Beranda / Genre / Religi / Jerit Tangis

Jerit Tangis

Jerit Tangis
1

Dan perumpamaan bagi (penyeru) orang yang kafir adalah seperti (penggembala) yang meneriaki (binatang) yang tidak mendengar selain panggilan dan teriakan. (Mereka) tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak mengerti. – Q.S. Al Baqarah 2:171


Nama bocah laki-laki itu adalah Adil, meskipun tidak ada yang memanggilnya dengan nama itu selama bertahun-tahun.

Bagi para petani di pinggir desa, dia adalah “gembala.” Sosok penyendiri yang membimbing domba-domba melewati perbukitan yang membisu, berbicara sedikit, tidak meminta apa pun. Ada yang bilang dia telah kehilangan keluarganya. Yang lain mengatakan dia tidak pernah punya keluarga.

Tapi semua orang sepakat pada satu hal. Adil tidak mendengarkan. Tidak kepada manusia, tidak kepada Tuhan, bahkan tidak kepada guntur.

Dia tuli, atau begitulah anggapan mereka.

Dia tidak tuli.

Bukan dalam arti yang mereka maksudkan.

Dia mendengar mereka, hanya saja bukan seperti yang mereka inginkan. Peringatan mereka. Khotbah mereka. Salam setengah hati mereka. Mereka sampai kepadanya seperti gema jauh yang memantul dari dinding ngarai. Datar, terdistorsi, tanpa makna.

Dan begitulah dia mengembara, dari padang rumput ke padang rumput. Seorang anak laki-laki yang tumbuh menjadi seorang pria tanpa jangkar. Kawanannya, yang tersebar dan tidak terlatih, menirunya. Buta terhadap bahaya, tuli terhadap perintah, berlari liar ketika seharusnya diam.

Suatu malam musim hujan, saat langit berubah warna menjadi kelabu, Adil melihat seekor anak domba yang baru lahir gemetar di atas bebatuan.

Anak domba telah mengembara terlalu jauh, mengikuti bayangan yang salah.

Adil secara naluriah memanggil, seperti yang pernah dilakukan ayahnya. Jelas, tajam, tak ada kekeliruan dalam suaranya.

Tetapi anak domba itu tidak menjawab. Berdiri membeku, terjebak antara naluri dan ketidaktahuan, sampai seekor elang menukik rendah dan mengakhiri keraguannya.

Adil tidak menangis. Tetapi sesuatu di dalam dirinya hancur.

Dia membawa tubuh mungil itu pulang dalam diam. Malam itu, di samping perapian yang tidak menyala, dia mengingat waktu lain.

Sebuah suara—suara seorang wanita—menangis saat melahirkan. Seorang pria berteriak meminta bantuan. Keheningan yang menyusul.

Dia baru berusia tujuh tahun.

Tidak ada yang datang.

Keesokan harinya, sesuatu berubah.

Dia tidak membawa domba-domba itu keluar. Sebaliknya, dia mendaki jalan setapak tua yang mengarah ke atas tebing. Di saku mantelnya ada gulungan usang, salah satu dari sedikit barang yang masih dimilikinya.

Seorang pengkhotbah keliling telah memberikannya kepadanya bertahun-tahun yang lalu—ketika Adil masih cukup muda untuk berpura-pura mengerti.

Namun akhir-akhir ini, dia mulai melihatnya lagi.

Ayat itu selalu membuatnya terdiam.

Surah Al-Baqarah, 2:171.

Dia menganggapnya kejam pada awalnya. Bukankah terlalu kasar membandingkan manusia dengan hewan ternak?

Tapi sekarang dia tidak begitu yakin.

Karena dia telah mengalaminya.

Dia telah menjadi seperti itu.

Seorang anak laki-laki yang pernah percaya. Kemudian berhenti. Bukan karena logika. Tetapi karena suara yang memanggilnya tidak pernah menembus kebisingan luka hatinya sendiri. Seperti teriakan gembala yang sampai pada telinga yang memilih untuk tidak mendengar.

Malam itu, Adil berdiri di tepi tebing dan berteriak.

Bukan kepada angin. Bukan kepada desa.

Tetapi kepada Tuhan.

