Home / Genre / Religi / Sang Pendosa

Sang Pendosa

Sang Pendosa
1

Kepada  seorang  hamba di bumi Allah.

Sayang, dari sudut lembab ini, kurenungi semua makna kehidupan di separuh perjalanan hidupku. Aku telah melaluinya dengan pelbagai dera melanda. Tiada henti, seiring berputarnya detak jarum jam yang tiada pernah penat menjalankan tugasnya dari detik, menit, hingga jam. Kamu tahu kan, Sayang? Betapa hidup ini penuh dengan keindahan dan juga kepalsuan. Hidup yang kan fana suatu saat.

Kertas usang dan pena ini adalah teman setiaku tatkala aku merindumu. Kamu tahu kan, Sayang? Bagaimana kita menjalani hari-hari kita penuh dengan pelbagai coba? Sebagai wujud rasa cinta kasih-Nya tiada batas. Kamu paham kan, apa yang selama ini kita jalani? Ridho-Nya, ridho-Nya. Semuanya tak mudah, Sayang. Ada aral melintang pun onak duri menghadang langkah-langkah kita, Sayang

Dunia ini hanyalah sementara. Bui bagi kita yang menjaga iman dan taqwa kepadaNya. Namun, tahukah kamu? Jika berbagai coba itu takkan pernah berhenti hingga sang waktu datang menjemput. Waktuku dan waktumu.Tak pernah seiring sejalan. Seperti hatiku dan hatimu yang tak pernah sama. Suluh pun tiada sama. Kamu paham kan, maksud goresan-goresanku?

Satu persatu, kutulis torehan-torehan hati ini sebagai rasa bahwa kita  bersama meski takkan pernah sama.. Aku bukanlah seorang insan romantis yang bisa membuat syair, madah, ataupun kata-kata cinta, selain hanya kepada-Nya. Kamu tahu kan, mengapa Dia memisahkan kita? Kamu kian paham kan? Rahman rahimNya takkan pernah pudar bagi siapapun yang dikehendakiNya. Termasuk kamu dan aku, di belahan dunia yang berbeda.

Lantai lembab ini adalah bukti, penempaan diriku yang kala itu takut terjerumus, tetapi adakala tangan-tangan angkara itu mencengkeram, memisahkan kita yang tengah berproses menuju-Nya. Subhaanallah. Cinta ini berat, Sayang. Cinta yang bisa menunjukkanku arti cinta sebenarnya, karena aku tak mampu menjabarkannya dengan makna yang kumiliki. Pengetahuan dan ilmuku sangat dangkal dibandingkan ilmu-Nya seluas Masyriq hingga Maghrib.

Cinta ini timbul tenggelam, Sayang. Kamu tahu bukan? Aku insan papa, dengan nestapa yang kadang datang menyapa. Aku pun tidak bisa setia hanya dengan menjaga hatiku. Hatiku rapuh, melihat banyaknya duka lara, derita bertintakan air mata. Aku rapuh akan hal cinta. Ingin kuungkap cinta meski ku tak mampu, aku tak berdaya.

Di sudut lembab ini, kutulis dan kurapal mantra-mantra, peneguh jiwamu, jiwaku, dan cinta kita. Di sudut lembab ini, kukatakan padamu, aku tak bisa setia, hatiku terkadang terjeda, melihat kemungkaran yang kian menjelma. Aku rapuh, Sayang. Aku tergerak, meski kadang aku tak bisa bebas ungkapkan semua itu. Bibirku kelu, kaku.

Aku tak bisa setia, Sayang. Tatkala kulihat lukisan kegersangan di hati mereka. Aku tak bisa semua itu. Sisi lain diriku berkata, “Ulurkan tanganmu, lalu ukirlah mimpi-mimpimu di sana bersama mereka.” Bagaimana jika aku tanpamu, Sayang? Dapatkah kau dengar jerit tangis dan isak tertahanku?

Jujur kurindu, kau takkan pernah cemburu jika kubagi cinta itu. Kita adalah insan  pendosa yang kini berada di bui yang kita pijak. Kita adalah pendosa yang kelak kembali pulang. Sementara, kita masih lanjutan kembara, mencari bekal untuk pulang. Aku ingin menemani dan membersamaimu, Sayang, menuju-Nya. Kita bersama lainnya, berjalan di atas bara-bara yang terkadang memupuk keberanian hadapi semua dera.

Kita adalah sang pendosa, mengharap sekerat pinta atas nama cinta.

Sudut Lembab, 14 Februari 2025, 04.32

Penulis

  • Fidele Amour

    Fidèlé Amour adalah nama pena dari wanita kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, berzodiak Libra. Memiliki hobi belajar bahasa asing, mendalami huruf-huruf Jawa dan bahasa Jawa sebagai wujud dukungan terhadap program Revitalisasi Bahasa Daerah. Gemar menulis artikel, puisi, cerpen, dan cerbung, terutama cerpen dan cerbung berbahasa Jawa. Telah menerbitkan beberapa karya solo dan antologi berbagai genre.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image