Home / Topik / Renungan Kehidupan: Ketika Sebuah Janji (Utang) Tak Kunjung ‘Terbayar’, Apa Dapat Kita Lakukan?

Renungan Kehidupan: Ketika Sebuah Janji (Utang) Tak Kunjung ‘Terbayar’, Apa Dapat Kita Lakukan?

Renungan Kehidupan 20260505
3

Bicara mengenai kata uang, tak bisa lepas dari kata utang. Beda hanya satu huruf saja, uang dan utang seringkali menjadi momok.

Uang, siapa tidak membutuhkannya? Uang yang entah mengapa tak pernah cukup meskipun seseorang sudah tiba pada puncak kesuksesan, kaya-raya, ternama, berkuasa. Uang bisa berlimpah-limpah, namun tidak lantas juga hadir rasa kecukupan. Banyak pasangan selebriti berpisah karena kesibukan mencari uang. Banyak keluarga berada hancur berantakan, sudah jelas bukan karena kekurangan, melainkan ketiadaan waktu berkualitas dengan alasan lagi-lagi ‘sibuk mencari uang’. Jadi, apakah uang itu ‘jahat’ atau dianggap ‘sumber kejahatan’?

Hidup (manusia) masih butuh uang, meskipun Tuhan Sang Maha Memelihara. Apabila pada zaman dahulu kala manusia nenek moyang kita berusaha memenuhi kebutuhan dengan berburu dan meramu, hingga tercipta sistem barter, pada zaman now rasanya tidak semua masih relate atau dapat dilakukan sehari-hari. Uang kita cari lewat pekerjaan, usaha, ada sumbangsih tenaga dan talenta yang kita luruhkan. Uang kita peroleh sebagai imbalan, balas jasa. Uang yang dibutuhkan agar terjadi perputaran, saling memberi dan menerima. Uang diperlukan untuk membayar tagihan listrik atau air, uang sekolah anak-anak, menggaji asisten rumah tangga, belanja kebutuhan sehari-hari, hingga membeli secangkir kopi kekinian yang diidam-idamkan. Uang bisa ‘membantu’ ketika butuh jasa dokter hingga salon, untuk kita berobat agar sembuh dari sakit, hingga mahkota diri yang terpangkas rapi. Uang bisa juga untuk investasi agar di masa pensiun bisa tetap memenuhi kebutuhan. Uang sering diibaratkan sebagai ‘hamba yang baik’ apabila pemegangnya mampu memanfaatkan dengan baik.

Namun uang juga bisa menjadi sumber/awal mula ‘kejahatan’. Uang yang digunakan untuk top-up judol. Uang yang digunakan untuk membeli barang-jasa ‘terlarang’. Uang panas yang didapatkan dari semua hal negatif.

Begitu pula janji, seperti halnya uang, begitu ‘mudah’ meluncur dari mulut atau ketikan chat kita. Namun ketika sebuah janji terucap, lahir pula ‘utang’ yang menunggu untuk ditepati (dilunasi).  

  1. Janji seringkali mudah terucap, akan tetapi berhati-hatilah, karena janji lebih banyak kurang atau tidak ditepati. Saat terdesak, kita dengan mudah berjanji. Janji yang dipenuhi semakin meningkatkan kepercayaan. Janji yang terlambat atau tidak dipenuhi sebaliknya, memudarkan kepercayaan.
  2. Sangat banyak jenis janji, mulai dari janji suci alias antara pasangan suami-istri hingga Janji Jiwa (eh, itu mah merek kopi!). Satu janji yang sering dikatakan namun lebih sering dipungkiri daripada dipenuhi adalah janji tentang uang, apalagi pelunasan utang. “Saya akan bayar setelah gajian!” atau, “Saya janji akan segera melunasinya begitu panen saya berhasil dan terjual!”
  3. Janji sama seperti kata-kata lain, gratis diucapkan namun memiliki makna, menimbulkan harapan. Akan tetapi janji yang diabaikan atau dilalaikan si pengucap memiliki konsekuensi. Mungkin tidak secara langsung. Mungkin bahkan tidak terasa, gak selalu instan atau menyakitkan. Akan tetapi baik si pemberi hingga penerima janji sama-sama ‘tersiksa’, yang satu dalam penantian/ketidakpastian, sedangkan yang satu lagi tanpa sadar menabung ‘dosa’. Bukan seperti dosa yang seringkali dianggap besar/hebat karena ‘perbuatan jahat’, melainkan dosa ‘tanpa perbuatan’ yang bahkan dapat lebih menyedihkan sanksinya. Hubungan sosial merenggang. Kehilangan kesempatan baru. Hidup jadi gak tenang, dihantui rasa bersalah. Merasa dikejar-kejar dan dibicarakan hingga timbul prasangka negatif, overthinking. Semua itu bisa berakhir pada hal-hal yang jauh lebih buruk; gangguan mental hingga pada waktu-Nya, takdir Tuhan, Sang Hakim Maha Adil, sudah menanti.

Jangan sekali-kali anggap ringan sebuah janji. Hendaklah kita lambat dalam berjanji, cepat dalam memenuhi atau melunasi. Kata-kata ringan dan mudah terucap, akan tetapi berat dan sukar untuk dibuktikan. Semoga kita selalu dimampukan Tuhan Yang Maha Esa memenuhi semua kebutuhan yang masih membutuhkan uang hingga memenuhi janji (pelunasan utang). Amin.

Semoga bermanfaat.


Tangerang, 5 Mei 2026

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image