Beranda / Fiksi / Puisi / Psikososial dan Degradasi Lingkungan dari Buku Pelajaran

Psikososial dan Degradasi Lingkungan dari Buku Pelajaran

Psikososial dan Degradasi Lingkungan dari Buku Pelajaran

Buku pelajaran sudah menasihatkan
semenjak pendidikan dasar
Bu Guru jelas berujar
pepohonan memiliki akar
kuat, panjang, menjalar
mencengkeram tanah

“Apa fungsi hutan, anak-anak?”
“Mencegah banjir dan longsor,” jawab kami serempak
agaknya ada satu yang tak menyimak
lalu menyangka semua tumbuhan kompak
berakar, menahan tanah tak banyak gerak
pohon pisang, ketela, pepaya, palem
mungkin juga pohon bonsai

tiba-tiba tahun 2025 saja
tiba-tiba bencana alam jadi berita utama
tiba-tiba tertayang di media massa
tiba-tiba terngiang petuah sang gurunda
penggundulan hutan andil terjadinya malapetaka
tiba-tiba kubanting prasangka ke atas meja
mengumpat tanpa bernyali mengalih suara:
manusia dan penguasa
siapa pun yang punya kuasa
meja mengaduh dan menyodorkanku saran:
ujaranmu mengapa tidak kau tuturkan dalam aksara
biarkan puisi berbicara
dengan gayanya

Desember berkisah dengan serentetan headline news
November 2025, ya, Aceh Tamiang1)
hampir lima ribu rumah hilang
4.839 atap tempat keluarga pulang
lenyap dilahap gelombang
banjir bandang
raib dipendam tanah air sendiri
meski berbeda latar belakang tragedi
mengingatkan kita pada semburan lumpur Lapindo
di timur Jawa, Sidoarjo
berapa desa di Aceh Tamiang yang tak terlihat mata telanjang?
hening datang tanpa berpikir panjang…

Petaka dahsyat masih belum hendak tamat
banjir bandang berduyun-duyun menyambang
Sumatera Barat yang semula tenang
775 rumah hanyut disapu gelombang 2)
lima ribu rusak berat, entah berapa raga tumbang
serentak berpulang
kalian tak usah menuding siapa jadi dalang:
cuaca ekstrem! bukan!!
degradasi lingkungan memperparah itu semua 3)
intensitas hujan dan kondisi alam dewasa ini
yang rusak di tangan orang dewasa
namun dipelajari sejak masa anak dan remaja

hujan sungguh luar biasa!
ya, namun alam semesta mencakup manusia
sementara nas menyebutkan kita pembuat kerusakan
di muka bumi
bila engkau berkelit lalu berkata pahit:
mengapa selalu mengaitkannya dengan religi?
jawabku cuma satu:
“bacalah, Al Quran dalam Surat Ar-Rum: 41”
telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia

andai engkau masih mendebat:
berarti memang sudah begitu, bisa apa kita?
aku masih ingin menjawab:
kita dapat menahan egoisme dan desakan perut
yang menggerakkan kaki tangan
membuahkan kesengsaraan

Januari menimpali enggan kalah
duka cita belum juga pergi jauh
musibah tanah meluruh turut bergemuruh
Purbalingga, banjir menerjang 4)
menghajar dua desa, Sangkanayu dan Serang
kayu gelondongan tak lupa disanggang

aku ingin mencukupkan lebih dahulu
tinta sejarah dalam sajak kelu
tengok jendela hari ini
Cisarua, Bandung Barat dirundung longsor 5)
24 Januari, tahun baru berganti
tanah mendekap erat puluhan rumah
dalam dini hari dalam sunyi kala warga bermimpi
inikah penjelas buku-buku pelajaran?
ketika Gunung Burangrang putus harapan
lerengnya beralih fungsi lahan
kebun palawija melengserkan hutan
mungkin, mungkin, pengolahan itu lebih menghasilkan
ya, namun selalu dengan tetapi:
tanpa kebijaksanaan dan dengan ketamakan
mala adalah keniscayaan

Tidak lupa kulambaikan tangan perhatian
kepada Kalimantan Selatan
kiranya ikut dihadapkan sebuah persoalan
deforestasi dan pertambangan
banjir menjadi jawaban di Banjar, Tabalong 6)
Banjar, Balangan, Hulu Sungai Utara, Banjarmasin, dan lain-lain

bukti terpampang tanpa perlu berbual-bual sabda
beradu argumentasi tentang penyebab semuanya
citra lahan yang berkurang hijau
kayu-kayu gelondongan, sampah, memeriahkan pergelaran bala
air bah mengubah anugerah

tidakkah kita tergugah
mencintai alam menadah berkah.

Bogor, 25 Januari 2026 (21.50)

Catatan:
1) Berita di harian Kompas, 30 Desember 2025. https://nasional.kompas.com/read/2025/12/30/13205331/aceh-tamiang-usai-banjir-4839-rumah-hilang-beberapa-desa-betul-betul-raib
2) Berita di Detik.com. https://news.detik.com/berita/d-8309836/gubernur-sumbar-ungkap-5-ribu-rumah-rusak-berat-akibat-bencana-775-hanyut
3) Simpulan analisis tentang faktor dan penyebab bencana di teks eksplanasi pada website Universitas Negeri Surabaya. https://s3pendsains.fmipa.unesa.ac.id/post/banjir-besar-di-sumatra-2025-penyebab-dampak-pelajaran-penting
4) Isi berita banjir di Kabupaten Purbalingga, https://news.detik.com/berita/d-8323045/banjir-bandang-di-purbalingga-bawa-kayu-gelondongan
5) Berita tanah longsor terbaru di Bandung Barat sesuai informasi di https://ihram.co.id/penyebab-longsor-cisarua-bandung-barat-diduga-alih-fungsi-lahan
6) Banjir Kalimantan Selatan. https://mongabay.co.id/2026/01/12/banjir-kalimantan-selatan-buah-pembiaran-kerusakan-lingkungan/

Penulis

  • Wijatmoko Bintoro S

    Wijatmoko berasal dari Magelang yang merantau dan menjadi penduduk Tanjung Priok, Jakarta Utara. Wijatmoko telah membuahkan sepuluh buku karya tunggal bergenre prosa, puisi, dan pantun. Beberapa tulisannya sempat tersimpan di sebuah blog pribadinya yang gagal dimasuki karena dia kehilangan kuncinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *