Home / Genre / Romansa / 24. Candi Umbul, Perpaduan Sejarah dan Keindahan Alam

24. Candi Umbul, Perpaduan Sejarah dan Keindahan Alam

Ananta Kama 1600x900
This entry is part 25 of 33 in the series Ananta Kama

Aku tiba di penginapan sebelum matahari benar-benar menggeliat. Kabut tipis menggantung di bukit Manore. Pagi yang terasa berbeda bagi Ayesha. Udara masih sejuk, tapi aku melihat seperti ada beban tak kasatmata yang menggantung di dadanya. Dari lobby penginapan, aku melihat Zack sudah berdiri di halaman, ransel kecilnya tersampir di bahu, tanda bahwa hari ini bukan sekadar hari perjalanan biasa. Hari ini adalah hari terakhir Zack di Indonesia. Visa kunjungannya habis, dan sore nanti ia harus bersiap menuju bandara, kembali ke Belanda, kembali ke kehidupannya yang lain.

Ayesha melangkah mendekat, berusaha menyimpan perasaan yang sejak semalam bergejolak. Senyumnya tipis, nyaris rapuh.

“Goedemorgen,” sapanya pelan, seolah takut suaranya pecah.

Zack menoleh dan membalas dengan senyum yang hangat namun sarat makna. “Pagi. Kamu kelihatan belum tidur nyenyak,” katanya, mencoba terdengar ringan, meski matanya tak mampu sepenuhnya menyembunyikan kesedihan yang sama.

Mereka terdiam sejenak. Ada banyak hal yang ingin diucapkan, tapi pagi itu terasa terlalu sempit untuk menampung semuanya. Angin menyelinap di antara pepohonan, membawa aroma tanah basah dan suara burung-burung yang seakan tak peduli pada perpisahan manusia.

“Jadi … Candi Umbul?” kata Zack akhirnya, memecah keheningan. “Tempat terakhir sebelum aku pulang.”

Aku mengangguk, Ayesha menatap sendu, “Aku senang kita menutup perjalananmu di sana,” ujarnya lirih. “Umbul itu tentang air, tentang jeda. Mungkin … cocok untuk hari ini.”

Zack tersenyum, kali ini lebih dalam. “Aku tidak menganggap ini akhir,” katanya mantap. “Aku hanya pulang sebentar. Aku janji, aku akan kembali. Masih banyak candi yang belum kita jelajahi, masih banyak cerita yang tertinggal di sini.”

Ayesha menatapnya, mencoba mempercayai janji itu sepenuh hati. Di balik kesedihannya, ada secercah harapan yang ia simpan rapat-rapat. Perjalanan hari ini ke Candi Umbul bukan hanya tentang eksplorasi, tetapi tentang mengumpulkan kenangan terakhir, sebuah awal yang menunggu untuk dilanjutkan di waktu lain.

Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di Candi Umbul, salah satu situs bersejarah yang terletak di belahan utara Magelang. Tempat ini terkenal dengan sumber air panas alami yang mengalir melalui kolam-kolam batu candi kuno.

Situs ini unik karena menggabungkan nilai sejarah, arkeologi, dengan manfaat kesehatan. Konon candi yang diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno ini digunakan sebagai tempat pemandian para raja dan bangsawan. Sejarah dan latar belakang Candi Umbul terkait erat dengan perkembangan agama Hindu dan Buddha di Jawa Tengah pada masa kuno.

Kini Candi Umbul menjadi salah satu destinasi wisata favorit bagi para pelancong yang ingin merasakan pengalaman bersejarah sekaligus menyegarkan diri di tengah alam pegunungan yang asri.

Menurut seorang pemandu yang disediakan sebagai fasilitas wisata, Candi Umbul diperkirakan dibangun pada masa Dinasti Syailendra, yang berkuasa di Jawa Tengah pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. Dinasti Syailendra terkenal sebagai patron dari banyak candi besar, termasuk Candi Borobudur. Kemungkinan pembangunan Candi Umbul dimaksudkan sebagai tempat pemandian ritual atau tirta yatra, yang merupakan bagian penting dari praktik keagamaan Hindu dan Buddha.

Masih menurut pemandu, pada masa itu, air dianggap sebagai elemen suci dalam berbagai tradisi keagamaan. Ritual mandi di air suci atau tirta yatra dipercaya mampu membersihkan tubuh dan jiwa dari segala kotoran dan dosa, sebagai  persiapan seseorang untuk upacara keagamaan atau meditasi. Candi Umbul, dengan kolam-kolam air panasnya, mungkin telah digunakan untuk tujuan ini, baik oleh para pendeta maupun masyarakat setempat pada waktu itu.

Sutadji, pemandu yang mendampingi kami menuturkan bahwa, Candi Umbul awalnya ditemukan dalam keadaan tertimbun tanah dan vegetasi. Penelitian arkeologi menunjukkan bahwa situs ini pernah terkubur oleh letusan Gunung Merapi yang mengubur banyak situs kuno di sekitarnya. Setelah ditemukan kembali, Candi Umbul mengalami beberapa kali pemugaran oleh pemerintah Indonesia untuk melestarikan sisa-sisa struktur candi dan kolam pemandian.

“Candi ini unik,  kombinasi antara arsitektur candi dengan kolam pemandian air panas,” ujar Zack sambil mengamati batu-batu candi yang mengelilingi kolam, batu-batu candi tersebut  dihiasi ukiran relief menggambarkan motif flora dan fauna, yang merupakan ciri khas seni pada masa Dinasti Syailendra. Zack mengulurkan tangannya, merasakan sensasi air panas yang mengalir di kolam-kolam yang berasal dari sumber alami di bawah tanah. Air panas yang mengandung belerang, dipercaya memiliki manfaat kesehatan.

