Kali ini, kita berada paling dasar kehidupan. Dimana dunia terasa paling hening, paling lusuh.
Aku mengerti, napasmu begitu berat untuk kauhirup, kakimu begitu kaku tuk melangkah, dan ragamu terkunci oleh keadaan yang bedebah ini. Tapi, tak ada yang bisa kita perbuat saat ini, selain menjalani takdir—meski sulit untuk menerima dengan ikhlas.
Terhadap nasib, jika kau ingin menangis, menangislah. Hanya saja ada yang perlu kau pegang, yaitu perlahan kau harus berdiri walau tubuhmu sudah begitu ringkih untuk menopang beban masalahmu. Tak mudah memang, untuk kembali seperti semula setelah kita terjun bebas dengan hebatnya. Namun percayalah, kita akan kembali pada pijakan tangga yang kita inginkan, meski dengan versi yang berbeda. Karena, saat ini kita sedang benar-benar diuji berupa badai yang membuat dada berkecamuk hebat.
Biarkanlah, saat ini kita berada di tengah gulungan badai. Meski terlihat tak ada jalan keluarnya, percayalah! Setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Dari sebuah keyakinan, barangkali ada celah untuk kita meloloskan diri. Perihal kehidupan, memang sulit untuk ditebak alur ceritanya. Begitu banyak plot twist yang membuat kita terkejut dan mengeluarkan kata-kata “Kok tiba-tiba kita berada disini?” Tanpa skenario, tanpa naskah yang direncanakan. Begitulah takdir dan nasib.
Selain menjalani, kita pun harus tetap berjuang pada jalan ini. Gelombang kesabaran perlu kita aktifkan dengan sebaik mungkin, karena kelak dada kita akan menjadi lebih kuat. Tersayat, hingga berdarah-darah adalah hal yang harus kita terima dengan tetap tegar. Bersama-sama dengan saling menguatkan adalah sebuah keniscayaan agar kita takkan tumbang di tengah jalan. Sebab, kita tak pernah tahu setelah badai yang berkecamuk ini, akan ada apa di depannya. Bisa jadi, kita akan melihat hamparan taman-taman indah dan pepohonan rindang yang akan memulihkan luka-luka kita.
Pada jalan yang penuh bebatuan ini, tentunya kesabaran kita akan digoda oleh berbagai keadaan. Dari orang-orang yang menggelitik emosi, hingga orang-orang yang menggaruk hati kita manakala kita dalam keadaan lelah. Ingatlah apa yang pernah kita pelajari pada saat waktu luang menjadi sahabat kita dan keadaan tak sepelik ini dari seseorang yang kita sebut guru. Apa yang ia ajarkan kepada kita, adalah sebuah bekal untuk kita pada saat menghadapi situasi seperti ini. Perlahan-lahan pelajaran itu kita amalkan, meski kadang kerap tak seirama antara nalar dan gerak tubuh. Tetaplah diusahakan hingga benar-benar pada kesekian kali antara keduanya menjadi senada.
Bukankah kau sering mendengar kata-kata dari temanmu yang mengatakan “Suasana itu diciptakan, bukan ditunggu” Itu artinya, hidup yang seimbang kita yang buat—apapun keadaannya. Maka, kendalikan dirimu dengan tidak memperlihatkan ketidakberdayaan tubuhmu.
Lalu, tetaplah percaya. Kau harus tetap percaya, bahwa Tuhan sedang menjamu kita dan sedang mempersiapkan baju zirah yang akan melindungi dada kita, kelak. Bukan baju besi, melainkan kekuatan manakala badai menyapa lagi suatu hari nanti. Maka, hari ini adalah penempaan kita—sebagaimana besi yang ditempa menjadi pedang tajam. Biarlah saat ini membara di dasar kehidupan, agar esok seperti Ibrahim yang tak terbakar oleh api.









