Gadis lugu berkata
“aku begitu mencintainya”
lalu membubuhkan tanda koma
“tidak mabuk, merokok, aneh-aneh”
dibawalah ke sebuah tempat
di situ rahasia, aib, tertutup rapat
sandangan lugu si dara masih jadi predikat
tergiring muslihat
darah pecah, robek, terkoyak
jerit tangis ditandingi tawa terbahak-bahak
sekelompok buaya di bawah kuasa tuak
memasak nafsu hingga bergolak
gadis lugu berkaca-kaca
belahan hatinya sedemikiankah tega
tiada cemburu manakala ia dicumbu
bukan hanya satu
gadis lugu tetaplah lugu
entah cinta mengubahnya menjadi dungu
ia tunduk dalam bujuk rayu
menuju tempat para buaya bertemu
sekali lagi dia laksana piala beregu
beramai-ramai sebagai empu
air matanya tumpah ruah di semak belukar itu
gadis lugu melipat rapi tragedi kelabu
“aku amat mencintainya, dia baik, tidak merokok,
tidak aneh-aneh, hanya nongkrong”
“aku tak mau talian cinta ini diputusnya”
buaya kembali bertamu
rembulan pun masih tertidur menanti subuh yang masih jauh
gadis lugu mau
bercengkerama ke sarang buaya
ia kini adalah lembu
menurut dituntun dengan tali bujuk rayu
di situ disantap beramai-ramai
melati menghitam sebab noktah putih
lambang kesucian yang dipermainkan
ikatan cinta
katanya
gadis lucu menangis tergugu-gugu
di dalam dasar kubangan jebakan buaya
mungkin ia masih akan nyana:
“aku sangat mencintainya
ia bukan buaya, tidak mabuk, merokok, dan aneh-aneh”.
Bogor, 8 Januari 2026
Jebakan Buaya









