Home / Non Fiksi / Esai / Menjadi Penulis: Teruslah Berjuang

Menjadi Penulis: Teruslah Berjuang

Menjadi Penulis 20260307
2

Sebagai penulis indie, ada kalanya kita yang jujur ​​pada diri sendiri bertanya-tanya mengapa kita melakukan ini.

Anda tahu perasaan itu. Anda muak dengan kebutuhan terus-menerus untuk mempromosikan diri, atau baru saja mendapat serangkaian ulasan buruk.

Mungkin Anda bekerja keras untuk novel terakhir itu, dan novel itu gagal total. Persaingan di luar sana sangat brutal sehingga Anda tidak akan pernah berhasil, sekeras apa pun Anda mencoba. Anda bertanya-tanya mengapa Anda melakukan ini padahal Anda bisa melakukan sesuatu yang menyenangkan.

Anda bodoh.

Anda kalah.

Anda ingin merebut kembali hidup Anda.

Menulis adalah pekerjaan yang sulit.

Indie bahkan lebih sulit lagi. Hukum Darwin yang kejam dan tak kenal ampun.

Jika Anda sepertiku, Anda akan mengalami masa-masa sulit ini secara berkala. Anda akan meratapi nasib, berteriak, memukul, dan menangis… dan segera Anda akan menegakkan bahu dan kembali bekerja.

Boleh, kok, untuk mempunyai keraguan dan ketakutan.

Ketika aku mengalami masa-masa sulit itu, aku akan meneliti dengan saksama alasanku untuk menulis.

Kalau aku bilang bahwa aku tidak peduli apakah menulis menghasilkan uang untukku atau tidak, aku bohong.

Tentu saja aku peduli. Tapi bukan itu alasanku menulis.

Bersabarlah sementara aku menjelaskan sedikit latar belakangnya.

Aku sangat beruntung dengan buku-buku yang kuterbitkan sendiri terjual cukup baik. Rasanya luar biasa. Sebelumnya aku hanya menulis puisi dan cerpen untuk platform dan komunitas. Sekarang aku adalah seseorang!

Tapi ada bukuku yang merupakan tamparan keras bagiku. Meskipun semua orang yang membacanya menyukainya dan ulasannya luar biasa, penjualannya sangat mengecewakan.

Aku merasa sangat sedih. Aku telah mencurahkan hati dan sebagian besar hidupku selama setahun ke dalam buku ini. Apa yang sebenarnya terjadi?

Nah, salah satu hal yang membuatnya tak laku adalah pilihan genre. Dari genre fantasi dan fiksi ilmiah yang menjadi andalanku, aku menerbitkan kumpulan cerpen romansa dengan sedikit sentuhan fantasi di pinggirannya, buku yang aneh dalam kategori yang jauh lebih ramai.

Begitu juga novel yang telah kutulis sebanyak 30.000 kata kutinggalkan.

Aku gagal, seorang penulis pura-pura.

Entah bagaimana, betapa gilanya hidup ini, aku berhasil menulis beberapa cerita pendek baru, merapikan beberapa cerita lainnya, dan menyatukannya menjadi sebuah koleksi. Kumpulan cerita ini mendapat beberapa ulasan bagus dan bahkan pujian seperti, “seorang penulis yang pantas mendapat pengakuan lebih luas”, dan, “penulis yang kurang dihargai”.

Sayangnya, terjual kurang dari tiga ratus eksemplar.

Apa yang salah?

Kumpulan cerita tidak pernah mudah dijual, bahkan untuk penulis terkenal. Selain itu, ini adalah kumpulan cerita fiksi ilmiah. Lupakan saja bahwa sejumlah orang menganggap cerita utama cukup bagus. Oh, Tuhan, apakah saya tidak akan pernah belajar?

Aku tidak menyerah. Empat tahun lalu, aku mulai kembali dengan sungguh-sungguh mengerjakan novel yang terbengkalai, dan sudah belasan kali aku menulis kata-kata indah yang kita semua sukai, TAMAT.

Terbengkalai selama setahun, drafnya berantakan dan penulisan ulangnya akan substansial. Tetapi sejak memutuskan menjadi penulis 24/7 sejak empat tahun yang lalu, aku memiliki lebih banyak waktu luang serta mental.

Aku seorang penulis lagi. Dan aku telah menulis novel dalam haampir semua genre.

Tapi mengapa? Mengapa melakukan ini? Peluang sukses dalam permainan ini tidak bagus, dan aku tidak muda lagi. Jadi mengapa menjadi penulis ketika aku bisa bertualang di desa, bermain ukulele, mengunjungi galeri seni, mengambil foto, belajar terjun payung…

Aku menulis karena harus. Karena ada cerita yang ingin aku ceritakan, karakter dan situasi yang ingin kubaca dan yang belum pernah ditulis orang lain.

Karena aku ingin berbagi cerita-cerita ini dengan orang lain, mungkin membuat mereka tertarik dan bahkan senang dalam prosesnya. Karena kegembiraan menerima komentar penggemar dari orang asing yang hidupnya telah ku sentuh sebanding dengan banyaknya kesedihan. Karena aku  ingin meninggalkan warisan dalam bentuk apa pun. Karena aku punya gagasan aneh bahwa kalau seseorang yang kreatif berhenti melakukan apa yang mereka rasa terdorong untuk lakukan, sesuatu di dalam diri mereka akan sakit, dan itu menyakiti jiwa.

Dan aku menulis sebagai penulis indie karena aku ingin bertanggung jawab atas karya-karyaku.

Tidak apa-apa untuk pergi ke tempat yang buruk. Seperti seorang pejuang, seorang penulis indie—penulis mana pun—membutuhkan keberanian, dan banyak keberanian.

Tapi keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan menghadapi ketakutan kita dan terus maju meskipun ada ketakutan itu.

Pergilah ke tempat yang buruk, jelajahi, putus asa di dalamnya. Dan ketika Anda selesai, kembalilah.

Dan selain itu, selalu ada kemungkinan bahwa buku berikutnya mungkin menjadi buku terlaris.

Apakah Anda pergi ke tempat yang buruk? Apa strategi Anda untuk menghadapi rasa takut dan keraguan diri? Apa yang membuat Anda terus maju?


Jawa Barat, 7 Maret 2026

Penulis

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image