Tanpa kata-kata indah. Tanpa doa yang dipersiapkan. Hanya sebuah tangisan, serak dan parau, yang muncul dari tempat di mana semua hal yang hilang tertidur.

Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, dia merasakan gema itu kembali. Bukan dalam suara—tetapi dalam keheningan.

Seperti jeda antara kilat dan guntur.

Seperti seseorang akhirnya mendengarkan.

***

Minggu-minggu berlalu. Kawanan domba menjadi lebih tenang.

Adil mulai mengajari para gembala muda bagaimana membimbing kawanan mereka. Bukan dengan berteriak, tetapi dengan kesabaran. Dengan pengertian.

Penduduk desa memperhatikan.

Dia berbicara sekarang. Tidak banyak. Tetapi cukup.

Cukup untuk berbagi perumpamaan tentang domba yang tidak menanggapi, dan elang yang tidak pernah menunggu.

Cukup untuk mengingatkan mereka bahwa terkadang, mereka yang tampak tuli hanya menunggu suara yang tahu bagaimana memanggil.

***

Perumpamaan ini menggambarkan keadaan spiritual orang-orang yang berpaling dari petunjuk ilahi. Mereka mungkin hidup secara fisik, tetapi secara batiniah, kemampuan mereka tidak responsif. Seperti ternak yang mendengar suara tetapi tidak memahami maknanya. Seruan kebenaran mencapai telinga mereka, namun hati mereka tertutup.

Dalam kisah Al-Qur’an tersebut, pematung itu berseru bukan hanya kepada orang banyak, tetapi kepada hati nurani manusia yang lebih dalam yang menolak untuk terbangun. Jeritannya menggemakan misi Nabi. Menyerukan peringatan, mendambakan respons, tetapi hanya menerima keheningan atau ejekan.

Al-Quran di sini melukiskan potret yang mengerikan. Bukan hanya tentang ketidaktahuan, tetapi juga tentang perlawanan yang disengaja. Tuli terhadap akal sehat. Bisu dalam tanggung jawab. Buta terhadap konsekuensi.

Mereka menjadi seperti makhluk yang bereaksi terhadap kebisingan tetapi tidak terhadap makna.

Ini bukan hanya tentang kekafiran. Ini tentang kehilangan kemampuan untuk memahami kebenaran sama sekali. Suatu kondisi yang muncul bukan karena kurangnya kecerdasan, tetapi karena pengabaian jiwa yang terus-menerus.

Sebagian orang kehilangan iman bukan karena mereka tidak mendengar kebenaran, tapi karena mereka telah dimarahi ketika membutuhkan kelembutan, atau diabaikan ketika mereka berseru dalam diam.

Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa tuli rohani bukanlah suatu kekurangan. Seringkali itu adalah bentuk pertahanan.

Tetapi selalu ada harapan. Bahkan hati yang tuli pun ingat bagaimana mendengarkan ketika suara itu cukup akrab, atau ketika rasa sakit menjadi terlalu tajam untuk diabaikan.

Janganlah kita berteriak ke dalam kehampaan.

Marilah kita berbicara kepada hati.

Dan semoga kita tidak pernah menjadi kawanan yang mengabaikan panggilan gembala.


Perenungan

1. Pernahkah Anda menenggelamkan kebenaran yang menyakitkan dengan meningkatkan kebisingan kehidupan—pekerjaan, hiburan, gangguan—hanya untuk menghindari menghadapinya? Apa yang Anda korbankan pada akhirnya?

2. Dengan cara apa kita, secara sadar atau tidak sadar, dapat menjadi seperti ‘tuli, bisu, dan buta’ yang digambarkan dalam perumpamaan. Bukan secara fisik, tapi secara spiritual dan emosional?

3. Apa yang dibutuhkan agar kita benar-benar dapat mendengar suara Tuhan lagi, meskipun suara itu datang dalam balutan guntur, kesedihan, atau tangisan seseorang yang kita abaikan?

Penulis

  • Alexis

    Pengarang  novel Lamaran atau Pinangan? (Pimedia, 2022) dan (Deception) Ingkar Jodoh (Pimedia, 2022). Segera terbit, Penyintas Terakhir.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *