Home / Genre / Chicklit / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 20

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 20

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 21 of 45 in the series Cinta Kedua & Terakhir

“Sekarang saatnya untuk memberi mantan suamiku sedikit pelajaran,” batin Silvia saat ia merebahkan badannya di sebuah ranjang berukuran besar.

Kesedihan dan kebahagiaan yang datang hampir bersamaan dalam hidupnya membuat ia agak tercengang. Ternyata Tuhan memberikan kebahagiaan yang lebih kepadanya di saat ia ikhlas dengan cobaan yang datang.

Silvia bangun dari tidurannya. Dia segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu ia berwudhu dan melanjutkan salat isya. Tidak lupa ia mengucapkan syukur Alhamdulillah kepada Allah Yang Maha Esa atas segala nikmat yang sudah didapatnya.

Keesokan paginya seperti biasa ia bersiap-siap untuk berangkat ke butik Boby tempatnya bekerja. Begitu ia turun, dilihatnya sudah ada ayah, ibu dan adiknya di meja makan.

“Sini, Nak. Sarapan dulu,” ajak ibunya sambil menarik salah satu kursi.

“Wah. Sepertinya, nasi gorengnya enak, nih. Mmm, wangi banget lagi,” ucap Silvia sambil menjorokkan kepalanya untuk mencium aroma nasi goreng yang sudah terhidang di atas meja.

“Nasi goreng buatan Ibu kan memang selalu enak, Kak,” ucap gadis tomboi yang sedang lahap memakan nasi goreng itu.

“Dan tiada duanya,” balas Silvia.

“Kalian berdua ini selalu memuji masakan Ibu. Bahkan makanan basi pun akan kalian bilang enak.”

Mereka tertawa mendengar kata-kata ibunya.

“Oo, itu. Aku tidak tahu kalau makanan itu dari tetangga kita, Bu,” Silvia masih terkekeh ingat peristiwa saat ibunya memberi mereka berdua makanan yang dikasih tetangga saat mereka pulang sekolah.

Beberapa tahun lalu Ibunya pernah diberi sekotak nasi bungkus oleh tetangga. Kebetulan saat itu ia memang tidak punya uang untuk membeli makanan.

Saat anaknya pulang dari sekolah, segera ia mengeluarkan nasi kotak itu dari tudung saji, ia tata di atas piring. Saat menata nasi itu, ia sudah curiga nasi itu basi, karena agak lembek. Tapi Tiara dan Silvia yang sudah keburu lapar merebut makanan itu dan memasukkannya ke mulut mereka.

Melihat ekspresi wajah Silvia dan Tiara, ibunya bertanya. “Apa makanannya masih enak, Nak?”

Mereka menjawab dengan serempak.

“Enak kok, Bu.”

Rasa penasaran Buk Iyes mendorongnya untuk mencicipi makanan itu. Seketika perutnya mual. Dia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan makanan yang ada di mulutnya. Saat ia kembali dari kamar mandi, kedua anaknya terdiam. Lalu buk Iyes menjelaskan kalau makanan itu dikasih tetangga mereka. Mereka berpelukan bertiga. Air mata mereka menetes. Semenjak itu, Silvia mulai bekerja paruh waktu di butik sahabatnya. Buk Iyes juga masih menerima cucian dari para tetangga.

“Maafkan ayah ya, Silvia, Tiara.” Pak Herman sedih sekaligus bahagia mendengar kelakar anak-anak dan istrinya.

“Maafkan Bapak juga ya, Bu. Jika saja waktu itu Bapak tidak mengalami kecelakaan, tentu kalian tidak akan mendapatkan banyak masalah.”

“Sudahlah, Pak. Ini bukan salah Bapak.” Buk Iyes menjadi tidak enak hati karena secara tidak sengaja ia sudah membuat suaminya jadi merasa bersalah.

“Iya, Yah. Ini bukan salah Ayah. Ini memang sudah takdir dari Allah. Kita tinggal menjalaninya. Dan yang lebih penting kan, hari ini kita bisa berkumpul lagi seperti dulu.”

Herman tersenyum mendengar ucapan Silvia. Kata-kata anaknya memang benar. Dan ia bersyukur karena hari ini dapat berkumpul dengan mereka.

“Ada yang lebih penting lagi, Kak.”

Kali ini Tiara sengaja menghabiskan makanannya yang di mulut dan meminum air jeruk.

“Apa itu?” tanya Silvia penasaran.

“Balas dendam kakak. Kakak harus balas kelakuan Bang Pazel dan ibunya selama ini terhadap Kakak. Kan Ayah sudah menunjuk Kakak untuk menjadi pemimpin di perusahaan ayah.”

“Tiara benar, Nak.”

Sesaat Herman diam. Lalu ia menghempaskan napasnya perlahan. Dia melanjutkan lagi kata-katanya.

“Sebenarnya Ayah sudah pernah datang ke rumah suamimu sebelum ayah datang menemui kalian. Ayah pikir kamu masih tinggal di sana. Tapi dugaan Ayah salah. Ternyata kamu sudah tidak di sana. Ayah sempat menanyakan keberadaan kamu kepada Pazel. Katanya, kalian sedang dalam proses perceraian.”

Dia menghentikan kata-katanya, sesaat kemudian ia lanjutkan lagi. Dia takut akan melukai perasaan anaknya. Jadi ia harus berhati-hati dalam bicara.

“Di sana Ayah bertemu dengan…” Dia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

“Dengan selingkuhannya, maksud Ayah?” Silvia menyambung kata-kata ayahnya tanpa beban. Senyum bahagia ia perlihatkan di depan keluarganya. Meski masih ada rasa sakit yang harus ia sembunyikan sebisa mungkin.

Semua terdiam. Hanya Silvia yang masih memakan nasi goreng dengan sangat lahap.

“Ayah tidak usah khawatir, Yah. Aku baik-baik saja. Aku sudah berdamai dengan keadaan. Bukankah semua yang kita punya di dunia ini adalah titipan dari Allah.”

Setelah bicara, ia agak terdiam sebentar. Lalu dengan cepat ia mencairkan suasana lagi.

“Tapi aku pastikan mereka akan mendapatkan balasan dari aku, seperti yang di katakan adikku tersayang.”

“Itu baru kakakku tersayang. Kalau begitu kan selera makanku jadi naik delapan puluh derajat.”

Mereka kembali tertawa gembira.

“Apa sekarang kamu sudah siap untuk bekerja di perusahaan kita, Nak?”

“Jangan sekarang, Yah. Aku harus pamit dulu dari tempat kerjaku. Pekerjaanku juga masih terbengkalai di sana. Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku dulu sebelum aku berhenti dari butik itu. Mungkin Minggu depan aku baru bisa bekerja di perusahaan ayah.”

“Bagus, Nak. Ayah bangga mempunyai anak yang bertanggung jawab atas pekerjaannya. Itu adalah jiwa seorang pemimpin. Kalau begitu Ayah akan umumkan di kantor bahwa Minggu depan adalah acara pelantikan presiden direktur perusahaan yang baru.”

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 19 Cinta Kedua & Terakhir: Bab 21

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image