“Bisakah kamu jangan terlalu dekat dengan mereka, mereka pasti tidak melihat kita sedang membuntuti mereka?” bentak Tatiana pada sopir.
“Putri, bolehkah aku bertanya mengapa kita membuntuti mereka, bukannya menyelamatkan pangeran? Mana yang lebih penting?” tanya sopir.
“Itu bukan urusanmu, lakukan saja apa yang kuminta,” balasnya ketus.
Dua penjaga lain yang duduk di belakang bertukar pandang.
“Kurasa kita harus memberi tahu ratu. Beliau meminta kita untuk mengikutimu menyelamatkan pangeran dan tidak membuntuti siapa pun. Ini benar-benar buang-buang waktu kami,” teriak salah satu penjaga.
Tatiana berteriak pada mereka.
“Tidak ada yang boleh menelepon ratu kecuali aku, jadi teruslah mengikuti dan diam!”
Setelah itu, telepon berdering dan Tatiana mengeluarkan telepon yang diberikan ratu.
“Halo ratu, kami masih dalam perjalanan dan—”
Tatiana terdiam mendengarkan ratu berbicara.
“Baiklah ratu, tapi saya ingin bukti dulu sebelum mengirim apa pun kepada Anda dan … ya, saya yakin saya bisa menyelamatkan pangeran dan … baiklah ratu, saya akan mengirimkannya sekarang,” katanya, lalu memutuskan hubungan.
Tatiana membuka Google Maps dan mengirim koordinatnya kepada ratu.
Para penjaga terdiam. Tatiana tahu mereka mungkin menertawakannya dalam hati.
“Teruslah mengemudi!” dia berteriak lagi, “Sebaiknya kalian bersikap baik padaku karena aku akan menjadi ratumu dan kalian harus tahu bahwa aku punya daya ingat yang sangat kuat.”
Tak seorang pun berkata apa-apa.
Sekarang satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah berdoa semoga Zhoya dan Sam tidak menyesatkannya ke tempat yang salah karena sang ratu akan datang dengan pengawalnya sendiri.
***
Cinde sedang berada di kamar, melipat tikar tempat mereka tidur semalam. Pintu terbuka dan Jun masuk. Rasanya agak canggung karena mereka belum pernah berduaan lagi sejak semalam.
“Hai,” sapa Jun, berjalan mendekatinya.
“Hai,” balas Cinde, lalu melanjutkan pekerjaannya.
“Jadi…” Henry berkata sambil bersandar di dinding. “Ada yang lu mau ceritain ke guea?”
Cinde mengerutkan kening.
“Cerita apaan?”
Jun meninggalkan tempatnya dan berjalan menghampirinya. “Itu tuh, kejadian waktu—”
“Oh, Festival Oro, gue ketiduran, gue nggak inget. Bleng,” jawab Cinde menyembunyikan senyum.
“Oh, bagus, hebat banget. Jadi lu secara ajaib ketiduran, eh, Putri?”
Cinde terkekeh dan tidak menjawab.
“Wow, gue rasa gue udah dapet kata koncinya,” kata Jun sambil menunjuk Cinde. “Lu cengar cengir artinya lu demen ciuman semalem. Gue yakin entu ciuman paling de best yang pernah lu rasain.”
Ella mengangkat bahu. “Mana gue tau. Entu pan ciuman pertama gue. Kali aja yang kedua gue baru tau rasa yang sebenarnya gimana. Enakan yaang semalam apa yang entar,” godanya.
“Hmmm,” Jun meraih tangan Cinde.
“Jadi lu minta gue cium lagi?”
“Maksud gue, dari cowok laen,” jawab Cinde sengaja menggoda dan senyum Jun lenyap dari wajahnya.
“Kenapa gitu?” tanya Jun.
“Apaan. Gue cuma becanda.” jawab Cinde, kaget karena Jun menganggapnya serius.
Jun meraih tangannya yang lain dan menariknya lebih dekat.
