Beranda / Genre / Petualangan / 23. Durian dan Mitos Candi Mulyo

23. Durian dan Mitos Candi Mulyo

Ananta Kama 1600x900
This entry is part 24 of 33 in the series Ananta Kama

“Candimulyo terkenal sebagai sentra durian terbesar di Magelang.” Aku menjelaskan mengapa ada monumen durian di gapura Dusun Suran.

“Echt? Ik hou van durian.” Zack berseru heboh.

“Yup, Desa Suran ini merupakan salah satu produsen durian, dari varian lokal sampai premium tersedia.”

Aku mengarahkan mobil memasuki jalan pedesaan yang di kelilingi hamparan sawah dan perkebunan. Cuaca yang sedikit mendung tidak menyurutkan rutinitas sehari-hari, anak-anak dan para guru tetap berangkat ke sekolah, perangkat desa bergegas kerja di kantor kelurahan, sejumlah petani pergi ke sawah.

Namun, lain dengan kesibukan di depan rumah Pak Mahmudi, seorang pekebun dan penjual durian. Hari itu aku mengajak Zack dan Ayesha untuk melihat proses panen durian di salah satu petak kebun dekat kampung. Kami disambut ramah, keramahan warga desa yang tulus. Setelah menyampaikan tujuan kami, Pak Mahmudi segera mengajak kami bergegas takut keburu hujan, karena jalan setapak tanah becek, yang bisa menyulitkan langkah menuju lokasi pohon duriannya berada di tengah hutan, dekat tuk atau mata air dan kolam pemandian warga.

“Kita jalan kaki saja, Mbak, lebih aman. Jalannya licin dan curam. Kalau orang sini, kan, sudah biasa,” jelas Pak Mahmudi.

Suasana Desa Suran terbangun oleh suara alam dan langkah manusia yang berbaur pelan. Meski hari menjelang tapi kabut tipis masih menggantung rendah ketika tamu-tamu mulai berdatangan ke kebun durian. Mobil dan sepeda motor berhenti di tepi jalan tanah, sementara pemilik kebun menyambut dengan senyum ramah, seolah telah saling mengenal sejak lama. Musim panen durian memang selalu menghadirkan pertemuan antara yang menanam dan yang datang mencari rasa.

“Silakan, Mas, Mbak. Hati-hati jalannya masih licin,” ujar Pak Mahmudi, sambil menuntun kami melewati akar-akar pohon yang mencuat.

“Wah, aromanya sudah tercium dari jalan,” jawab Zack sambil tertawa kecil.

“Kalau sudah begitu, biasanya semalam ada yang jatuh. Tinggal cari saja,” sahut Pak Mahmudi, matanya menyapu tanah di bawah pohon.

Kamu berhenti di bawah durian tua yang batangnya besar dan berlumut. Di tanah, dua buah durian tergeletak dengan duri masih basah oleh embun.

“Ini jatuhnya semalam, Pak?” tanya Ayesha sambil jongkok, gadis ini sedikit menguasai bahasa Indonesia sehingga tidak terlalu kesulitan berkomunikasi dengan warga lokal.

“Iya. Kalau jatuh malam, biasanya dagingnya tebal dan manis. Tapi nanti kita buktikan,” jawab Pak Mahmudi sambil mengangkat salah satu buah, menimbangnya dengan kedua tangan.

Tak lama, tamu lain ikut bergabung. Percakapan pun mengalir, bercampur suara dedaunan dan burung pagi.

“Jenis apa ini, Pak?”

“Ini montong lokal Suran. Bukan hasil okulasi, tapi dari biji. Rasanya kadang tidak seragam, tapi justru itu seninya,” kata Pak Mahmudi.

“Berarti kalau dapat yang pas, rasanya istimewa?” tanya Ayesha lagi, sementara Zack sibuk mengendus aroma durian yang dipungutnya.

“Istimewa sekali,” jawab Pak Mahmudi sambil tersenyum yakin.

Di tepi kebun, durian mulai disusun. Tamu-tamu berdiri mengelilingi, menunggu satu buah dibelah.

“Boleh dibuka satu dulu, Pak?” pinta seorang pria paruh baya.

“Boleh. Di sini kita tidak pelit rasa,” jawab Pak Mahmudi sambil mengambil golok kecil. Dengan satu hentakan terarah, kulit durian terbuka, memperlihatkan daging kuning pucat yang menggoda.

“Wah, legit baunya,” celetuk pria paruh baya tersebut.

“Coba dulu. Kalau tidak cocok, tidak usah beli,” kata Pak Mahmudi santai.

Setelah mencicipi, percakapan berubah menjadi tawar-menawar yang hangat.

“Kalau ambil lima, harganya bagaimana, Pak?”

