Home / Topik / Menjadi Penulis: Mengapa Penulis Menyerah, Padahal Seharusnya Tidak

Menjadi Penulis: Mengapa Penulis Menyerah, Padahal Seharusnya Tidak

Menjadi Penulis 20260417

Pagi ini aku meluangkan waktu untuk merenungkan dunia mimpi aneh yang kumasuki sebagai penulis profesional.

Aku selalu membayangkan bahwa suatu hari nanti, bukuku akan diterbitkan. Itu selalu menjadi pemikiran yang terpendam. Sebuah mimpi yang mungkin terwujud kalau aku beruntung.

Sekarang aku lupa berapa bukuku yang sudah terbit. Tapi dalam tahun ini kau berencana menerbitkan setidaknya enam buku.

Aku ingin melihat kembali semua alasan mengapa aku harus menyerah melakukan hal yang paling aku cintai. Mungkin—hanya mungkin—ini akan beresonansi dengan Anda. Dan mungkin tulisan ini akan membuat Anda terus berjuang untuk mencapai mimpi apa pun yang selalu ingin Anda kejar.

Mentalitas “Pekerjaan Nyata”

Ini adalah inti dari pengalaman sekolah mengengah. Menulis itu hebat. Kreativitas itu luar biasa. Tapi itu bukan pekerjaan nyata, kan? Bukankah Anda lebih suka menjadi insinyur, dokter, pegawai negeri, atau aparat?

Ini datang kepada saya dari segala arah, tetapi aku justru ibuku sendiri menertawakan gagasan bahwa menulis adalah sebuah karier.

Aku tidak menyalahkannya. Sejujurnya, aku pikir ada kepercayaan di masyarakat bahwa seni hanyalah hiburan sampingan, tetapi bukan pekerjaan realistis bagi mereka yang ingin hidup dan menghidupi keluarga. Dan, hei, banyak penulis akan mengatakan bahwa ini sulit. Membangun karier dari menulis, seperti kebanyakan hal, membutuhkan dedikasi, dorongan, dan keterampilan yang terus berkembang.

Namun tetap saja, ekspektasi dan perlakuan terhadap karier artistik membuatku ingin membingkai invoice dari buku pertamaku dan menggantungkannya di dinding.  Sejauh ini aku telah menahan godaan itu.

Mentalitas “Penulis Sejati”

Terlepas dari hambatan-hambatan ini, aku berkumpul dan belajar dari mereka yang sudah lebih dulu meniti karier sebagai penulis. Dalam banyak hal, aku telah menemukan orang-orangku. Sesama mahasiswa yang menelaah buku seolah-olah itu adalah museum besar yang penuh dengan harta karun tersembunyi. Orang-orang yang ingin berdebat tentang karakter dalam cerita.

Ya, akhirnya, ya!

Kecuali, saat itu aku bukan penulis sejati.

Ketika awal aku menulis bab-bab novel fantasi, alih-alih sketsa dunia nyata yang tajam, beberapa setelah kubaca ulang membuatku mengangkat alis dan menyebut karyaku sendiri sebagai sampah genre. Lebih dari sekali aku mendapat saran untuk menggunakan keterampilan yang kumiliki dan menerapkannya pada penulisan yang tepat.

Aku menyukai menulis saat itu, tetapi para ahli dan mentor memberi tahu jenis tulisan apa yang seharusnya aku sukai, dan itu bukanlah jenis tulisan yang sebenarnya ingin aku tulis.

Penolakan Pertama

Semasa SMA, aku mencoba  menulis cerpen untuk sebuah majalah remaja. Aku ingin terus maju. Aku ingin menjadi lebih baik.

Aku gagal, tulisanku ditolak. Sangat sulit untuk mengalami penolakan pertama itu. Selama bertahun-tahun  kemudian, aku tidak banyak menulis. Kalau aku tidak bisa lolos seleksi pertama, bisakah aku benar-benar menulis sesuatu yang berharga?

Penolakan Kedua

Aku mulai menekuni penulisan dengan lebih serius selama masa kerja sebagai konsultan freelancer. Aku bergabung dengan kelompok menulis. Aku menyelesaikan novel pertama saya. Awalnya sangat menyenangkan … setelah puluhan pertanyaan dan puluhan penolakan, rasanya tidak semenyenangkan itu lagi.

Ada satu penerbit yang tertarik dan meminta naskahku. Meski akhirnya diterbitkan, tapi sudah diobrak-abrik, yang bagiku sama saja seperti penolakan.

Aku kecewa, tetapi mampu mengakui pada diri sendiri bahwa tulisanku mungkin bukan yang terkuat.

Aku bisa berbuat lebih baik. Sudah waktunya untuk beralih ke cerita lain.

Penolakan Ketiga

Jadi aku menulis buku lain. Kali ini, aku pikir, aku telah menulis sesuatu yang cukup bagus. Para pembaca beta terobsesi dengan karya tersebut. Aku ingat dengan berani mengatakan kepada orang-orang bahwa aku yakin ini adalah buku yang akan membuatku mendapatkan penghargaan. Setelah sekitar puluhan pertanyaan setengah dari pertanyaan yang biasa, aku tahu kalau aku salah.

Tidak ada yang menginginkannya. Penolakan ini lebih menyakitkan, karena aku  pikir mungkin aku tidak cocok menjadi penulis. Dua buku telah membuktikan itu benar, bukan?

Tapi aku tidak menyerah.

Pada Mei 2015, aku mengirimkan buku kepada penerbit kenalan. Aku memasarkannya dan mendapat sambutan yang bagus. Dan sejak saat itu aku menulis dan terus menulis.

Aku terus menulis karena beberapa alasan.

Pertama, aku memang sangat menyukai cerita. Aku tidak pernah merasa cukup dengan buku, film, dan kehidupan. Kalau Anda pernah menghabiskan lebih dari tiga puluh menit bersamaku, Anda tahu bahwa aku tidak bisa menahan diri.

Aku selalu menjawab dengan, “Itu mengingatkanku pada…..”

Kedua, di antara momen-momen pahit dan mengecewakan itu, aku punya teman, keluarga, dan guru yang menyemangatiku. Ada jeda selama tiga tahun di mana aku tidak menulis apa pun, tetapi bahkan sedikit dukungan saja sudah membuatku kembali menulis. Menemukan orang yang tepat untuk mendorong Anda dalam gairah Anda sangat penting.

Jadi jangan menyerah.

Abaikan penolakan. Abaikan ekspektasi masyarakat. Temukan orang-orang yang ingin Anda sukses. Teruslah menulis cerita yang hanya Anda yang bisa tulis.

Aku akan menunggu untuk membacanya.


Jawa Barat, 17 April 2026

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Bab 13. Serangan (Part 1)

Bab 13. Serangan (Part 1)

Pintu

Pintu

Menjadi Penulis: 6 Aturan untuk Sukses dalam Menulis

Menjadi Penulis: 6 Aturan untuk Sukses dalam Menulis

Untuk Mati

Untuk Mati

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir

Antologi KompaK’O

Random image