Hari belum terlalu sore, langit di atas Magelang juga masih cerah, tidak terlalu panas, tidak juga mendung, lebih tepatnya teduh, seolah menyimpan rahasia yang belum sempat diungkap.
Leon ingin mengambil barang-barangnya yang ditinggalkan di hotel. Mobil yang dikemudikan Kyoto pun berbalik arah, melaju perlahan menuju ke arah bandara YIA, melewati jalur pedesaan dengan hamparan sawah yang jauh hiruk pikuk.
Di dalam mobil, suasana hening tak sepenuhnya kosong, penumpangnya justru sedang dipenuhi rasa ingin tahu yang menggantung menerka tujuan selanjutnya.
Nadia yang duduk di kursi tengah sedang membuka buku catatan kecil yang mulai kusam di sudut-sudutnya. Kertas-kertas di dalamnya penuh dengan coretan, potongan narasi, dan serpihan informasi yang ia kumpulkan dari berbagai tempat. Matanya berhenti pada satu halaman yang pernah ia tandai, tentang sebuah situs berada di Kecamatan Salaman
Ia menarik napas pelan, memastikan ingatannya tak keliru.
“Arahkan ke Mantingan, Kyo,” ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari catatan itu. “Aku pernah menyimpan sesuatu tentang tempat ini … sepertinya menarik untuk dikulik.”
Kyoto melirik sekilas melalui kaca spion, menangkap keseriusan di wajah Nadia. Tanpa banyak bertanya, ia mengangguk ringan dan mulai membelokkan arah kendaraan sesuai petunjuk yang ia cari di google.
Leon di kursi depan sedikit menengok ke belakang, penasaran dengan apa yang sedang Nadia temukan.
“Kita mengunjungi situs lagi?” tanya Leon, suaranya rendah penuh rasa ingin tahu..
Nadia tidak langsung menjawab. Ia menelusuri baris-baris tulisan itu sekali lagi, sebuah potongan narasi yang terasa janggal, seolah bukan sekadar catatan biasa. Ada sesuatu yang terselip di balik kata-kata itu, sesuatu yang menunggu untuk ditemukan.
“Situs ini bukan sekadar candi,” akhirnya Nadia berkata pelan. “Ada cerita yang belum selesai di sana. Dan … itu tugas kita.”
Mobil terus melaju, membawa mereka semakin dekat pada Mantingan, sebuah tempat yang mungkin diabaikan orang lain, tapi bagi Nadia, ia adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Saat tiba di lokasi, Leon mengikuti langkah mantap Nadia, Kyoto mulai mengambil video untuk konten vlog-nya. Nadia menjelaskan bahwa Magelang memang dikenal sebagai surganya candi, dari yang kecil hingga besar, bahkan situs tak bernama pun banyak tersebar di lereng perbukitan yang sulit dijangkau.
Situs Candi di desa Mantingan, kecamatan Salam adalah salah satu temuan arkeologis penting dari era Mataran kuno. Candi Mantingan atau yang sering disebut sebagai situs Petirtaan adalah temuan candi petirtaan terbesar di Jawa Tengah yang diduga berasal dari abad ke 9, konon dulu berfungsi sebagai tempat penyucian diri sebelum memasuki bangunan suci.
Leon menyimak penjelasan Nadia sambil memandang takjub pada situs dengan struktur berbentuk leter U.
“Situs ini ditemukan secara tidak sengaja oleh warga saat hendak membuat kolam ikan, situs ini juga tergolong besar, mencakup reruntuhan candi dengan komponen batu andesit berukir mendetail,” lanjut Nadia.
“Situs ini memiliki relief, tapi pahatan batu di situs ini berbeda dengan Borobudur, di sini menampilkan motif burung beo, dewa dua dimensi, dan lingkaran daun.” Kyoto meneliti bentuk pahatan pada batu.
“Namun, jika dilihat dari bentuk Petirtaan, jelas situs ini bukan situs Buddha,” bantah Nadia.
Seseorang mendekat, sepertinya sejak tadi ia mengamati aktivitas yang dilakukan rombongan Nadia.
“Saat ekskavasi oleh BPCB Jawa Tengah, ditemukan struktur kaki candi dengan panjang 22,5 meter. Situs ini diyakini runtuh karena bencana alam yang membuatnya terpendam,” tutur pria paruh baya yang terlihat mengenal dengan baik kondisi situs tersebut.
Menurut pria itu, berdasar laporan tersebut, tidak disebutkan bangunan candi yang sempat terkubur oleh material vulkanik dari letusan Gunung Merapi ratusan atau bahkan ribuan tahun silam. Hanya saja, saat itu ditemukan bukti bebatuan dan struktur pondasi candi.
Sejauh ini ekskavasi bersifat penyelamatan atau rescue excavation. Tujuannya untuk menyelamatkan data arkeologi yang masih terkubur di dalam tanah. Dari temuan itu, pihak BPCB akan mampu merekonstruksi atau mengidentifikasi bagaimana bentuk asli, bangunan tersebut.
“Dahulu ditemukan patung arca Ganesha, dan patung sapi tanpa kepala dan kura kura. Ada juga batu-batu yang ditemukan di lahan warga,” ungkap pria itu menambahkan.
Setelah puas mengamati mereka pamit dan mengucap terima kasih pada pria paruh baya yang mengaku sebagai juri kunci tempat itu.
Langit mulai condong ke barat ketika mereka meninggalkan Situs Candi Mantingan. Sisa-sisa cahaya senja jatuh lembut di antara rerimbunan pohon, seakan enggan berpisah dari kisah-kisah yang baru saja mereka dengar dan rasakan. Catatan kecil di tangan Nadia terisi penuh bukan hanya oleh fakta sejarah, tetapi juga oleh rasa takjub yang tak mudah dijelaskan dengan kata-kata. Bangunan yang terpendam abu vulkanik Merapi sedalam 4-5 meter di dalam tanah persawahan, masih banyak menyimpan jejak yang belum terungkap.
“Masih ada satu tempat lagi sebelum kita menuju hotel,” ujar Nadia pelan, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
Kyoto mengangguk, lalu mengarahkan mobil menuju Situs Singa Barong. Jaraknya tak terlalu jauh, tapi cukup bagi mereka untuk tenggelam dalam keheningan yang nyaman, sebuah jeda yang memberi ruang bagi makna untuk perlahan meresap.
Sesampainya di lokasi candi Hindu peninggalan abad ke 9-10 suasana terasa berbeda, bangunannya lebih sunyi, lebih tua, seolah waktu berjalan lebih lambat.
Candi Singa Barong terletak di perbukitan Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Dinamakan “Barong” karena ukiran kala pada tubuh candi menyerupai singa atau barong. Leon menatap patung singa yang berdiri kokoh, menjaga rahasia masa lampau yang tak seluruhnya terungkap.
Struktur bangunan candi berupa batu besar persegi, yoni, dan batu kuno penyangga tiang rumah yang disebut Umpak. Lokasinya yang berada di puncak bukit Singabarong membuat angin sore yang berhembus pelan, seperti menyusup di antara celah-celah batu, membawa bisikan yang bukan hanya didengar tapi juga dirasakan.
Leon melangkah lebih dekat, “Ada sesuatu yang tetap hidup di sini,” gumamnya sambil memperhatikan detail ukiran pada candi yang berstruktur punden berundak. Bangunannya menghadap barat, dan berfungsi sebagai tempat pemujaan Dewa Wisnu.
Dengan antusias, Leon terus menyusuri bangunan yang terdiri dari tiga teras atau punden berundak yang meninggi ke belakang. Pada teras tertinggi terdapat dua candi utama yang saling berdampingan.
Nadia tersenyum tipis. “Pada candi ini mungkin bukan hanya batu yang bertahan … tapi juga cerita.”
Kyoto tak ikut turun, ia bersandar di mobil, memandang dua temannya dengan tatapan tenang. Perjalanan hari itu bukan sekadar kunjungan, melainkan perjumpaan dengan sejarah, dengan keheningan, dan dengan diri mereka sendiri.
Langit telah berubah warna menjadi jingga keemasan. Mereka beranjak, waktu seperti mengajak berpacu. Tanpa banyak kata, mereka bertiga memahami bahwa hari itu telah memberi sesuatu yang tak bisa diukur, jejak-jejak samar masa lalu adalah jejak yang masih berdenyut hingga kini.
Bayangan panjang mereka tertinggal di tanah saat mobil meninggalkan lokasi, seolah menjadi bagian kecil dari kisah yang akan terus hidup.
***