“Kita cari tengahnya saja. Panen setahun sekali, yang penting sama-sama senang,” jawab Pak Mahmudi. Tidak ada suara meninggi, hanya tawa kecil dan anggukan setuju.

Siang menjelang, percakapan tak lagi soal harga. Ada cerita tentang pohon yang ditanam ayah Pak Mahmudi puluhan tahun lalu, tentang durian yang pernah jatuh tepat di depan pintu rumah, tentang anak-anak desa yang menunggu buah jatuh sambil menahan kantuk.

“Di Suran, durian itu seperti saudara,” kata Pak Wiryo pelan. “Dirawat lama, dinikmati ramai-ramai.”

Menjelang sore kami berpamitan, membawa lebih dari sekadar durian. Ada kenangan percakapan sederhana, kehangatan sambutan, dan rasa yang akan selalu mengingatkan pada suasana berkabut di Desa Suran.

Zack puas menikmati durian yang dipilihnya bersama Ayesha. Kedua asik menikmati di teras rumah Mahmudi. Aku melarangnya membawa pulang. Meski aku juga pecinta durian, tapi baunya yang menyengat di dalam mobil membuatku pening.

Benar kata Pak Mahmudi saat panen durian bukan hanya urusan jual beli, melainkan perjumpaan manusia dengan alam dan sesamanya. Kami mengobrol santai, banyak cerita yang dituturkan Bu Evie, istri Pak Mahmudi.

“Candimulyo itu desa masa kecil saya, saya lahir dan besar di sini,” tutur Bu Evie.

“Tapi ternyata saya baru tahu kalau Candimulyo memang memiliki candi yang tertanam di dalam tanah, itulah kenapa desa ini dinamakan Candimulyo,” lanjutnya. Kami duduk melingkar mendengarkan cerita yang menarik.

“Menurut nenek saya ada dua mitos, Candi yang ada di Desa Candimulyo ini jika dikeruk maka Desa Candimulyo akan hilang karena besarnya melebihi Candi Borobudur.”

What a surprise, jujur aku baru mendengar tentang cerita ini.

“Ketika dilihat di lokasi memang hanya sepucuk batuan saja yang kelihatan. Candi ini memiliki serpihan yang ternyata ditemukan situsnya di Desa lain. Serpihan candi tersebut terlihat seperti lumbang dan yoni yang berada di tengah perkebunan warga.”

“Apakah bisa di akses ke sana?” tanyaku.

“Sayang sekali tidak bisa mengakses ke sana karena lokasinya berada di perumahan warga.”

“Wah, sayang sekali,” keluhku. Bu Evie hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Mitos yang kedua adalah jika berfoto di Candi tersebut maka tidak bisa pulang ke rumah. Mitos yang kedua terdengar seperti dongeng khas nenek moyang yang sering diceritakan kepada anak kecil.”

Bu Evie menuntaskan rasa penasaran kami dengan mengantar ke lapangan Candimulyo. Dari sini bisa terlihat pucuk candi seperti kerikil kecil.

Kata beliau candi ini sudah dilakukan pendataan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan akhirnya diresmikan sebagai cagar budaya. Awalnya situs ini beserta serpihannya yang ditemukan di Desa Tampir Kulon dan Desa Tegalsari akan dibuka sebagai Daya Tarik Wisata akan tetapi kekurangan anggaran dana desa untuk membangun destinasi.

Kami duduk sejenak di depan candi, merenungkan semua informasi yang baru kami dapatkan. Suara alam yang tenang menambah kedamaian saat itu. Menyadari bahwa candi ini adalah saksi bisu perjalanan sejarah, penduduk desa Candimulyo tentu merasa beruntung bisa berada di tempat yang begitu kaya akan nilai budaya.

Banyak hal yang bisa dipelajari ketika berkunjung di desa ini. Sore hari yang sejuk dengan pemandangan sunset yang indah dan Gunung Merapi dan Merbabu terlihat seperti lukisan yang indah. Kami bergegas pulang sebelum matahari benar-benar tenggelam. Zack terlihat bahagia sekali hari ini bisa mengeksplor daya tarik di desa Candimulyo. Benar-benar rasanya seperti dejavu. Tentunya warga sangat berharap bahwa situs-situs di sini bisa dikenal oleh semua orang dan menjadi daya tarik wisata yang khas dari Desa Candimulyo.

Wisatawan yang datang dapat mempelajari situs candi yang ditemukan sambil menikmati durian yang khas dari Candimulyo. Sebelum pulang, Zack mengambil beberapa foto. Candi Candimulyo bukan hanya sebuah bangunan, tetapi juga lambang dari warisan yang harus dijaga.

Ananta Kama

2. Situs-situs yang Belum Terjamah di Candimulyo 4. Candi Umbul, Perpaduan Sejarah dan Keindahan Alam

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *