Hawa pembunuh yang aneh menyelinap dengan amat mendadak, membuat Bay dan Na saling melontar pandang dengan kening berkerut. Keduanya bangkit dengan sigap, dan mengawasi sekeliling danau dengan penuh kewaspadaan.
Tapi tak ada pertanda apapun mereka temukan yang menunjukkan kehadiran seseorang. Sementara hawa pembunuh semakin tebal menyergap.
Kembali mereka berdua saling menatap dengan penuh keheranan.
Belum lagi keheranan mereka lenyap, ketika arus tenaga yang sangat kuat menghantam dari belakang, memaksa mereka berjungkir balik menghindar.
“Siapa pengecut yang hanya berani membokong dari belakang…?!” gembor Bay dengan amat murka. Sementara Na telah siaga di sampingnya dengan pedang terhunus.
“Kau yang bernama Bay?” sebuah suara serak yang amat tak sedap menimpali gemboran Bay, bersamaan dengan kemunculan sosok tua renta berjubah abu dengan rambut perak sebahu.
Bay dan Na terkesiap, karena kemunculan sosok ini benar-benar tak tertangkap oleh telinga mereka, menandakan ginkang sang pendatang yang tak mudah diukur.
“Benar, aku yang bernama…”
Belum lagi Bay menyelesaikan ucapannya, ketika sosok berambut perak tersebut menyerangnya dengan pukulan yang amat cepat.
Wuzz…! Plak!
Bay terpental ke belakang karena tenaganya kalah kuat, sementara Si Rambut Perak kembali melancarkan pukulan, yang baru setengah jalan berubah menjadi cengkeraman.
“Mati aku!” pekik Bay dalam hati, menyadari bagian dadanya yang terbuka buah gerak tangkisannya tadi, kini hanya berjarak dua cun dari tangan yang hendak mencengkeram.
Tring! Blug!
Bay kembali terlempar. Tapi dia bersyukur tak kurang suatu apapun juga, karena beberapa saat sebelum ajal mengundang, pedang Na menebas tangan yang nyaris mencengkeramnya itu, yang ternyata terbuat dari jenis logam tertentu yang bahkan tak mempan pedang mustika.
Bay tak bisa lebih lama mengempos, karena dilihatnya Na keteteran melayani jurus-jurus aneh dari Si Rambut Perak itu.
Dengan satu lompatan besar, Bay kembali terjun ke dalam pertarungan, dan menyerang dengan jurus Mobil Listrik Mengapa Bisa Tak Lulus Uji Emisi, berbarengan dengan serangan Na menggunakan gerakan Dari Hujan Ke Hujan Kita Menggigil Bersama.
Tapi walaupun sudah mengeroyok Si Rambut Perak, Bay dan Na tetap saja sukar melawan. Berkali-kali mereka berganti serangan, semuanya kandas di tengah jalan, membuat mereka terdesak ke dinding tebing gua tempat tinggal Na.
Si Rambut Perak kembali menyerang. Kali ini serangannya bukan olah-olah hebatnya. Agaknya ingin menamatkan riwayat mereka berdua seketika itu juga.
Bay memandang Na dengan sedih, merasa bahwa inilah terakhir kali dia bisa melihat nona cantik yang telah menolongnya itu.
“Jangan menyerah dulu, Bay. Kau tahan pukulan tangan kanannya dengan sekuat tenaga, sementara aku akan coba untuk mengutungi yang kiri,” bisik Na dengan tatap mata yang mengandung arti mendalam.
Melihat tatap yang seperti itu, entah dari mana datangnya Bay merasa ada sebuah kekuatan yang memantik semangatnya hingga menjadi amat berkobar.
“Baik. Kita serang berbarengan pada hitungan yang ketiga,” bisik Bay.
“Tiga…!!!” teriak Bay langsung ke hitungan yang disepakati, membuat Na merasa ingin tertawa sekaligus menangis, sebab orang gila mana yang di saat segenting ini masih sempat bercanda?
Bay memapak tinju kanan si rambut perak dengan pukulan Menolak Neraka Mengetuk Pintu Surga, berbarengan dengan kelebat pedang Na menggunakan jurusBersama Gerimis Menghapus Sedih Nan Mengiris.
Berhasil!
Si Rambut Perak agak kaget ketika gempurannya tertahan. Ia merasa seperti ada dinding ghaib yang menyerap serangannya lalu berbalik menghantam dengan amat telak, hingga tak urung dadanya terasa agak nyeri.
Si Rambut Perak tak percaya bahwa dua anak muda tersebut berhasil mengatasi serangannya. Ia hanya merasa terlalu ceroboh hingga menyerang dengan tenaga yang terlalu ringan. Segera ia mengumpulkan semangat untuk kemudian menerjang dengan lebih dahsyat.
Betapa girangnya Bay dan Na, ketika tahu bahwa serangan gabungan mereka berhasil menolak mundur sang musuh. Maka ketika Si Rambut Perak kembali menyerang, dengan berbesar hati mereka kembali memapaknya.
Tapi kejadian berikutnya membuat hati Bay mencelos. Jurus Kebesaran Pribadi Bukanlah Karena Melulu mengkritisi dipotes oleh cakar Si Rambut Perak, yang dilanjutkan dengan tendangan melingkar ke arah bahu dan kepala Bay dan Na sekaligus.
