Beranda / Genre / Young Adult / Gamis Warna Krem dan Horor Kapan Nikah

Gamis Warna Krem dan Horor Kapan Nikah

Gamis Warna Krem dan Horor Kapan Nikah
1

“Li, lihat nih ! Diskon 70% sebelum jam 12 malam! Tinggal 3 jam lagi! Kudu cepet-cepat dikeranjangin ini!” teriak Rani yang asyik memantau marketplace sambil rebahan di sofa.

“Tenang, tiga jam itu masih lama. Memang Kakak mau borong ?” sahut Serli, adiknya, yang tengah selonjoran di karpet ngemil keripik pisang.

Rani mencibir. “Ini seriuuss. Jarang-jarang ada lo gamis secakep ini dikasih diskon 70%. Kakak mau beli tiga yang krem. Untuk Kakak, kamu dan yang kecil buat Intan. Sekalian pesan koko dua buat Bang Endra sama Adit warna krem juga. Kita harus tampil ‘wow’ pas Lebaran.”

Serli bergeser sedikit dan menegakkan punggungnya. “Nggak, Kak. Lagi gak mikirin Lebaran.”

Rani menatap bingung. “Kenapa? Kamu gak suka warna krem? Atau gak pingin gamisnya kembaran?”

“Iya! Eh, bukan maksudku” jawab Serli cepat.

“Atau kamu takut disangka anak perempuanku?” tanya Rani lagi yang jadi bingung dengan jawaban adik perempuannya itu.

“Padahal kamu cocok lho panggil  Mama sama Kakak,?” terusnya.

Serli melempar bantal sofa ke arah Rani. “Enak aja! Jangan sampai hal itu terjadi. Ujung-ujungnya aku disuruh jagain anak Kakak. Iyakan ?”

Rani pura-pura mikir. “Hmm… tapi kamu masih cocok dikatakan anak SMP kok. Kamu kan pendek terus imut lagi. Masih patut ikut antrian angpao Lebaran.”

Serli langsung cemberut dan mencubit lengan kakaknya.

“Kak, aku 22 tahun. Aku tantenya Intan sama Adit, bukan kakaknya.”

“Pokoknya nggak mau baju sama.”

Rani tertawa sampai hampir jatuh dari sofa.

“Yaudah. ​​​Kamu pilih sendiri ! Mau warna soft pink, merah merona atau warna apa. Terserah kamu. Yang penting kamu keliatan kece pas Lebaran.”

Serli menghela napas panjang. “Aku nggak semangat, Kak.”

Rani bangkit dari rebahan pindah duduk ke karpet di sebelah Serli.

“Hah ? Kenapa? Dibeliin gratis lho. Gratis tanpa syarat.”

“Iya, gratis, tapi percuma.”

“Percuma apanya ? Biar kamu keliatan cakep gitu lho. Glow up. Orang-orang bakal bilang, ‘Wah Serli cakep banget !”

Serli memandang jauh ke jendela. “Nggak, Kak. Mereka nggak bakal tanya soal baju.”

Rani mengernyit. “Terus nanya apa?”

Serli berdiri, merapikan rambutnya. Kepalanya digerakkan maju ke depan sehingga dagunya sedikit terangkat.

“Eh, sekarang Serli kerja di mana ? Udah ada calon apa belum ? Kapan nikahnyaaa ? Jangan kelamaan milih, nanti keburu expired lho!”
Hehehe, ” lanjut Serli dengan suaranya yang dibuat cempreng dan senyum mengejek.

Tawa  Rani langsung meledak. “YA AMPUUUN. Kamu kok tiba-tiba cosplay jadi Tante Tini sih. “

“Nah, Kakak paham kan ? Mau aku pakai baju bertabur permata pun, yang ditanyain tetap saja kapan nikahnya. Memangnya aku produk diskon yang belum di-checkout-in.”

“Astaga, Hahaha,” sela Rani yang makin tak bisa menahan ketawa mendengar omongan adiknya.

“Kakak ingat kan Lebaran tahun lalu aku pakai gamis bagus banget warna hijau sage. Angin aja sampai takjub melihatnya. Memang sih mereka awalnya memuji-muji dan bilang ‘cantik banget’. Tapi satu menit kemudian kembali pada pertanyaan template, ‘Udah ada calon belum?’

“Kalau kayak gini terus mending aku berangkat umroh aja deh pas Lebaran.”

Rani melongo. “HAH ? Kabur ke Tanah Suci ? Idemu brilian sekali.”

“Eh Li, tapi kalau sudah ada calon, kamu kenapa khawatir ? Santai saja. Kalau perlu kenalin sekalian. Kakak pengin kenal. Nanti Kakak paling depan yang mendukung,” lanjutnya dengan senyum menggoda.

Serli mencubit lengan Rani. “Kak !”

“Aduh ! Sakit tau !”

“Kok jadi kompor sih ?”

“Aku kakak. Tugasnya menghangatkan suasana.”

“Ini bukan menghangatkan. Ini membakar. Aku merasa kepanasan nih.”

Rani gantian mencubit Serli

“Yaa, namanya juga kakak yang perhatian.”

“Bukan perhatian namanya, Kak. Tapi rese.”

Kedua kakak beradik itu tertawa ngakak mengguncang ruang tamu malam itu.

Rani kembali menatap ponselnya. ” Jadi gimana, Kakak tetap beli ya.”

“Jangan, Kak!”

“Kenapa?”

“Kan sudah aku bilang percuma!”

“Justru nggak percuma. Kamu bakal makin cantik pakai gamis krem ini dan lebih percaya diri kalau ditanya ‘kapan nikah’ nanti.”

“Percaya diri dari mana?”

“Dari warna krem.”

“Kok bisa ?”

“Krim itu warna calon mantu idaman.”

“Sejak kapan ada teori warna begitu?”

“Sejak Kakak bilang.”

“Kalau ternyata nggak ada calon?”

“Gak usah dipikirin. Biar mereka mikir sendiri jawabannya.”

Notifikasi dari ponsel Rani berbunyi. Pesanan berhasil.

“Kak!”

“Barang sudah dibeli. Nyampenya sebelum lebaran. Nanti kita kembar tiga sama Intan.”

Serli menghela napas panjang.

“Nanti kalau Tante Tini nanya lagi?” tanya Serli.

“Jawab aja, ‘Doain ya, Tante. InsyaAllah segera.’ Gak usah baper, kamunya” jawab Rani.

“Tapiii, kalau ternyata memang calonnya sudah ada, artinya…” goda Rani.

“Artinya apa, Kak ?”

“Artinya kamu sudah siap jadi calon mantu idaman, ” jawab Rani tertawa puas.

Serli tersenyum sendiri, membayangkan dirinya memakai gamis kream yang jatuh lembut di tubuhnya saat Lebaran nanti. Mungkin benar apa yang dikatakan kakaknya, bahwa dengan baju gamis krem  yang dibelikan kakaknya itu akan memberinya keberanian untuk tidak lagi gemetar saat ditanya ‘kapan nikah ?’

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *