Aku menulis postingan ini di penghujung hari yang sangat panjang. Hari yang penuh aksi yang mencakup menulis dua novel baru berbarengan untuk kontes di platform yang cukup terkenal.
Syukurlah satu novel langsung lolos kontrak eksklusif. Satu lagi aku menunggu kabar dari Editor-in-House platform untuk karya yang kusertakan dalam Kontes Besar.
Terima kasih kepada semua yang telah memberikan dukungan!
Juga persiapan akhir untuk menerbitkan 8 (delapan) buku cetak sekaligus di bulan Februari ini. Rencana abisiusku adalah setiap bulan menerbitkan 3 – 6 buku karyaku.
Belum lagi kemarin ke PERPUSNAS untuk menyerahkan deposit 21 (dua puluh satu) buku terbitan PIMEDIA tahun 2025. Minggu depan ke PUSIPDA JABAR untuk kewajiban yang sama.
Belum lagi kejar tayang berbatas deadline untuk beberapa novel di empat platform.
Banyak hal yang dibutuhkan untuk semua pekerjaan tersebut, jadi aku cukup lelah sekarang.
Aku ingin tidur, tetapi aku akan tetap terjaga dan menulis postingan ini karena aku harus memberi tahu Anda tentang bukuku.
Ya, Anda.
Tujuh buku antologi cerpen berbagai genre khusus spesialisasi Ikhwanul Halim dan satu novel Fiksi Ilmiah Komedi berjudul Kementerian Kemantian akan dirilis, dan dengan itu datanglah campuran antara kegembiraan dan ketakutan.
Bukan ketakutan bahwa orang-orang tidak akan menyukai buku ini. Aku memang khawatir tentang itu, tetapi ketakutan itu umumnya mereda setelah beberapa ulasan bagus. Untungnya, ulasan sejauh ini baik.
Ketakutan sekarang adalah buku itu akan dirilis dan tidak ada yang akan memperhatikannya. Bahwa semua kerja keras … darah, keringat, dan air mata akan sia-sia.
Itu sangat mungkin. Ada banyak buku di luar sana. Menembus tumpukan buku itu tidak mudah.
Bagaimana cara agar buku Anda diperhatikan?
Tidak ada yang benar-benar tahu. Tidak ada formula pasti untuk sukses. Satu-satunya jaminan adalah tidak ada jaminan.
Jadi, mengapa kita melakukan ini sebagai penulis? Mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan?
Aku sering bercanda bahwa dibutuhkan campuran ego yang luar biasa dan keraguan diri yang menghancurleburkan untuk menjadikan seseorang penulis.
Ego muncul ketika Anda membaca buku, atau menonton acara TV atau film, dan berkata, “Aku bisa melakukan lebih baik dari itu.”
Atau, setidaknya, Anda berkata, “Ideku sama bagusnya dengan ide mereka.”
Anda mengatakan itu cukup sering sampai akhirnya Anda mulai menulis, atau mengetik, tergantung situasinya.
Keraguan diri muncul saat Anda menulis, dan kemudian, setelah selesai. Itulah suara yang terus berbisik di telinga Anda, berkata, “Oh, kamu bisa melakukan yang lebih baik, ya? Benarkah? Karena ini bukan lebih baik. Ini lebih buruk.”
Anda membutuhkan kedua suara itu. Yang satu adalah kepercayaan diri untuk memulai. Yang lain adalah dorongan yang membuat Anda terus berkembang. Itulah yang membawa Anda dari satu tempat ke tempat lain.
Dari sisi kepercayaan diri, aku rasa apa yang ingin aku sampaikan layak untuk waktu Anda. Tetapi, terlepas dari ego-ku, aku tidak berpikir aku adalah penulis hebat.
(Oke, oke! kadang-kadang, aku memang berpikir begitu).
Tapi, ketika aku duduk untuk menulis, aku mengingatkan diri sendiri bahwa aku tidak akan membuat dunia gempar dengan prosaku. Terkadang ketika aku membaca buku penulis lain, aku merasa kagum dengan cara mereka menggunakan bahasa.
Ada orang-orang di luar sana yang dapat membuat kata-kata menari. Mereka merangkainya dalam susunan mantra dan membuatnya menghasilkan lebih dari sekadar penjumlahan bagian-bagiannya. Mereka memberi kata-kata—kata-kata individual itu sendiri—lebih banyak kekuatan dariyang aku lakukan, dan aku berpikir, “Begitulah cara seorang penulis sejati melakukannya.”