“Gue kagak ngijinin orang laen nyium bibir lu, Cinde. Yang boleh nyium lu cuma gue.”
Cinde mengangkat alis, perutnya terasa aneh lagi.
“Lu ngomong apa sih, Jun?”
“Maksud gue, semua ini sungguh bodoh sekaligus indah. Maksud gue, meskipun beberapa hari terakhir ini adalah hari-hari tersulit dalam hidup gue, hari-hari itu juga merupakan hari-hari terbaik, karena lu ada di setiap hari-hari itu. Kekepin lu, nengokin lu, lari bareng, seperti petualangan terbaik yang pernah gue rasain. Gue belum pernah sebahagia ini, karena gue bersama lu.”
Cinde mendesah melepas napas pendek. Dia bisa melihat ketulusan di mata Jun dan karena mereka saling berpegangan tangan, dia merasa hangat menjalar di sekujur tubuhnya.
“Gue merasakan hal yang sama, Jun.” kata Cinde, “Gini, gue anak yang ngejalanin hidup gue dengan satu cara. Gue selalu mendengarkan perintah. Gue bolak-balik dibilangin ancurnya hidup gue, tetapi dengan lu, gue merasa seperti gue satu-satunya cewek di planet bumi enih. Gimana cara lunatap gue. Rasanya ada getar-getar di dada, gitu.”
“Seperti kepak sayap kupu-kupu?” tanya Jun sambil tersenyum, mengangkat tangan kiri Cinde ke bibirnya.
“Bener, kek ada kupu-kupunya, gitu,” jawab Cinde.
“Saya rasa saya jatuh cinta padamu, Cinde.” Jun pindah ke mode bahas baku. “Saya ingin berada di sisimu siang dan malam, dan saya ingin berbagi semua yang saya miliki denganmu. Saya hanya berharap kita bisa tinggal di sini selamanya, tanpa harus pergi ke mana pun kecuali…”
Jun berhenti ketika teringat Sam.
“Ada orang yang membutuhkan kita,” jawab Cinde, teringat Zhoya.
“Ya, betul betul betul,” jawab Jun sambil menyibakkan rambut Cinde ke belakang dengan tangannya. “Ada begitu banyak hal yang tidak saya ketahui tentang kamu, Cinde, dan begitu banyak yang saya harap bisa saya dedahkan padamu jua.”
“Baiklah, kamu bisa mulai dengan sesuatu,” balas Cinde, ikut berganti mode bicara ke bahasa baku.
Jun mendesah, memikirkan bagaimana memulainya.
“Perjamuan Ratu. Kamu bilang kamu pikir pangeran bodoh karena melanjutkan rancangan itu.”
“Ya, saya bilang begitu karena dia bisa pergi keluar, menemukan seseorang, jatuh cinta, dan menikah, kenapa harus mengadakan perjamuan bodoh?”
Jun tersenyum, mencium tangan Cinde yang lain. Jun takjub karena mereka bisa bernalar dengan cara yang sama.
“Yah, mungkin saja, tapi melalui rencana bodoh, akhirnya dia jatuh cinta pada seorang wanita yang persis seperti yang selalu diinginkannya, dan saya rasa sekarang, dia siap untuk menikah dengan cinta sejatinya.”
Cinde mengerutkan kening.
“Oke, oke. Bagaimana kamu tahu itu? Apa kamu penasihat khusus sang pangeran?” Cinde bercanda, tetapi Jun tampak serius.
Jun menjilat bibirnya lalu mendesah, menutup matanya, dan berkata, “Cinde, akulah—”
“Anak-anak, ayo. Tumpangan kalian ke kota sudah datang,” kata Wak Gamal yang langsung membuka pintu lalu menutupnya kembali tanpa masuk.
Cinde melompat kegirangan.
“Ya Tuhan! Ayo Jun. Akhirnya kita pulang.” “Tunggu! Kamu harus dengar apa yang ingin saya katakan,” teriak Jun. Tapi Cinde sudah keluar dari kamar.