Dess! Dug!
Bahkan Langkah Bayangan Mengejar Sinar yang super kilatpun tetap tak mampu membuat Bay menghindar sepenuhnya. Pinggang bawahnya sakit luar biasa terhantam tendangan Si Rambut Perak, sementara telapak tangan Na pecah berdarah sewaktu badan pedangnya disodok oleh cakar maut Si Rambut Perak.
Kembali mereka berdua terdesak, hingga pada titik yang paling genting Bay tanpa sadar mengeluarkan jurus Mengapa Doa Tak Kau Ucap Sesungguh Kata dan Na mengiringi dengan Tarian Bianglala Memulas Angkasa.
Lagi-lagi keanehan terjadi. Si Rambut Perak kembali terkaget ketika serangannya punah membentur gabungan jurus milik Bay dan Na.
Sejenak Si Rambut Perak terpaku, untuk kemudian tertawa menggidikkan dengan sorot mata yang berkilat serta otot-otot yang bergemerutuk di sekujur tubuhnya. Agaknya dia telah bersiap mengumpulkan seluruh tenaga yang dimiliki untuk menyerang.
Pada saat yang bersamaan Bay dan Na tengah berunding satu sama lain, sambil menghimpun hawa murni yang mereka miliki, siap untuk menghadapi serangan puncak yang gelagatnya akan segera dilakukan.
“Sepertinya jurus terakhirmu berjodoh dengan rangkaian jurus pedang hujan milikku, Bay, Bagaimana jika kita gunakan sekali lagi untuk melawan serangan Si Rambut Perak,” bisik Na sambil tetap berfokus melihat ke arah musuh.
Deg! Bay terhenyak, tapi langsung tersenyum penuh suka cita.
“Ah, saya memang bodoh, Na. Sudah jelas sebelumnya kita berhasil menahan serangan Iblis Perak itu dengan gabungan pedang hujanmu dan jurus yang saya pelajari dari Kitab Catatan Seorang Sufi, mengapa saya malah tetap tidak menyadarinya?” bisik Bay sambil mengetuk-ngetuk jidat dengan ujung jari. “Tapi entah dapatkah gabungan jurus kita ini akan mampu melawan serangannya…”
“Tak usah berpikir segala macam, Bay, yang penting kita upayakan saja dengan sekuat tenaga,” jawab Na dengan suara lirih yang amat mengandung ketegasan, membuat Bay kagum akan ketegaran jiwa nona di sampingnya itu.
Na menggerak-gerakan pedang dengan jurus Butir Hujan Membasuh Nyeri yang amat gemulai, yang bersambung dengan Tarian Hujan Membias Pelangi. Tubuhnya berpusing di udara, dengan sinar pedang yang berkelebat-kelebat membungkus seluruh dirinya dengan amat menawan, membuat Bay meleletkan lidah melihat keindahan jurus Na yang amat luar biasa itu.
“Masuk, Bay!” seru Na sambil memainkan Gerimis Pedang Menyeka Penjuru Dunia.
Dengan agak deg-degan Bay menyelusup ke dalam tarian pedang Na, khawatir jurus yang dipergunakannya tidak sinkron dengan gerak pedang yang lincah menari itu. Kakinya melangkah zig-zag mengimbangi gerak tubuh Na menggunakan Langkah Bayangan Mengejar Sinar dengan putaran yang berlawanan, sementara tangannya tak berhenti melancarkan pukulan Mencari Rahmat Memohon Syafa’at, yang dilanjutkan dengan Akhlakmu Cermin Ibadatmu sertaBersama Meniti Jalan Menuju Tuhan Tanpa Cacian dengan amat sebat.
Dua tubuh berjajar ke atas secara harmoni, dengan tubuh Bay yang berputar ke kiri di bagian bawah, dan badan Na yang berpusing searah jarum jam satu dim di atas kepala Bay, menimbulkan medan hawa murni yang amat besar.
Sesekali bayangan pukulan dan kelebat pedang memancar ke sekeliling arus tenaga yang membentuk lingkaran itu. Sementara Sosok berambut perak terlihat semakin menyeramkan. Jubah abunya menggelembung penuh hawa sakti, dengan sorot mata yang berkeredep tak henti-henti. Agaknya telah mencapai puncak dari seluruh kekuatan yang dimiliki.
Si Rambut Perak berjalan mendekat. Setiap langkahnya menimbulkan jejak tapak berlubang sedalam lima dim di tanah.
Sambil terus berpusing, Bay dan Na saling bertukar pandang. Bay mengangguk perlahan kepada Na yang tersenyum. Keduanya telah sama mengerti, bahwa pada situasi yang seperti ini, kata-kata tak lagi cukup untuk mewakili perasaan mereka yang entah sejak kapan telah menyatu itu.
Sekali lagi Na tersenyum, yang kembali dibalas oleh Bay dengan anggukan, sebelum keduanya bersepakat untuk mempertaruhkan satu-satunya nyawa yang mereka punya pada serangan yang terakhir kalinya.
Bay dan Na menggempur dengan sepenuh tenaga, berbarengan dengan terjangan maha dahsyat dari Si Rambut Perak, menimbulkan dentuman besar yang menghancurkan segala yang ada di sekitarnya dalam radius lima li…










