Home / Uncategorized / Cinde Lara: Bab 26

Cinde Lara: Bab 26

Cinde Lara 1600x900
This entry is part 27 of 27 in the series Cinde Lara

Zhoya turun dari truk pikap dengan bantuan Sam. Punggungnya terasa kaku dan dia harus sedikit meregangkan badan untuk memastikan punggungnya masih utuh. Sam dan bapaknya mengeluarkan beberapa barang dari truk sementara Zhoya melihat-lihat.

Dia pernah membaca tentang kota dan desa, tetapi dia belum pernah benar-benar mengunjungi desa. Dia tidak tahu desa mana yang dimaksud, tetapi dia tahu tidak akan ada banyak perbedaan antara kota dan desa.

Hari itu cuaca cerah. Zoya tahu dari waktu di layar ponselnya bahwa saat itu sudah lewat pukul dua siang, perjalanan telah berlangsung sekitar satu jam.

Dia memperhatikan Sam mengerang sambil mengangkat papan dari truk dan dia tak kuasa menahan tawa.

“Apa yang kau tertawakan?” tanyanya sambil meletakkan papan di bahunya.

“Tidak apa-apa, hanya tangan kau lembek kali,” jawab Zhoya.

Sam hendak membalas ketika bapaknya, yang telah masuk ke rumah sebelumnya, keluar bersama seorang pria lain sambil mengunyah siwak di sudut mulutnya. Zhoya mengalihkan pandangan dan berjalan menjauh dari rumah untuk melihat desa kecil itu dengan lebih jelas.

**

Saat Cinde bergegas keluar rumah, ia hampir bertabrakan dengan pemuda yang datang membawa papan kayu, tetapi secara mengejutkan papan itu luput dari wajahnya.

“Hei, awas!” teriak pemuda itu.

“Aku baik-baik saja, terima kasih,” katanya, sambil mendekat ke dinding agar pria itu bisa lewat.

“Di mana aku harus meletakkan ini?” tanya pemuda itu, dan Cinde menunjuk ke ruangan yang baru saja dia tinggalkan sementara dia berjalan lebih jauh keluar ruangan.

**

Jun mendesis dan menggelengkan kepalanya ketika menyadari Cinde telah pergi tanpa mendengar apa yang ingin dia katakan. Dia mengangkat bahu dan memutuskan dia akan segera memberi tahunya. Matanya tertuju pada sepatu kaca yang tergeletak di lantai.

Dia tersenyum dan membungkuk untuk mengambilnya, tidak tahu di mana satunya berada. Ketika dia berdiri, hal pertama yang dia lihat adalah papan kayu yang begitu besar hingga menutupi wajah si pengangkut barang. Dia tetap membungkuk perlahan agar orang itu bisa masuk dengan mudah tanpa harus mencongkel matanya dengan papan kayu.

“Tenang,” katanya ketika orang itu mencoba menurunkan papan, membelakangi Jun. Jun sempat berpikir untuk membantunya, tetapi kemudian dia melihat Cinde berdiri di luar sambil tersenyum pada seseorang, dan sesuatu terlintas di benaknya.

Dia benar-benar perlu memberi tahu Cinde. Dengan pikiran itu, dia lupa apa yang ingin dia lakukan dan keluar dari ruangan.

***

Sam dengan hati-hati menurunkan papan kayu, menggelengkan kepalanya karena pria yang dia temui di sini bahkan tidak bisa menawarkan bantuan. Lagipula, dia tidak terkejut, bapaknya sudah dibayar. Dia meluruskan punggungnya dan keluar dari ruangan.

***

Zhoya masih di luar. Dia sudah berjalan sekitar dua rumah dari sana, berharap setidaknya akan menemukan seseorang yang mirip temannya, tetapi itu bodoh, jadi dia memutuskan untuk kembali.

***

“Gue pengen lu ketemu Cinde dan Jun,” kata Uwak Gamal.

“Oh! Mereka yang Abang bilang ikut sama kami ke kota?” tanya Parlin, bapak Sam.

“Bener. Lu kagak keberatan kan? Turunin aja di mana nyang lu pikir aman.”

“Beres, Bang,” jawab Parlin.

“Ayam kate bulunya burik. Makasih banyak, orang baik,” Uwak Gamal tak lupa berpantun.

**

Zhoya berhenti ketika dia melihat apa yang dia pikir mustahil. Dia sampai di rumah Uwak Gamal dan di sana ada temannya, sahabatnya, bestienya, orang yang selama ini ia cari dan…

Dia mengerjapkan mata lima kali.

