Sebagai pasangan yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan, Zelia dan Basha sudah saling terbuka satu sama lain. Terutama mengenai perjalanan asmara masing-masing sebelum bertemu, termasuk nama-nama mantan dan kisah cinta di masa lalu. Mereka tak ingin ada rahasia yang bisa menjadi batu sandungan dalam menjalani pernikahan nanti.
Zelia bersyukur, Basha bisa menerima masa lalunya, karena itu juga dia sangat mengerti saat Basha meminta izin untuk datang ke undangan pesta barbeque Lyra yang diketahui sebagai sosok penting pada masa lalu Basha. Dia bersimpati atas kesetiaan sang kekasih saat menunggu balasan cinta dari pujaannya di kala itu, meski hingga detik terakhir pun tidak ada kesempatan bagi Basha untuk menjalin hubungan dengan Lyra. Sesuatu yang kemudian menjadi hal yang disyukuri Zeila, karena dia kini bisa bersanding dengan Basha.
“Kau yakin aku boleh datang ke sana?” tanya Basha pada Zelia dengan tatapan lembut, mencari keraguan atau bahkan keberatan yang bisa saja tersirat di wajah kekasihnya. Tetapi yang ada hanya sedikit cemburu, senyumnya pun terlihat tulus.
“Pergilah. Aku percaya, Tuhan yang akan menjaga kekasihku.” Kalimat itu membuat Basha tersenyum mengalah. Zeila yang cerdas sudah menyisipkan pesan yang menyebut Tuhan, seolah sebagai ancaman, “Kalau kau macam-macam, ada yang mengawasimu dan bisa membalas semua perbuatanmu!”
Zelia lebih mencemaskan Basha yang bisa saja mendapat perlakuan buruk dari Lyra. Bukannya tidak khawatir dengan kepergian kekasihnya untuk menemui gadis itu, tetapi Zeila merasa memang ada yang harus diselesaikan dengan tegas agar tidak menjadi duri di kehidupan keluarga barunya kelak. Sebagai wanita normal tentu saja dia cemburu, tetapi memang Basha yang harus menyelesaikannya. Untuk perihal kesetiaan, dia menaruh kepercayaan penuh kepada calon suaminya.
Lalu terjadilah keributan itu.
Berita tentang Lyra yang hilang kendali di pesta barbeque menjadi berita hangat pagi ini. Koran tentu saja tidak memuat berita putri bangsawan ternama yang berulah, tapi berita itu sudah menyebar dari mulut ke mulut, seperti asap pembakaran sampah di kebun belakang rumah.
Zeila tentu saja sudah mengetahui hal itu dari Basha. Meskipun tidak menyangka Lyra akan bertindak se-ekstrim itu, tetapi Zelia berusaha tenang. Entah kenapa dia sangat memahami perasaan Lyra, lebih tepatnya empati sebagai sesama perempuan.
“Aku bersedih untuknya,” kata Zeila usai meletakkan cangkir teh di depan Basha. Mereka sedang berada di gazebo halaman depan yang dikelilingi pohon kecil nan rimbun. Tempat bermain Zelia sejak masa kanak-kanak, juga tempatnya untuk bersantai bersama keluarga besar. Sekarang ini ayahnya lebih memilih untuk tinggal di dekat tempatnya bekerja, di sebelah barat kota Tarburg, tempat beberapa instansi pemerintah berada.
“Kenapa?” Basha mengangkat cangkir dengan hati-hati, menikmati aroma camomile yang menguar dari sana.
“Aku bisa membayangkan, kehilangan orang yang dulunya menyanjung selama perjalanan masa muda dan memutuskan berhenti untuk menikahi wanita lain. Sepertinya itu bukan hal yang bisa diterima begitu saja bagi gadis populer sepertinya.” Pandangan Zeila menerawang, seolah membiarkan imajinasinya berkeliaran.
“Lyra tidak pernah melihatku sejak awal, dia hanya memanfaatkan. Aku saja yang terlalu naif untuk menyadari hal itu.” Basha berhenti untuk menyesap teh yang tinggal setengah. “Tamtam sudah sering mengingatkanku, bahkan dia berulang kali memakiku karena mau saja mengantar gadis itu kemana-mana meskipun dia menolak cintaku di malam sebelumnya. Haha … bodoh sekali aku. Wajar jika Tamtam begitu marah.” Basha terkekeh mengingat Tamtam yang bersungut-sungut dan mengomel sepanjang hari kala itu.
Tiba-tiba terdengar desing benda yang meluncur cepat, melewati rambut Zeila. Sebuah belati menancap pada kusen pintu. Zelia berteriak seiring Basha menariknya segera menjauh dari pintu. Sesaat kemudian Basha berusaha melihat ke arah belati itu datang, tetapi tidak ada seorang pun di sana. Hanya tanaman yang terlihat bergoyang seolah seseorang atau sesuatu baru saja melewatinya. Basha tidak mau mati konyol dengan mengejar sesuatu yang asing tanpa persiapan. Untuk saat ini dia lebih fokus pada keadaan Zeila yang terlihat shock.
“Kamu baik-baik saja, Sayang?” tanya Basha sambil memeriksa sekitar kepala dan bahu kekasihnya. Zelia berusaha menenangkan diri dengan mengambil napas panjang berkali-kali.
“Yah, sepertinya begitu. I’m okay.” Suaranya bergetar, tangannya pun tampak gemetar, hingga Basha berinisiatif menggenggamnya untuk menenangkan.
Setelah mengambilkan minum untuk Zelia, Basha baru melihat sebuah kain merah terikat di gagang belati. Basha tidak ingin menyentuhnya, tetapi dia perlu tahu, kain apa yang terikat di situ.
Dengan lebih dulu mengenakan sarung tangan yang biasa dipakai untuk berkuda, Basha membuka ikatannya. Sebuah tulisan yang terbaca, “Kau tidak akan bahagia bersamanya. Tinggalkan dia … atau kau akan mati.”