Selain itu … “Aku belum sampai di sana.”
Tapi, aku tidak bisa berhenti berusaha meraih bintang itu. Dan, mungkin tidak masalah apakah aku berhasil meraihnya atau tidak, karena aku tahu aku punya ide-ide hebat.
Dan, kata-kata tak berarti apa-apa. Tidak ada seorang pun yang bisa mengolah ide-ideku seperti aku. Ketinggian yang bisa kucapai hanya bisa kucapai sendiri.
Tapi, mengapa harus melakukannya? Mengapa aku merasa perlu melakukannya?
Aku tidak bisa memberitahumu alasannya. Aku tidak tahu dari mana kebutuhan itu berasal, tetapi dorongan kreatif—khususnya, keinginan untuk bercerita—adalah bagian dari DNA-ku.
Itu sudah ada sejak aku ingat. Aku yakin bintang rock merasakan hal yang sama tentang musik sejak usia dini (aku pernah bercita-cita menjadi bintang rock), dan koki ulung merasakan hal yang sama tentang makanan (aku nyerah kalau harus menciptakan resep makanan).
Jadi, apa artinya itu? Apakah aku berpikir penulis dilahirkan dan bukan dibentuk?
Tidak.
Yang kupikirkan adalah kita semua dilahirkan dengan cara berpikir tertentu. Kita datang dengan aplikasi tertentu yang sudah terpasang. Itu bukan berarti Anda tidak bisa mengunduh bakat baru seiring berjalannya hidup. Siapa pun bisa melakukan ini kalau dia berusaha keras.
Aku benar-benar percaya itu. Ya, ada orang-orang di luar sana dengan bakat luar biasa yang diberikan Tuhan, tetapi itu bukan jaminan kesuksesan.
Anda bisa memiliki semua bakat di dunia, tetapi jika Anda hanya berpuas diri dan tidak mengembangkannya, itu tidak akan membawa Anda ke mana pun.
Dibutuhkan lebih dari sekadar bakat alami untuk sukses di bisnis ini. Dibutuhkan disiplin, tekad, profesionalisme, dan pemahaman tentang pasar—tidak satu pun dari hal-hal itu yang Anda miliki sejak lahir.
Hal-hal itu tidak datang begitu saja. Anda harus mendapatkannya. Itulah yang aku lakukan.
Aku rasa aku sampai di sini karena keinginan untuk melakukannya lebih dari apa pun. Itulah yang membuatku meluangkan waktu untuk menulis. Aku ingin meluangkan waktu. Tidak peduli seberapa banyak pekerjaan yang aku lakukan, aku tidak pernah merasa cukup. Aku selalu bisa melakukan lebih banyak.
Anda tidak perlu dilahirkan dengan apa pun jika Anda bersedia meluangkan waktu dan melakukan pengorbanan apa pun yang perlu dilakukan.
Intinya, aku rasa penulis tidak dilahirkan. Aku rasa penulis dibentuk. Oleh diri mereka sendiri.
Orang menjadi penulis karena mereka harus. Karena sebagian dari diri mereka, untuk alasan apa pun, ingin menceritakan kisah dan tidak akan berhenti membicarakannya.
Kalau Anda seorang penulis, Anda tahu apa yang kumaksud. Otak Anda tak akan pernah meninggalkan Anda sendirian karena ada sebuah cerita, atau bagian dari cerita, atau mungkin hanya sebuah ide … dan kamu harus mengerjakannya sampai cerita yang akhirnya tertulis di kertas sesuai dengan cerita yang ada di kepala Anda.
Mengapa semua ini begitu penting bagi kita para penulis? Mengapa semua ini diperlukan?
Aku tidak tahu.
Mengapa orang mendaki gunung? Karena gunung itu ada di sana.
Bagi para penulis, cerita-cerita itu ada di sana. Atau, mungkin tidak ada di sana, tetapi sesuatu dalam sifat kita membenci kekosongan itu dan perlu mengisi kekosongan itu dengan kata-kata.
Tidak penting dari mana semua itu berasal. Lagipula, kita tidak bertanya dari mana gunung berasal. Gunung itu hanya ada di sana.
Maka para pendaki mendaki.
Dan para penulis menulis. Mereka tidak bisa menahan diri.
Kreativitas adalah sebuah dorongan. Promosi di sisi lain … adalah sebuah kebutuhan.
Yang mengingatkanku, seharusnya dari tadi aku memberitahu Anda tentang buku baruku. Bah!
Jawa Barat, 27 Januari 2026