Ini mustahil!

Dia segera buru-buru jalan, jantungnya berdebar kencang di dadanya dan dia berteriak sekeras-kerasnya—“CINDEEE!”

**

Cinde menoleh ke arah suara yang langsung dikenalinya.

Tidak, itu mustahil, jantungnya berdebar kencang dan kemudian tanpa ia sadari, mereka berdua sudah berpelukan. “Ya Tuhan! Bagaimana ini bisa terjadi… bagaimana?” Mereka berdua saling beradu, berpelukan, terengah-engah, dan melompat-lompat.

Kedua pria tua itu mengerutkan kening karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tuan Garuba bingung, sementara Sam mencoba mengingat dari mana ia mendengar nama ‘Cinde’.

***

Saat Jun keluar, dia bingung melihat Cinde dan seorang gadis berpelukan dan berbicara bersamaan. Dia tidak mengerti dan hendak bertanya ketika dia mendengar pria lain yang wajahnya tak dia lihat dengan jelas berkata, “Pangeranku.”

Ia mengerutkan kening, lalu mendongak untuk melihat wajah itu dan seluruh mulutnya ternganga, rahangnya ternganga.

“Ya Tuhan! Bapak!” teriaknya dan bergegas memeluk bapak teman. Johnson tertawa dan berteriak, “Sam, Sam, di mana kau?”

“Ya Tuhan. Sam ada di sini?” tanya Jun, menjauhkan diri dari ayah Sam ketika melihat temannya yang juga terkejut melihat wajahnya.

“Bajingan kau, bodat!” teriak Sam riang dan bergegas meninju temannya yang akhirnya memeluknya.

***

Tatiana tersenyum nakal di dalam mobil. Dia merasa lega. Sang pangeran telah ditemukan, begitu pula gadis yang satunya.

“Ya Tuhan!” teriak salah satu penjaga dengan gembira, membuka pintu mobil untuk bergegas keluar…

Tatiana memutar nomor sambil memperhatikan pemandangan dari tempatnya berada.

Dia berhenti ketika menyadari para penjaga yang bergegas keluar sebelumnya tidak menuju ke tempat sang pangeran berada, melainkan menuju sebuah mobil Porsche yang kini terparkir tepat di depannya, menarik perhatian Cinde dan yang lainnya yang mulai menyadari bahwa mereka tidak lagi sendirian.

***

“Apa yang terjadi?” tanya Zhoya, berbalik dan mengerutkan kening.

“Siapa orang-orang ini?” tanya Cinde, “kalian datang bersama?” tanyanya.

“Tidak!” Sam menjawab tetapi berhenti ketika melihat Porsche emas murni.

Semua orang memperhatikan sepasang kaki indah melangkah keluar dari mobil dengan jubah kerajaan menyapu lantai, bahkan sebelum para dayang kerajaan dapat menyusulnya.

Cinde terkejut ketika wanita itu merentangkan tangannya dengan air mata kebahagiaan mengalir dari matanya, “Anakku!”

Dia melihat ketika Jun menjauh dari mereka dan berjalan ke arah wanita itu sebelum akhirnya memeluknya, “Ibunda, Jun merindukan Ibunda.”

Dia tidak bisa mengerti dan begitu pula Uwak Gamal yang menatapnya dengan bingung.

“Tangkap mereka!” Wanita itu berteriak kepada para pengawal, menunjuk ke arah Sam.

Ini membuat Jun kaget.

“Apa yang Ibunda lakukan, Ibunda? Tunggu… berhenti!” Dia berteriak kepada para pengawal yang sekarang bergegas menuju Cinde dan yang lainnya.

“Zhoya?” tanya Cinde.

Zhoya menariknya, “Ayo pergi, cepat, ayo pergi, Sam.”

Cinde bingung, tetapi dia melarikan diri bersama temannya dan kedua pria itu, meninggalkan Uwak Gamal. Dia tidak mengerti apa-apa dan dia juga tidak bisa berhenti menatap Jun yang kini dia sadari sebagai orang asing.

Cinde Lara

Cinde Lara: Bab 25

Penulis

  • Alexis

    Pengarang  novel Lamaran atau Pinangan? (Pimedia, 2022) dan (Deception) Ingkar Jodoh (Pimedia, 2022). Segera terbit, Penyintas Terakhir.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image