Udara Magelang masih menyimpan kesejukan yang sama, meski matahari semakin condong. Jalan yang kami lewati tenang, bersahaja, seolah enggan melepas para peziarah cerita. Batu-batu tua yang baru saja kami sapa perlahan menjauh di balik pandangan, tapi jejak sejarahnya tetap tinggal dalam ingatan.
Kami melanjutkan perjalanan menuju Candi Gunungsari, menyusuri jalan-jalan kecil yang membelah sawah, kebun, dan perkampungan sunyi. Bagi Zack, ini benar-benar pengalaman baru. Ia menikmati setiap titik persinggahan dengan binar takjub. Baginya setiap tikungan menghadirkan rasa penasaran baru tentang apa yang menanti di balik rimbun pepohonan, tentang kisah apa lagi yang tersembunyi dan belum banyak dituturkan. Rasa ingin tahu yang besar seolah alam dan waktu bersekutu menuntun pada fragmen sejarah berikutnya.
Bhaskoro membawa kami ke Candi Gunungsari, menurut laki-laki berwajah tirus itu, setiap perjalanan eksplorasi membawa satu keyakinan, karena setiap situs memiliki suaranya sendiri, dan tugas kami adalah mendengarkannya, agar setiap catatan sejarah tetap memiliki gaung hingga akhir jaman.
Ayesha lebih tertarik pada pemandangan sepanjang jalan yang dilewati, ia sibuk dengan ponselnya merekam setiap jejak perjalanan hingga mobil akhirnya berhenti. Di balik perbukitan Magelang yang hijau, berdiri sunyi sebuah peninggalan purba. Candi Gunungsari, candi bercorak Hindu Siwa yang terletak di Dusun Gunungsari, Desa Gulon, Kecamatan Salam. Letaknya di puncak Bukit Sari, hanya sekitar empat kilometer dari Candi Gunung Wukir, tempat ditemukannya prasasti Canggal yang mengisahkan awal mula kerajaan Mataram Kuno.
Karena situs ini berada di puncak bukit, lokasinya sulit dijangkau hingga harus ditempuh dengan mendaki, tapi keindahan alam dengan pemandangan Gunung Merapi yang megah membuat perjalanan terasa berharga.
Di puncak kami bertemu dengan Pak Sudarno, seorang sejarawan lokal dari Magelang yang sedang melakukan penelitian untuk referensi jurnal mahasiswa dari salah satu Universitas Negeri di Jawa Tengah. Beliau seorang sepuh yang memiliki kharisma dan sangat menguasai materi. Melihat antusiasme kami mengamati setiap detail, beliau mengajak kami berkeliling, dan menjelaskan sejarah candi yang sempat terlupakan tersebut.
Menurut Pak Sudarno, Candi Gunung Sari sempat terlupakan selama beberapa dekade. Sejarah mencatat, Candi Gunungsari kembali ditemukan pada tahun 1987. Saat itu sebuah menara penerus hendak dibangun, rencana pembangunan menara televisi di Magelang tersebut mendadak batal setelah ditemukannya Candi Gunung Sari di puncak bukit. Saat dilakukan penggalian tanahnya justru memuntahkan batu-batu candi yang lama terkubur. Sejak saat itu, perlahan rahasia yang lama terpendam kembali disingkap.
Menariknya, para ahli menduga candi ini justru lebih tua dari Candi Gunung Wukir. Arsitekturnya menunjukkan gaya Jawa Tengah awal, dengan sisa-sisa ornamen yang menandai kebesaran peradaban Hindu di tanah Jawa. Setiap batu yang ditemukan seolah berbisik tentang masa lalu, tentang doa-doa, pemujaan, dan perjalanan spiritual umat Hindu pada abad-abad awal Mataram. Usianya diperkirakan lebih tua dari Candi Borobudur dan Prambanan, hingga banyak pendapat menuliskan bahwa candi Gunungsari adalah candi Hindu tertua di Jawa.
Candi Gunungsari bukan sekadar tumpukan batu tua di puncak bukit. Ia adalah penanda jejak sejarah yang hampir hilang, sebuah warisan yang mengingatkan kita bahwa peradaban Nusantara pernah berdiri tegak, penuh kebijaksanaan, dan berakar kuat pada spiritualitas.
Karena kurangnya sumber sejarah yang memuat informasi mengenai candi ini, tidak diketahui pasti siapa pendiri Candi Gunungsari. Para ahli hanya dapat memperkirakan tahun pembangunannya dari sejumlah peninggalan di Candi Gunungsari beserta ornamen serta arsitekturnya. Berdasarkan gaya pengarcaan dan motif hias, Candi Gunung Sari diperkirakan dibangun pada abad ke-9
Pada bangunan utama, ditemukan bagian kaki candi yang diduga terdiri atas komponen pelipit dan sisi genta. Selain itu, terdapat sejumlah batu yang diperkirakan bagian dari tubuh candi yang mungkin memiliki satu pintu masuk, serta beberapa komponen atap berupa landasan kemuncak berbentuk bunga padma dengan hiasan antefik ragam hias berbentuk segitiga.
Bangunan utama Candi Gunungsari diperkirakan berupa candi induk yang menghadap barat, dengan candi pengiring di sekitarnya. Batu-batunya berukuran besar, dihiasi ragam hias rumit seperti ukiran tirai bunga, lidah api, hingga pelipit berornamen indah. Keunikan lain adalah keberadaan yoni berhias wajah Mekala, sesuatu yang jarang ditemukan di candi lain di Indonesia.
Keunikan inilah yang membuat banyak peneliti menduga Candi Gunungsari beraliran Siwa. Beberapa laporan juga menyebutkan pernah ditemukan arca Mahakala di lokasi ini, meski keberadaannya kini sulit dilacak. Dalam panteon Hindu.
“Maaf, Mahakala itu apa?” tanya Ayesha menyela penjelasan Pak Sudarno.
“Pertanyaan bagus,” puji Pak Sudarno. Ayesha nyengir tersipu.
“Secara umum Mahakala adalah dewa penting dalam tradisi Hindu dan Buddha. Memiliki arti “Yang Hitam Agung” atau “Waktu Agung,” dikenal sebagai pelindung atau Dharmapala dengan wujud garang tapi welas asih, melambangkan penghancuran halangan, dan merupakan emanasi dari Siwa atau Buddha.” Penjelasan Pak Sudarno cukup gambLang bagi Ayesha dan Zack yang awam.
“Dalam konteks ini Mahakala dikenal sebagai aspek krodha atau amarah dari Siwa. Unsur-unsur tersebut memperkuat hipotesis bahwa candi ini merupakan pusat kosmos spiritual pada masa Kerajaan Medang,” lanjut Pak Sudardo
Di samping bangunan candi, terdapat bangunan berstruktur batu bata yang diduga sebagai pagar keliling, dan bangunan dari batu putih yang diperkirakan bagian dari jalan masuk ke candi.
Sayangnya, kondisi candi kini hanya berupa reruntuhan. Menurut catatan Belanda sejak 1865 menyebutkan bahwa batu-batu candi dan arca di sini pernah digunakan untuk kebutuhan lain, bahkan sebagian dipindahkan ke rumah pejabat kolonial di Muntilan. Meski begitu, sisa-sisa bangunan masih memperlihatkan kemegahan khas arsitektur Kerajaan Medang.
Selain nilai arkeologis, situs ini juga memiliki aura mistis. Dahulu, bukit Gunung Sari dipercaya memiliki sumur keramat dan sering dijadikan tempat bertapa oleh para spiritualis. Tidak sedikit warga sekitar yang percaya bahwa penampakan candi dari dalam tanah adalah jawaban alam atas rencana pembangunan tower yang dianggap tidak selaras dengan kesakralan tempat tersebut.
Pak Sudarno menilai keberadaan Candi Gunungsari menjadi bukti bahwa leluhur Medang tidak mudah menyerah dalam membangun peradaban. Mendirikan candi di puncak bukit bukan hal yang mudah. Tapi mereka tetap melakukannya demi tujuan spiritual.
Hari semakin sore, masih ada satu tujuan candi lagi yang berada satu wilayah. Kami pamit pada Pak Sudarno, sejarawan sekaligus dosen Fakultas Sejarah itu memberikan apresiasi yang tinggi untuk perjalanan eksplorasi kami.
“Saya senang bertemu anak-anak muda yang menyukai sejarah warisan budaya leluhur. Tidak banyak yang tertarik pada sejarah, apalagi sampai meneliti situs dan candi,” ujar Pak Sudarno saat kami hendak turun. Beliau juga menyampaikan harapannya bisa bertemu lagi, pada eksplorasi yang lain, atau perjalanan ziarah sejarah yang lain.
“Vandaag was absoluut geweldig,” ujar Zack puas. Mobil mulai meninggalkan kaki Gunungsari, melanjutkan perjalanan menuju candi berikutnya.
***











