Beranda / Genre / Young Adult / Jebakan Buaya

Jebakan Buaya

Gadis lugu berkata
“aku begitu mencintainya”
lalu membubuhkan tanda koma
“tidak mabuk, merokok, aneh-aneh”

dibawalah ke sebuah tempat
di situ rahasia, aib, tertutup rapat
sandangan lugu si dara masih jadi predikat
tergiring muslihat
darah pecah, robek, terkoyak
jerit tangis ditandingi tawa terbahak-bahak
sekelompok buaya di bawah kuasa tuak
memasak nafsu hingga bergolak

gadis lugu berkaca-kaca
belahan hatinya sedemikiankah tega
tiada cemburu manakala ia dicumbu
bukan hanya satu

gadis lugu tetaplah lugu
entah cinta mengubahnya menjadi dungu
ia tunduk dalam bujuk rayu
menuju tempat para buaya bertemu
sekali lagi dia laksana piala beregu
beramai-ramai sebagai empu
air matanya tumpah ruah di semak belukar itu

gadis lugu melipat rapi tragedi kelabu
“aku amat mencintainya, dia baik, tidak merokok,
tidak aneh-aneh, hanya nongkrong”
“aku tak mau talian cinta ini diputusnya”

buaya kembali bertamu
rembulan pun masih tertidur menanti subuh yang masih jauh
gadis lugu mau
bercengkerama ke sarang buaya
ia kini adalah lembu
menurut dituntun dengan tali bujuk rayu
di situ disantap beramai-ramai
melati menghitam sebab noktah putih
lambang kesucian yang dipermainkan
ikatan cinta
katanya

gadis lucu menangis tergugu-gugu
di dalam dasar kubangan jebakan buaya
mungkin ia masih akan nyana:
“aku sangat mencintainya
ia bukan buaya, tidak mabuk, merokok, dan aneh-aneh”.

Bogor, 8 Januari 2026

Penulis

  • Wijatmoko Bintoro S

    Wijatmoko berasal dari Magelang yang merantau dan menjadi penduduk Tanjung Priok, Jakarta Utara. Wijatmoko telah membuahkan sepuluh buku karya tunggal bergenre prosa, puisi, dan pantun. Beberapa tulisannya sempat tersimpan di sebuah blog pribadinya yang gagal dimasuki karena dia kehilangan kuncinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *