Home / Genre / Young Adult / 9. Sebuah Kebetulan atau Kesengajaan

9. Sebuah Kebetulan atau Kesengajaan

MELUKIS JEJAK - TARI ABD
This entry is part 10 of 17 in the series Melukis Jejak

Malam turun perlahan seperti tirai yang ditarik dengan hati-hati. Lampu-lampu taman di Wyndham Resort mulai menyala temaram, syahdu, dan estetik.  Leon menuruni tangga lobi dengan ransel yang kini kembali bertengger di pundaknya. Ia memenindai area lobby, tempat yang dulu sangat asing, kini seperti menyimpan sesuatu yang tak ingin ia tinggalkan. Setelah melakukan check out dan melakukan pembayaran, ia melangkah keluar. Aroma kayu dan bunga tropis yang tadi terasa menenangkan kini tergantikan oleh satu rasa yang lebih dominan.

Ia menghela napas panjang, menoleh ke arah Nadia dan Kyoto yang menunggu di mobil. 

“Aku lapar, apakah tidak ada yang sama?” ujarnya Leon tanpa basa-basi.

Kyoto tersenyum tipis, seolah sudah menduga. “Bukankah tadi aku sudah menawarkan untuk makan dulu?”

Leon tertawa, sedikit malu, ia sendiri yang ngotot mengambil barang dulu.

“Ada tempat makan yang asik. Aku yakin kalian pasti suka,” ujar Kyoto akhirnya.

“Di mana?” tanya Nadia, matanya berbinar.

“Ikut aja, tempatnya masuk ke area sawah, agak terpencil, tapi view-nya bagus, suasananya beda. Tenang. Dan makanannya … Indonesia banget.”

Leon mengangguk cepat. “Apapun. Aku sudah sangat lapar.”

Perjalanan menuju Kopi Jolotundo tidak terlalu lama, tapi cukup untuk membuat suasana berubah total. Dari jalan utama yang masih ramai kendaraan, mereka berbelok ke jalan kecil yang diapit sawah di kanan kiri. Gelap mulai mendominasi, hanya diselingi cahaya lampu-lampu kecil dari rumah warga dan beberapa warung.

Begitu mobil berhenti, Leon langsung membuka pintu dan turun. Ia mendongak ke langit, bersih tanpa awan, hanya kelip bintang seperti berkedip menggoda. Udara malam yang menyambutnya terasa dingin, bersih, dan membawa aroma tanah basah yang khas. Ia menarik napas dalam-dalam.

“Ich liebe es, dieser ort ist fantastisch!” serunya berbinar.

Di hadapan mereka, berdiri sebuah resto sederhana  bergaya joglo dengan konsep terbuka. Lampu-lampu gantung berwarna hangat menggantung di atas meja-meja kayu. Di sekelilingnya, hamparan sawah membentang, tidak terlalu gelap tapi hidup dengan suara jangkrik yang saling bersahutan.

Mereka memilih duduk lesehan di pinggir dekat pintu masuk, menghadap langsung ke sawah. Leon menikmati suasana yang berbeda. Angin malam berembus lembut, menggerakkan daun padi yang tampak seperti gelombang kecil dalam kegelapan.

Seorang pelayan datang membawa menu, Leon membuka halaman pertama, lalu tersenyum kecil. “Yang aku tahu hanya ayam,” ujarnya setelah beberapa lama membolak-balik halaman buku menu. Nadia tertawa.

Kyoto mengangguk. “Mungkin Kamu harus coba ayam bakarnya. Bumbunya meresap, dagingnya lembut, pokoknya …,” ujarnya sambil mengacungkan dua jempol.

Tanpa ragu, Leon memesan ayam bakar lengkap dengan nasi hangat, ditambah tumis sayuran. Nadia dan Kyoto saling pandang, lalu kompak memilih gudeg.

“Gudeg di sini juga enak,” kata Nadia. “Manisnya pas.”

“Manis?” Leon mengangkat alis, “Ich mag keine Süßigkeiten.”

Kyoto tertawa. “Tapi kemaren bukannya Kamu makan gudeg?”

“Nadia meracuniku, aku tidak punya pilihan.” Leon mencebik kesal, teringat kemaren saat tak punya pilihan ia terpaksa makan yang disodorkan Nadia dan berakhir sakit perut.

Tak butuh waktu lama, makanan mereka datang. Aroma ayam bakar langsung menyeruak, menggoda indera penciuman Leon. Ia menatap piringnya sejenak, seperti sedang memastikan ini aman.

“Jangan takut, ini aman,” ujar Nadia meyakinkan.

Leon mengambil potongan paha, gigitan pertama membuatnya terdiam.

“Außergewöhnlich,” katanya dengan takjub.

“Enak?” tanya Nadia.

Leon mengangguk cepat. “Ini … bukan hanya enak. Ini beda. Ada … rasa yang gak bisa aku jelaskan.”

Kyoto tersenyum puas. “Itu namanya rasa rumah. Walaupun kita tidak sedang berada di rumah.”

Mereka mulai makan dengan tenang, ditemani suara alam dan lampu-lampu yang berpendar hangat. Percakapan mengalir ringan, tentang perjalanan hari itu, tentang situs yang mereka kunjungi, tentang detail-detail kecil yang mungkin tidak semua orang perhatikan.

