Sekali lagi penulis rindu untuk menulis sebuah opini tentang doa, sarana komunikasi kita dengan Tuhan yang sering terlupakan atau malas kita lakukan. Ada banyak sekali alasan untuk (tidak) berdoa. Mengapa penulis tambahkan kata ‘tidak’? Manusia senang sekali berkomunikasi dengan sesama. Entah kekasih, pasangan hidup, anggota keluarga, rekan-rekan, apalagi bestie. Sehari saja gak ngobrol atau chat, rasanya aneh, ada yang kurang sreg. Seperti sedang marahan atau gak kompak. Takut dikira sombong atau lagi ngambek. Pokoknya harus komunikasi. Chat lama gak dibalas, bawaan mudah curiga. Lagi ngapain dia, apakah ada yang lain di hatinya?
Bagaimana dengan doa, komunikasi dengan Sang Pencipta?
“Ah, Tuhan ‘kan kayak gak ada. Doa kayak bicara sendiri, gak ada yang peduli atau menyahut. Jawaban-Nya mana? Saya jadi malas.”
“Kebanyakan doa dikira sok alim atau religius. Apalagi kalo doa gak juga dijawab-Nya. Malah saya ditertawakan orang-orang, dianggap gila kali ya.”
“Ribet ah. Harus gini-gitu dulu, Tuhan kayak bos saya aja. Kalo memang Dia hebat, saya maunya Tuhan langsung jawab aja.”
Itulah beberapa saja dari sekian alasan klise mengapa banyak kita tidak berdoa. Padahal, ada jauh lebih banyak lagi alasan untuk berdoa, tidak melewatkan doa, serta mempercayai kuasa doa:
- Doa adalah pertolongan pertama yang dapat dilakukan siapa saja, di mana saja, kapan saja, dengan cara apa saja, selalu sampai kepada Tuhan. Dilakukan siapa saja berarti tak ada batas boleh-gak boleh atau bisa-gak bisa. Tidak seperti manusia yang sukar ditemui secara langsung, akses komunikasi mudah terputus, WA hanya centang abu-abu satu atau centang dua biru tapi dicuekkin, Tuhan menerimamu apa adanya. Caranya terserah Anda; berlutut, duduk atau berdiri, lagi gak sanggup semuanya karena sakit, sambil tiduran juga oke. Mau bisik-bisik atau bicara (asal tidak mengganggu sekitar, dilakukan di tempat yang nyaman serta layak) bahkan hanya menangis saking sedihnya juga sah-sah aja. Most of all, doa selalu sampai kepada Tuhan. Kok bisa? Tentu saja, bukankah Dia Sang Maha Tahu?
2. Doa tidak hanya asal-asal, harus sefrekuensi dengan Firman Tuhan agar beresonansi dengan kehendak-Nya. Belajar dari pengalaman pribadi hobi bermusik, kita ibarat sebuah biola atau alat musik dawai lainnya. Kita punya senar masing-masing yang berbunyi sesuai default-nya. Gak bisa suka-suka mau nada apa. Akan tetapi seringkali kita menolak untuk di-stem atau disetel oleh Tuhan. Padahal untuk menghasilkan nada yang tepat (doa terjawab) kita harus beresonansi dengan Tuhan. Biarkanlah Dia menyetel hidup kita. Jangan mau-mau kita sendiri. Apabila kita senada dengan Tuhan, resonansi-Nya akan bergema dalam hidup kita. Perumpamaan lain lagi, hati-hidup kita ibarat sebuah layar/monitor komputer. Warna dan resolusinya harus dikalibrasi oleh seorang ahli agar selaras dengan apa yang akan kita hasilkan (misalnya print kertas). Siapa ahli komputer kita? God and God alone. Kita seringkali kurang sabar saat Tuhan menyetel hidup kita. Let Go, and Let God.
3. Doa bukan first come first serve seperti prinsip manusia dalam bisnis dan banyak hal. Doa adalah everytime/everyone come, one by one served. Tidak all at once served, mengapa? Tuhan punya rencana indah berbeda-beda bagi setiap orang. Ada yang tampak sukses sehat berbahagia, tiba-tiba roda hidupnya berputar ke bawah. Sebaliknya, yang hidupnya biasa-biasa saja, seketika Tuhan berkenan mengangkatnya ke posisi lebih baik. Ada doa terjawab cepat, ada pula yang sepertinya lama. Ada jawaban doa yang sesuai harapan kita, ada yang tidak. Semua adalah misteri-Nya Tuhan.
Keyakinan kita bahwa Doa dijawab-Nya adalah sebuah afirmasi, ketekunan kita berdoa sampai Tuhan menjawabnya adalah sebentuk integritas. Agar doa dijawab, afirmasi dan integritas itu harus berkelanjutan, dilakukan dengan tulus hati, dipanjatkan dengan penuh kesabaran sambil bersyukur pada berkat-berkat yang telah kita terima.
Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.
Tangerang, 3 Maret 2026











