasakannya, membuatnya harus menahan segala derita. Dengan label anak lahir tanpa ayah membuatnya sangat terguncang. Dia teringat saat teman-teman di sekolahnya dulu mengolok-olok seperti itu.
“Youssef, bukan begini caranya menyelesaikan masalah, sobat.”
Youssef geram mendengar nasehat Yazid yang dirasanya justru menghinanya. Dia beranggapan pemuda itu memang sengaja ingin melecehkannya.
“Kau takkan pernah tahu penderitaanku dan ibuku. Aku takkan membiarkan pria itu hidup. Kini saatnya aku juga harus meminta hakku sebagai anaknya, walaupun dia tidak pernah menganggapku ada.”
“Bicaralah dengannya, jangan memakai cara seperti ini. Aku akui, aku juga salah. Tetapi semua adalah permintaan Tuan Leon padaku. Aku tidak kuasa menolak.”
Yazid bisa merasakan apa yang dirasakan Youssef. Dia bersyukur,ayahnya adalah pria yang setia,pria sejati. Youssef masih terlihat sangat murka.
“Itu perkara mudah. Di sisi lain bukan itu, aku mencintai Karima, tapi dia menyukaimu. Itu yang membuatmu sakit hati. Aku takkan menyerah, aku akan mendapatkannya dengan cara apapun.”
“Jangan lakukan itu, Youssef.”
“Tidak! Aku takkan membiarkanmu memiliki gadisku! Hanya aku yang berhak!”
Kemarahan Youssef tak kunjung reda. Api dendam dan cemburu telah menguasai hatinya. Dia berjalan mundur mendekati Karima yang masih terisak menunggu Hicham yang belum sadar.
Tangannya menarik tangan Karima dengan paksa.”Ikut denganku dan tinggalkan ayahmu.”
“Tidak, Youssef! Jangan!”
“Youssef, hentikan!”
***
Leon dan Lamyya masih terlibat pembicaraan serius ditemani Marco. Marco baru mengetahui jika Lamyya adalah kekasih ayahnya di masa lalu, dan memiliki seorang anak darinya yang ternyata orang itu telah diajak bekerjasama untuk menghabisi Yazid.
“Ayah, jadi… selama ini Ayah memiliki seorang anak selain aku? Apakah yang diucapkan Youssef benar adanya?”
Sebelum Leon menjawab, Lamyya sudah terlebih dahulu menjawabnya,”Ya, kau benar. Dia adalah putraku, Youssef. Tapi sayangnya, ayahmu tidak bertanggungjawab dan meninggalkanku saat aku tengah berbadan dua. Sekarang putraku hanya ingin meminta keadilan,” ucap Lamyya dengan sengit.
Marco pun merasa geram. Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi, bagaimana pun juga, dia adalah anak sah Leon. Pemuda itu meninggalkan mereka berdua tanpa sepatah kata pun.
“Maafkan aku, Lamyya, ini semua salahku. Aku akan mencari cara agar putramu juga bisa memiliki yang aku miliki.”
“Aku cacat begini semua karena dosa-dosaku. Istriku meninggal semua karena ulahku. Marco dendam denganku bertahun-tahun. Hingga aku meminta seseorang untuk memakai namaku menjaga usahaku.”
Lamyya terdiam. Bagaimana pun, Leon adalah manusia biasa yang tak luput dari khilaf. Tapi rasa cinta dan sakit hati yang beradu jadi satu telah membuat Lamyya seakan sulit untuk memaafkannya.
“Aku ingin kau bicara terbuka dengan Marco dan Youssef. Jelaskan semuanya kepada mereka. Walaupun aku sadar, kau takkan pernah mau mengakui Youssef sebagai anakmu juga.”
“Beri aku waktu memikirkannya, Lamyya. Aku butuh sedikit ketenangan.”
Yazid mengejar Youssef yang membawa lari Karima menuju mobilnya. Pemuda itu tidak mempedulikan Karima yang terus meronta berusaha melepaskan diri.
“Youssef,lepaskan dia!” teriak Yazid.
“Akan aku lepaskan jika dia sudah jadi milikku! Jangan harap kau bisa memilikinya!” hardik Youssef mengancam dengan mengeluarkan senjata api dan menodongkan ke arah pelipis Karima.
Yazid tidak bisa berkata-kata lagi. Dia memilih mengalah ketika melihat tubuh Karima dibawa masuk oleh Youssef karena dia takk jauh dari tempatnya berdiri,Hicham tergolek tak berdaya.
Keadaan Hicham yang luka parah telah menghentikan aksinya untuk mengejar Youssef, membuat dirinya sangat sedih melihat keadaannya. Dia berusaha mengangkat tubuh Hicham seorang diri. Dari arah kegelapan,salah seorang anak buahnya pun datang mendekat.
“Anak buah Youssef sudah berhasil kami bekuk, Pak. “
Yazid berpaling ke arahnya,”Sudah terlambat, Yassine. Youssef telah membawanya pergi. Kita gagal lagi.” Wajah Yazid tertunduk lesu. Hatinya perih teriris. Kini dia tidak bisa menyelamatkan Karima.
“Yassine,tolong bantu aku membawa paman Hicham ke dalam mobil.Luka-lukanya parah, kita harus segera membawanya ke rumah sakit.”
“Baik, Pak.”
Keduanya membawa tubuh Hicham ke dalam mobil dan segera melarikannya rumah sakit.
***
Youssef menempatkan Karima di salah satu kamar di apartemen lamanya.Dalam hati dia merasa bersalah karena telah melanggar kata-kata ibunya. Dilihatnya Karima masih duduk sendiri di tepi ranjang dengan pandangan tak menentu. Gadis itu acuh saja ketika melihat Youssef datang mendekatinya.
“Maafkan aku, Karima. Aku harus melakukannya, karena aku mencintaimu. Aku tidak ingin ada pria lain yang mencoba memilikimu. Hanya aku yang akan menjadi lelakimu.”
Karima membelalakkan matanya,”Aku benci padamu,Youssef!” bentaknya. Youssef tidak merasa terkejut atau pun gentar. Dia membenarkannya. Dia hanya diam, merasa bersalah atas tindakannya.
“Aku memang layak untuk dibenci, Karima. Aku tidak akan marah. Aku sadari itu. Karena seumur hidup,aku hidup penuh dengan kebohongan dan kebencian.”
“Apa maksudmu, Youssef?”
“Kelak kau akan tahu, Karima.”
“Aku tidak ingin tahu cerita atau pun kisahmu!”Karima memalingkan mukanya. Dia semakin benci dengan pemuda itu. Pemuda yang pernah menolong dan menbelanya. Ternyata semua kebaikan Youssef hanyalah alat untuk mendekatinya.
“Baiklah, aku tidak akan mengganggumu.”Youssef meninggalkan Karima seorang diri. Anehnya, dia tidak menguncinya dari luar. Karima merasa heran dengan sikap pemuda itu seolah-olah membiarkannya melarikan diri jika dia mampu.
Karima kembali duduk sendiri memandang keluar jendela kamarnya. Air matanya kembali mengalir,mengingat keadaan sang ayah yang entah bagaimana kini nasibnya dan siapa yang telah merawatnya.
Air mata Karima membanjir, dia merasa hidupnya kini tengah diombang-ambingkan oleh keadaan.
Karima merasa takut seperti sebelumnya. Hanya cinta ayahnya yang mampu membuat dirinya tegar. Dia berharap Hicham selamat. Entah apa yang akan dilakukan Youssef selanjutnya. Dia hanya bisa pasrah.
Beberapa hari kemudian, Yazid menemui Vivienne di kediamannya. Gadis itu tidak menyangka jika Karima, sahabatnya akan mengalami hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
“Aku tidak pernah menyangka, jika Youssef akan berbuat demikian, setahuku,dia adalah pria yang baik dan tidak banyak bicara,” nada bicara Vivienne menunjukan sesal mendalam. “Lalu, bagaimana dengan keadaan ayah Karima?”
Yazid mendesah perlahan,”Keadaannya mulai membaik, dia belum sepenuhnya pulih. Semoga saja kita bisa cepat menemukan Karima lagi.”










