Begitu sampai di rumah ibu tirinya dia disambut dengan suka cita.
“Mari masuk, Nak.” Wanita itu mengajak Silvia duduk di ruang tengah. Tidak lupa dia menyuguhkan secangkir teh hangat.
“Sayang, kenapa kamu datang dengan membawa koper? Ada apa? Pernikahanmu dengan Nak Pazel baik-baik saja, kan?” Pertanyaan itu diutarakan ibu tirinya yang bernama Bu Iyes, saat mereka sedang duduk di ruang tamu.
Rumahnya hanya mempunyai dua kamar tidur dan satu kamar mandi. Ibu tirinya tinggal berdua dengan adik tirinya satu ayah lain ibu. Adik tirinya bernama Tiara, baru berumur lima belas tahun. Mereka hidup sangat sederhana.
Ayah kandung Silvia pergi dari rumah semenjak adiknya berumur lima tahun.
Semenjak ayahnya tidak pulang dari sepuluh tahun yang lalu, dialah yang menjadi tulang punggung keluarganya. Sampai setelah dia menikah, dia masih membiayai ibu dan adik tirinya dengan uang belanja bulanan yang dia terima dari Pazel.
Meskipun uang bulanan yang dia terima tidak seberapa, tapi dia cukup pintar mengelola keuangan, hingga dia bisa menyisihkan untuk keluarganya.
Silvia menceritakan semua yang terjadi dalam rumah tangganya.
Air matanya tak hentinya mengalir. Bagaimanapun juga, dia sudah melabuhkan perasaannya kepada suaminya. Sungguh di luar dugaannya badai akan datang dalam pernikahannya.
Hatinya belum sepenuhnya siap untuk menghadapi cobaan yang berat itu. Seberapa kuat pun dia berusaha untuk tegar, tetap saja air matanya sulit dia kendalikan. Bukan karena cengeng, namun itulah lambang kekuatannya. Air mata yang melambangkan kekuatan hati seorang wanita.
“Astaga, Nak. Ibu tidak menyangka Bu Rohana yang terlihat baik ternyata aslinya sejahat itu. Dan suami kamu, bukannya berusaha untuk membahagiakanmu, malah dia pula yang berulah. Ibu akan mendatangi mereka. Mereka harus bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Mereka tidak bisa semena-mena seperti ini.”
“Tidak, Ibu. Aku tidak mau lagi kembali ke rumah itu. Aku juga tidak mau ibu datang ke rumah itu. Aku sudah ikhlas menerima semua ini. Mungkin ini sudah takdirku, Bu.” Air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan.
“Baiklah, Nak. Jika memang kamu maunya seperti itu. Ibu tidak akan ke sana. Ibu hanya ingin kamu bahagia. Semua keputusan ada di tangan kamu.”
Dipeluknya anak yang sudah dianggap seperti anak kandung itu. Dia menerima Silvia dengan tangan terbuka.
Perkataannya yang lembut dan pelukan hangatnya membuat Silvia merasa nyaman dengan ibu tirinya.
“Baiklah Nak, sekarang kamu tenangkan dirimu dulu. Sehabis itu baru kita pikirkan langkah selanjutnya.”
“Bu, sekarang aku akan mencari pekerjaan untuk menyambung hidup kita, karena aku gak akan dapat uang belanja bulanan lagi dari bang Pazel,” ucap Silvia seraya mengusap air matanya.
“Bagaimana dengan luka di kakimu, Nak? Sebaiknya kamu tunggu sampai kakimu sembuh baru kamu mencari pekerjaan. Ibu masih ada sedikit uang, dari sisa uang belanja yang kamu transfer buat ibu. Ibu juga masih menerima cuci setrika dari para tetangga. Kita kan gak harus bayar kontrakan. Ibu rasa uang itu cukup untuk biaya hidup kita.” Bu Iyes tidak tega melepas anak tirinya mencari pekerjaan dengan kaki yang masih luka.
Tapi bukan Silvia namanya jika tidak keras kepala. Dia memang feminin, namun sifatnya sangat tegas dan kemauannya sangat kuat. Hanya saja dia tipe wanita yang gampang mengeluarkan air mata.
“Tidak Bu, ini hanya luka kecil. Tidak masalah kok, Bu.”
Tiba-tiba, ada suara yang menyela dari arah pintu.
“Apa Bang Pazel yang melakukannya Kak? Biar aku hajar dia!” ucap gadis tomboi yang baru datang dengan amarahnya yang berapi-api.
Silvia senang sekali mendengar adik tirinya membelanya. Tapi dia harus meredam amarah Tiara. Jika tidak dia benar-benar akan mencari Pazel dan menghajarnya.
“Tidak Dek, ini karena jatuh dari ojek, kok. Sini adik kakak tersayang.”
Silvia membentangkan tangannya menyambut pelukan sayang dari adik tiri yang sangat dia sayangi.
Melihat anak kandung dan anak tirinya saling menyayangi, membuat Bu Iyes sangat bahagia dengan senyuman yang tulus.
Dia ingin bergabung dengan anak-anaknya.
“Kalian ini, ya. Kalau sudah bertemu pasti seperti Teletubbies. Mana gak ngajak-ngajak Ibu lagi!”
Seketika mereka memeluk Bu Iyes. Kehangatan seperti ini sudah lama dirindukan Silvia. Kehangatan yang tidak dia dapatkan dari mertuanya.
Dia terbayang lagi akan sikap mertuanya yang selalu merendahkannya. Sejak setahun yang lalu, Bu Rohana selalu mengungkit masalah kehamilan yang tidak kunjung datang.
Tuhan belum memberi kepercayaan kepadanya untuk menitipkan seorang bayi. Padahal dia sudah berusaha keras. Bahkan dia harus rela minum jamu yang sangat pahit yang diberikan mertuanya setiap hari. Semua itu dia lakukan demi menyenangkan suami dan mertuanya.
Dia rela melakukan semua itu walau dia tahu semua itu mustahil, karena Zulmi-lah yang tidak mampu untuk membuahi rahimnya. Dia berharap ada keajaiban dari Yang Maha Kuasa.
Sekarang dia tahu alasan Yang Maha Kuasa belum mau menitipkan seorang bayi kepadanya, karena Pazel bukan suami yang baik.
Lamunan Silvia seketika buyar saat mendengar ucapan salam dari arah pintu.
“Assalamu’alaikum!”
Terdengar ucapan salam yang sangat keras dari arah pintu yang tak jauh dengan mereka duduk.
Silvia merasa suara itu tidak asing di telinganya. Apa mungkin dia? Bukankah dia di luar negeri? Kenapa suara itu persis sekali dengan suaranya?
Atau aku hanya salah mendengar? Mungkin juga itu orang lain. Tidak mungkin dia ada di sini.
Mereka bertiga melepaskan pelukan dan serempak menjawab salam.
“Wa’alaikummussalam.”
Saat mereka menoleh, ternyata orang yang ada di pintu adalah sosok yang sangat mereka kenal. Sosok yang tidak asing bagi Silvia. Dia adalah orang yang selalu memberikan warna dalam hidupnya.










