Home / Fiksi / Cerbung / 4. Candi Kedulan, Setiap Belokan Punya Alasan

4. Candi Kedulan, Setiap Belokan Punya Alasan

MELUKIS JEJAK - TARI ABD
This entry is part 5 of 13 in the series Melukis Jejak

Mobil Nadia melambat ketika rombongan di depannya tiba-tiba membelok ke arah kiri. Lampu sein beberapa kendaraan menyala hampir bersamaan, seolah memberi isyarat yang telah disepakati tanpa kata. Di balik deretan pohon dan hamparan sawah yang mulai menguning, sebuah papan kecil bertuliskan Candi Kedulan muncul samar. Komunitas Dewa Siwa yang sejak tadi memimpin perjalanan memutuskan singgah. Nadia saling pandang dengan Leon sesaat, lalu tersenyum. Tanpa banyak tanya, ia ikut membelokkan setir.

Begitu mesin dimatikan, suasana berubah. Udara terasa lebih sejuk, membawa aroma tanah basah dan rumput liar. Di hadapan mereka, sebuah bangunan candi berdiri setengah terpendam, seolah enggan sepenuhnya bangun dari tidurnya yang panjang. Anggota komunitas Dewa Siwa turun satu per satu, wajah mereka memancarkan antusiasme yang tenang, mewakili rasa hormat pada ruang yang akan mereka masuki.

Kali ini candi yang dikunjungi berada di Dusun Kedulan, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman. Berada di antara pemukiman dan area persawahan warga. Meskipun ditemukan di lahan gersang, dan tertimbun sekitar tiga hingga tujuh meter di bawah permukaan tanah karena  letusan Gunung Merapi bertahun-tahun. Namun, sekarang candi ini sudah menjadi situs cagar budaya yang terus mengalami pemugaran.

Nanang yang lebih banyak mengetahui seluk beluk candi, menjelaskan bahwa candi ini merupakan peninggalan bercorak Hindu yang dibangun sekitar abad ke-8 hingga ke-9, pada masa kejayaan Kerajaan Mataram Kuno. Jika dilihat dari gaya arsitekturnya, tampak jika  Candi Kedulan memiliki kemiripan dengan beberapa candi lain yang juga menjadi saksi sejarah berkembangnya agama Hindu di Jawa pada masa itu.

Dari hasil penelitian, tanah di sekitar candi memiliki 13 lapisan berbeda, yang menunjukkan bahwa wilayah ini beberapa kali tertimpa letusan besar Merapi yang begitu dahsyat hingga menutupi kawasan luas dengan material vulkanik. Jadi, bisa dibayangkan betapa panjang proses alam yang membuat candi ini sempat “hilang” dari permukaan bumi.

Penemuan kembali Candi Kedulan terjadi secara tidak sengaja. Pada 24 November 1993 beberapa penambang pasir di Desa Tirtomartani menemukan batu-batu kuno di lahan gersang yang merupakan tanah bengkok milik desa.

Setelah diperiksa oleh tim dari SPSP Prambanan diketahui bahwa sekitar 85 persen batu asli candi masih utuh, meskipun posisinya sudah tercerai-berai. Temuan ini dianggap sangat berharga, sehingga pemerintah memutuskan untuk segera melakukan proses pemugaran agar candi dapat berdiri kembali seperti semula.

Selama proses penggalian, para arkeolog menemukan sejumlah benda penting yang memperkaya informasi tentang sejarah candi ini, termasuk ditemukannya dua prasasti yang ditulis dengan aksara dan bahasa Jawa Kuno pada tahun 2003. Kedua prasasti itu diberi nama Prasasti Pananggaran dan Prasasti Sumundul, yang bertanggal 15 Agustus 868 Masehi.

Isinya menceritakan tentang pembebasan pajak tanah di dua wilayah, yaitu Desa Pananggaran dan Desa Parhyangan. Tanah itu dibebaskan untuk mendukung pembangunan bendungan, irigasi, serta pendirian bangunan suci bernama “Tigaharyyan.” Informasi ini memberi gambaran bahwa kawasan sekitar Candi Kedulan dulunya merupakan wilayah penting bagi kehidupan masyarakat agraris pada masa Kerajaan Mataram Kuno.

Kemudian pada tahun 2015 ditemukan lagi satu prasasti baru yang disebut Prasasti Tlu Ron, bertanggal 30 Maret 900 Masehi. Isi prasasti tersebut berkaitan dengan perbaikan bendungan serta penetapan tanah perdikan untuk bangunan suci “Tiga Ron”.

Berdasarkan isi kedua prasasti sebelumnya, kemungkinan besar nama asli candi ini dahulu adalah Parhyanan i Tigaharyyan atau Parahyanan Haji i Tlu Ron, yang berarti “tempat suci di Tigadaun”. Nama tersebut menggambarkan fungsi candi sebagai tempat pemujaan dan pusat kegiatan spiritual kerajaan.

Leon menunjuk pada sebuah candi kecil yang berada di sebelah selatan candi Kedulan, “Ist dies das Kind des Tempels?”

Aku tertawa geli. “Itu bukan anak candi, itu namanya candi perwara.”

“Candi Perwar?”

“Candi perwara adalah candi-candi kecil yang berukuran lebih kecil daripada candi utama dan berfungsi sebagai candi pelengkap atau pengawal di sekitar candi utama. Umumnya, candi perwara ditemukan dalam jumlah banyak,” ujarku menjelaskan. Leon mengangguk, laluengikuti Nanang yang berjalan di depan sambil menjelaskan setiap detail bangunan candi.

“Pada tahun 2020, pemugaran dilanjutkan ke bagian candi pewara yang berada di sekitar bangunan utama. Bentuk bangunan yang kokoh, relief yang halus, dan tata letaknya yang teratur menjadi bukti bahwa masyarakat pada masa itu sudah memiliki kemampuan teknik dan seni yang tinggi.” Kali ini Agung melanjutkan penjelasan Nanang.

Namun,  menurut Agung, Candi Kedulan punya ciri khas yang menonjol berupa hiasan relief berbentuk mulut kala atau wajah raksasa. Dalam kepercayaan Hindu, sosok kala biasanya melambangkan penjaga atau pelindung dari kekuatan jahat. Hiasan seperti ini umumnya ditempatkan di bagian atas pintu masuk candi. Keberadaan relief kala di Candi Kedulan menunjukkan bahwa bangunan ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tapi juga dipercaya memiliki kekuatan spiritual untuk melindungi area di sekitarnya.

Candi Kedulan menghadap ke arah timur, memiliki makna simbolis yang penting dalam ajaran Hindu, karena timur dianggap sebagai arah matahari terbit dan lambang kehidupan baru.

Dugaan arah hadap ini diperkuat oleh penemuan arca Ganesha yang berada di sisi barat bilik utama candi, dalam struktur candi Hindu, posisi arca Ganesha biasanya memang diletakkan di sisi barat ruang utama, sehingga hal ini memperkuat dugaan orientasi bangunannya.

Bentuknya cukup sederhana, berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 4 x 4 meter. Dari hasil rekonstruksi, diketahui bahwa kompleks Candi Kedulan terdiri dari satu candi induk dan tiga candi perwara yang berada di sisi timurnya. Tata letak seperti ini umum ditemukan pada candi-candi Hindu. Meskipun ukurannya tidak terlalu besar, susunan arsitekturnya menunjukkan keseimbangan dan ketepatan perhitungan yang luar biasa.

Di bangunan utama, para arkeolog juga menemukan berbagai benda peninggalan penting di sekitar lokasi penggalian. Beberapa di antaranya adalah Lingga-Yoni yang menjadi simbol penyatuan antara Dewa Siwa dan Dewi Parwati, lambang keseimbangan antara laki-laki dan perempuan dalam kosmologi Hindu.

Ada juga arca Durga Mahisasuramardini yang menggambarkan Dewi Durga sedang membunuh raksasa bertubuh kerbau, simbol kemenangan kebaikan atas kejahatan. Selain itu, ditemukan pula arca Nandiswara, Makara, Ganesha, dan Agastya. Semua temuan ini semakin menegaskan bahwa Candi Kedulan merupakan candi bercorak Hindu yang kemungkinan besar dipersembahkan untuk Dewa Siwa.

Karena banyak hal yang belum diketahui, Leon menanyakan satu demi satu tentang arca Durga Mahisasuramardini, Nandiswara, MakAra, Ganesha, dan Agstya. Aku berjanji menjelaskan setelah perjalanan ini selesai karena akan ketinggalan rombongan jika harus mengulas satu demi satu.

Mengelilingi candi memakan waktu hampir satu jam, meski tidak besar tapi banyak hal menarik yang dicatat. Candi Kedulan menjadi salah satu bukti nyata sejarah yang masih bisa kita lihat dari dekat. Bukan hanya penting bagi penelitian, tapi juga menarik untuk dikunjungi siapa pun yang ingin mengenal peninggalan masa Kerajaan Mataram Kuno. Lewat Candi Kedulan, kita bisa belajar bahwa warisan sejarah tetap bisa hidup kalau dijaga dengan baik.

“Ini bukan sekadar singgah,” ujar salah satu dari anggota komunitas saat Nanang mengakhiri penjelasannya. Laki-laki berwajah oriental yang mengenalkan diri bernama Kyoto itu tersenyum pada Nadia. “Setiap belokan selalu punya alasan.”

Kalimat itu membuat langkah Nadia terasa lebih ringan sekaligus lebih waspada. Ia mengikuti rombongan menyusuri jalur kecil, mendengarkan cerita tentang Kedulan yang lama tersembunyi di bawah lahan pertanian, tentang batu-batu yang kembali ke cahaya setelah ratusan tahun. Percakapan meninggalkan area candi masih mengalir hangat, kadang diselingi tawa, kadang terhenti oleh keheningan yang justru terasa sakral.

Leon tampak terpukau, sementara Nadia mulai menyadari bahwa eksplorasi kali ini berbeda. Bersama komunitas Dewa Siwa, perjalanan bukan lagi sekadar mencatat lokasi atau mengambil gambar. Ada cara pandang lain yang ditawarkan: melihat situs sebagai makhluk hidup, menyentuhnya dengan rasa, bukan hanya mata. Di Candi Kedulan, petualangan mereka berubah arah menjadi lebih dalam, lebih seru, dan penuh kemungkinan yang tak terduga.

Melukis Jejak

. Kidung Siwa di Situs Potro . Wanurejo, dari Wisata Andong ke Etalase UMKM

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image