Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah kemudian berfirman kepadanya, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu. – Q.S. Ali Imran 3:59
Dia berdiri di depan cermin, napasnya mengembunkan kaca.
Hamdan selalu diberitahu bahwa dia mirip ayahnya. Mata yang sama. Garis rahang yang sama.
Tetapi pada hari-hari seperti ini, dia tidak yakin siapa yang sedang dilihatnya. Bukan bayangan. Sebuah pertanyaan.
Di luar kamar rumah sakit, lorong itu sunyi. Terlalu sunyi. Di dalam, ibunya tidur—jika tidur adalah kata yang tepat untuk seseorang yang ditopang oleh mesin dan doa. Para dokter mengatakan kanker itu kambuh lagi. Agresif. Tidak dapat dioperasi.
Hamdan punya iman. Atau setidaknya dia pikir begitu.
Dia telah mencoba segalanya. Ruqyah. Sedekah. Air mata.
Dan sekarang, saat dia menatap bayangannya. Dia membisikkan kata-kata yang belum pernah dia ucapkan dengan lantang:.
“Mengapa dia? Mengapa sekarang?”
Neneknya pernah mengatakan kepadanya bahwa Allah dapat menciptakan apa pun dari ketiadaan. Bahwa Dia menciptakan Adam dari debu. Bahwa Dia menciptakan Yesus dengan satu kata.
“Jadilah.”
Tanpa cetak biru. Tanpa perlu logika, anggota tubuh, atau garis keturunan. Hanya kehendak.
Namun di sinilah dia, tidak mampu membuat satu sel pun di tubuh ibunya untuk patuh.
Dia melangkah keluar ke taman rumah sakit. Saat itu musim meranggas. Daun-daun berputar seperti kenangan emas di sekitar kakinya.
Seorang lelaki tua duduk sendirian di bangku, sedang menggambar.
Hamdan hampir melewatinya.
Tetapi lelaki itu mendongak dan tersenyum, sambil mengulurkan buku catatannya.
“Mau lihat?”
Sketsa pohon. Berlekuk-lekuk, setengah gundul, namun masih berpegangan pada daun-daun terakhirnya.
“Dia sedang sekarat,” kata Hamdan, tanpa tahu mengapa mulutnya bicara. “Dan aku tidak bisa menghentikannya.”
Lelaki itu bergeming.
“Isa pun tidak bisa membangkitkan orang mati tanpa izin Allah.”
Hamdan berkedip. “Apa?”
“Adam diciptakan dari tanah,” kata lelaki tua itu. “Namun dia berdiri. Bicara. Hidup. Karena Allah menghendakinya. Dan kalau Dia menghendaki keberadaanmu, Nak, Dia juga punya alasan untuk air matamu.”
Hamdan merasakan riak di tenggorokannya muncul. “Aku tak mengerti.”
“Kau tidak perlu mengerti,” kata pria itu. “Kau bukan Sang Pencipta. Kau adalah ciptaan.”
Hembusan angin menerbangkan dedaunan. Satu helai mendarat di tangan Hamdan. Rapuh. Getas.
Begitu pula dirinya.
Begitu pula ibunya.
Dan dia menundukkan kepalanya. Bukan karena kalah, tetapi karena pasrah diri.
“Jadilah,” bisiknya.
Dan kedamaian, seperti napas, kembali.
***
Perumpamaan dalam ayat Q.S. Ali Imtran 3:59 membandingkan penciptaan ajaib Nabi Isa a.s dengan penciptaan Adam a.s.
Bukan untuk menyamakan peran, tapi untuk mengklarifikasi kuasa di balik keduanya: Allah.
Sama seperti Adam diciptakan dari tanah tanpa orang tua, Isa diciptakan tanpa ayah. Dengan perintah ilahi yang sama, “Jadilah.”
Dalam kesederhanaannya, ayat ini bukan tentang garis keturunan. Ini bukan tentang mukjizat.
Ini tentang Sang Pencipta yang tidak membutuhkan sebab untuk menciptakan. Firman Allah melampaui sains dan urutan. Dia berfirman—dan terjadilah.
Ini bukan hanya koreksi teologis. Ini adalah seruan untuk kerendahan hati. Untuk mengingat bahwa keberadaan kita, perjuangan kita, dan bahkan mukjizat kita, bukanlah hasil karya kita sendiri.
Mukjizat adalah karunia. Dari tanah yang dijadikan hidup oleh hembusan perintah.
Perumpamaan ini memberi tahu kita. mukjizat bukanlah manusianya.
Mukjizat adalah firman.
Ayat ini mengalihkan pandangan kita dari kepribadian dan gelar, dan mengarahkannya kembali kepada sumber kekuatan sejati: firman Allah.
Kita hidup di dunia yang terobsesi dengan kredensial. Siapa orang tuamu, garis keturunan apa yang kamu bawa, cerita apa yang kamu ceritakan tentang dirimu.
Tapi dalam kisah Adam dan Isa, Al-Quran mengajak kita untuk melihat sesuatu yang lebih dalam. Bahwa kita bukanlah apa-apa tanpa perintah ilahi.
Bagiku, perumpamaan ini adalah cermin. Mencerminkan asal usul dan batasanku. Aku tidak terbuat dari cahaya. Aku terbuat dari tanah. Namun, Allah berkenan membentukku, berbicara kepadaku, dan membimbingku. Itu saja sudah cukup untuk membuatku bersujud.
Perumpamaan ini memberikan bahasa untuk penyerahan diri. Bukan penyerahan buta, tetapi kepercayaan yang berdasarkan cahaya.
Perenungan
1. Apa yang diajarkan perbandingan antara Isa dan Adam kepada kita tentang sifat mukjizat dan kekuatan ilahi?
2. Bagaimana pengetahuan bahwa kita diciptakan dari tanah membentuk cara kita memandang diri kita sendiri dan satu sama lain?
3. Di bidang kehidupan mana kamu masih berpegang teguh pada kendali sendiri alih-alih mempercayai perintah ilahi, “Jadilah”?











