Satu sembilan sembilan enam
kemeja putih, dasi, topi, dan celana pendek merah
sandanganku ke sekolah
jarum jam dan kalender tengah berkisah
seorang penyair diburu ke segala arah
syairnya merusak gendang telinga pemerintah
di ruang kelas baru belajar kurang dan tambah
menulis huruf latin yang indah
menggambar gunung juga sawah
di luar tembok sekolah
satu-dua orang bersajak dengan gagah
di antara riuh buruh menyuarakan upah
sajak-sajak yang bersuara lantang
menjadi bumerang
batang hidung sang penyair menghilang
darah anyir bahkan tak mengalir
mustahil ia bersembunyi selama ini
petak umpetnya berakhir menjadi misteri
hanya Tuhan dan tangan-tangan besi
mengetahui ke mana puisi membawanya pergi
seragam abu-abu bahkan lama kutanggalkan
hitam rambut pun bersalin uban
antara ketakutan puisi yang mampu mengantarkanmu di bibir pistol
seni dan nurani memberontak menjelma ekspresi
puisi
ya, puisi
meski aku tak berani membunyikannya sekencang klakson itu
walau ku tak bernyali mengumandangkannya di atas truk
kendati tak kan juga kudeklamasikan di hadapan massa
Bogor, 27 September 2025
Tragedi Puisi Berdarah