“Menurutku,” kata Nadia sambil menyendok gudeg, “tempat tadi punya energi yang unik. Seperti … ada cerita yang belum selesai.”

Leon mengangguk. “Aku juga merasakan. Apalagi bagian belakang candi itu, ada sesuatu yang … aneh.”

Kyoto menatap mereka bergantian. “Makanya aku pengen kita lanjut ke situs berikutnya besok. Ada pola yang mulai kelihatan.”

Leon menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kalau pola itu nyata … berarti ini bukan sekadar perjalanan wisata.”

“Bukan,” sahut Nadia pelan. “Sejak awal juga bukan. Aku selalu membuat setiap perjalanan seperti melukis jejak. Agar setelah pergi ada orang menemukan jejak itu.”

Mereka pun riuh dalam diskusi panjang, tentang situs, tentang perjalanan, dan tentang jejak samar yang harus diukur ulang agar dikuti orang lain. Hingga seseorang yang baru masuk memecah fokus itu.

Leon yang awalnya hanya menatap sekitar tanpa tujuan, tiba-tiba membeku. Matanya menangkap sosok yang baru saja masuk ke area resto.

Seorang perempuan dengan langkah anggun, rambut pirangnya tergerai lembut di bawah cahaya lampu. Ia mengenakan gaun sederhana, tapi aura yang dibawanya membuatnya sulit untuk tidak diperhatikan.

Leon menegakkan tubuhnya, “Nadia,” bisiknya.

Nadia menoleh. “Was ist das?”

Leon tidak menjawab. Tatapannya masih terpaku ke arah pintu masuk. Perempuan itu tidak sendiri. Di sampingnya, seorang pria bule dengan postur tegap berjalan santai, sesekali menunduk mendengarkan apa yang perempuan itu katakan. Mereka tampak dekat … terlalu dekat untuk sekadar teman biasa.

Nadia mengikuti arah pandang Leon, detik itu juga, alisnya bertaut. Ia menatap Leon.

“Kamu mengenalnya” suaranya mengecil.

Kyoto ikut menoleh. Suasana di meja mereka mendadak berbeda.

“Adelheid,” kata Leon pelan, hampir seperti memastikan pada dirinya sendiri.

Nama itu menggantung di udara. Nadia tahu, perempuan itu yang menjadi alasan Leon meninggalkan negaranya. Perempuan yang membuat Leon kehilangan tujuan karena menghilang tanpa kabar. 

Kini ia berdiri di sana, tertawa kecil bersama pria lain, seolah tidak ada yang pernah terjadi. Leon merasakan sesuatu mencengkeram dadanya. Bukan sekadar kaget, tapi lebih dalam dari itu.

“Dia bahkan masih bilang mencintaiku, dan memintaku untuk datang ke negeri ini, katanya ada sesuatu yang penting. Tapi ….” Leon tidak melanjutkan gumamannya, dadanya terasa sesak

Nadia menggenggam sendoknya lebih erat. “Mungkin … memang ada hal penting, berpikirlah positif.”

“Tapi sama dia?” Leon menggeleng geram. “Apakah hal penting itu ‘dia’?”

Kyoto tetap tenang, meski matanya tak lepas dari Adelheid. “Kita belum tahu apa-apa. Jangan langsung ambil kesimpulan.”

Adelheid dan pria itu memilih meja tak jauh dari mereka. Cukup dekat untuk terlihat jelas, tapi cukup jauh untuk tidak langsung menyadari keberadaan Leon.

Leon memperhatikan setiap gerakan Adelheid. Cara dia duduk. Cara dia tersenyum. Cara dia menyentuh lengan pria itu saat tertawa. Semuanya pernah menjadi hal yang paling candu, tapi kini terasa… asing.

“Aku harus bicara sama,” kata Leon tiba-tiba.

“Jangan sekarang,” cepat Nadia menahan.

“Kenapa? Aku butuh penjelasan.”

Kyoto menggeleng pelan. “Bukan tempatnya. Dan bukan waktunya.”

Leon mengepalkan tangan. Emosinya mulai naik, tapi ia tahu Kyoto benar.

Namun, tetap saja … melihat Adelheid seperti bersama orang lain, di tengah perjalanan cintanya yang penuh teka-teki, baginya itu seperti potongan puzzle yang tidak pada tempatnya.

Karena terus diperhatikan, Adelheid tiba-tiba menoleh. Hanya sepersekian detik. Namun, cukup untuk membuat jantung Leon berdegup lebih kencang. Tatapan mereka sempat bertemu, tapi tidak ada keterkejutan.

“Apakah Adelheid sudah tahu mereka ada di sana?” gumam Nadia yang memperhatikan dalam diam.

Dan entah kenapa, dari cara dia memandang, Leon merasakan sesuatu yang lebih mengganggu daripada sekadar kebetulan, seolah semua ini sudah direncanakan.

Melukis Jejak

. Situs Mantingan, Jejak Samar yang Masih Berdenyut 0. Perjalanan Tak Lagi Sama

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Ibu ke Mana?

Ibu ke Mana?

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Diam

Diam

Bab 13. Serangan (Part 2)

Bab 13. Serangan (Part 2)

Cinde Lara: Bab 27

Cinde Lara: Bab 27

Antologi KompaK’O

Random image