Secara spiritual, candi yang terletak di Kabupaten di Desa Kartoharjo, Kecamatan Grabag ini merepresentasikan keyakinan pada pentingnya air sebagai simbol kemurnian dan penyucian. Bagi masyarakat setempat, situs ini juga menjadi bagian dari warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi, menjaga hubungan dengan masa lalu dan kepercayaan leluhur.

Melalui sejarah dan latar belakangnya, Candi yang berada di kaki gunung ini menjadikan suasana di sekitar Candi Umbul sejuk dan tenang, dengan pemandangan alam yang indah dan dikelilingi oleh sawah serta perbukitan,  tidak hanya berfungsi sebagai situs pemandian, tetapi juga sebagai saksi dari perkembangan peradaban dan agama di Jawa Tengah, mencerminkan keagungan dan kebijaksanaan masa lampau.

Zack berniat ingin mencoba mandi, terdapat dua kolam pemandian utama yang bisa digunakan oleh pengunjung. Kolam pertama lebih dalam dan biasanya digunakan oleh orang dewasa, sementara kolam kedua lebih dangkal dan cocok untuk anak-anak atau mereka yang ingin berendam dengan nyaman. Namun, Ayesha awalnya menolak sehingga laki-laki bule itu akhirnya berendam sendiri.

Namun, Ayesha tergoda untuk mencobanya. Ia menyusul ke kolam kedua yang lebih dangkal. Tubuhnya yang mungil tersamar ketika berada di kolam anak-anak. Aku menunggu di Gazebo yang tersedia di beberapa titik sambil menikmati pemandangan dan Anek jajanan yang banyak di jual di area wisata.

Tanpa terasa matahari sudah meninggi, aku mengisyaratkan untuk segera naik. Perjalanan ke Bandara cukup memakan waktu, dan berisiko terkena macet.

Sepanjang perjalanan, Ayesha lebih banyak diam, memandang ke luar dengan mata berkaca-kaca. Zack pun tak banyak bicara. Perjalanan sepanjang 82 kilometer yang ditempuh selama hampir 2 jam terasa lama, bahkan kedua bule itu menolak kuajak mampir makan siang. 

Senja menggantung rendah di langit Kulon Progo ketika mobil melambat di depan terminal keberangkatan Bandara YIA. Cahaya jingga memantul di kaca gedung, seolah ikut menahan waktu agar tidak berlari terlalu cepat. Ayesha menarik napas panjang, sementara Zack memandang sekeliling, bandara yang modern, rapi, tapi terasa dingin bagi perpisahan yang hangat dan berat.

Kami turun dari mobil. Penumpang riuh dan suara roda koper beradu dengan lantai, berpadu dengan pengumuman penerbangan yang terdengar samar. Angin laut membawa aroma asin, mengingatkan perjalanan-perjalanan kecil yang telah kami lalui bersama, candi, berburu kuliner, percakapan panjang, dan tawa yang sederhana.

Ayesha berhenti melangkah, “Jadi … ini benar-benar hari terakhir,” katanya pelan, berusaha tersenyum.

Zack mengangguk, matanya lembut. “Untuk sementara.” Ia menambahkan cepat, “Bukan selamanya.”

Ayesha menatapnya lekat, seperti mencoba menyimpan wajah itu dalam ingatan. “Kamu selalu bilang begitu. Datang lagi. Kembali lagi.”

Zack menggenggam tangannya. “Dan aku selalu menepatinya. Indonesia belum selesai aku jelajahi. Kamu juga.”

Ayesha tertawa kecil, meski matanya basah. “Jangan janji yang terlalu jauh. Aku cuma ingin kamu pulang dengan selamat.”

Zack mendekat, suaranya menurun. “Aku akan kembali. Candi-candi yang belum sempat kita kunjungi, mereka memanggilku untuk kembali. Dan pagi yang belum sempat kita bicarakan, juga … kamu yang menjadi alasan untuk kembali.”

Pengumuman boarding memanggil nomer penerbangannya. Waktu akhirnya meminta haknya. Zack mengangkat ranselnya, lalu berhenti sejenak.

“Terima kasih untuk hari-hari yang membuatku ingin pulang, dan ingin kembali.”

Ayesha mengangguk. “Hati-hati di jalan, Zack. Sampai jumpa.”

“Dankjewel, Tantri. Ik zal onthouden hoeveel je me hebt geleerd over het waarderen van geschiedenis.” Zack menepuk bahuku hangat, tangannya menggenggam erat seolah ingin mengatakan banyak hal yang tak bisa terucap. Aku membalas dengan mengelus punggungnya. Setiap perjalanan seolah menorehkan kisah yang terekam kuat dalam ingatan.

Panggilan boarding untuk kedua kalinya. Zack Kembali menatap Ayesha. Mereka berpelukan singkat, cukup lama untuk menguatkan, cukup singkat agar tidak runtuh hingga akhirnya Zack melangkah pergi, menjelang pintu masuk ia menoleh sekali lagi, melambaikan tangan. Ayesha membalas, berdiri sampai sosok itu menyatu dengan keramaian.

Di langit … di antara awan-awan yang saling berpeluk tampak pesawat Cathay Pacific membawa Zack jauh ke Belanda, menembus malam. Namun, di Bandara YIA, yang tertinggal bukan hanya jarak, melainkan janji yang hidup, menunggu waktu untuk dipenuhi.

Ananta Kama

3. Durian dan Mitos Candi Mulyo 5. Situs yang Tersembunyi di Secang

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Terbangun Tengah Malam

Terbangun Tengah Malam

Antologi KompaK’O

Random image