Beranda / Genre / Romansa / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 38

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 38

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 39 of 70 in the series Cinta Kedua & Terakhir

“Oh iya, Ma, Bu. Apa aku boleh bicara berdua dengan Silvia sebentar?”

Sulastri melihat ke arah Iyes dan Iyes pun memberi izinnya dengan baik.

Dokter Dana menuntun tangan tunangannya untuk menjauh dari mama dan ibunya, serta adik-adiknya dan juga Rani.

Rani memandang kepergian mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Tidak ada satu orang pun yang menyadari betapa tercabik-cabiknya perasaannya hingga membuat matanya memanas.

“Ada apa, Mas? Kan gak enak sama Mama dan Ibu.” Silvia pura-pura ikut dengan terpaksa, padahal hati kecilnya memang ingin selalu berdua dengan Dokter Dana.

Dokter Dana tahu kalau Silvia hanya berpura-pura dan dia pun pura-pura mengikuti kepura-puraannya.

“Iya, ya. Gak enak juga sama Mama dan Ibu. Sebaiknya kita kembali ke mereka.” Sambil pura-pura berbalik dan menuntun tangan Silvia lagi ke arah Mama dan Ibunya senyumnya tersimpul tanpa terlihat oleh Silvia.

Silvia menyesal telah berpura-pura. Dia mencari ide agar dia tetap bisa berdua dengan Dokter Dana. Hingga dia menemukan sebuah ide dan mencobanya.

“Mas,” panggilnya. Dia berharap idenya akan berhasil.

“Ya, Sayang,” ucap Dokter Dana menghentikan langkahnya.

“Kita sudah jauh dari mereka. Ya sudahlah, nanti saja kembalinya. Bukankah tadi ada yang ingin Mas bicarakan berdua denganku?”

Dokter Dana berdiri sangat dekat dengan Silvia. Sebenarnya dia masih ingin mempermainkan pujaan hatinya ini. Tapi dia tidak bisa melakukannya saat melihat tatapan mata yang indah itu begitu menggetarkan relung hatinya.

Jika saja mereka tidak berada di ruangan pesta, dia tidak akan bisa menahan perasaan untuk memeluk dan mencumbu wanita yang sangat dicintainya itu.

“Baiklah, Sayang. Kamu benar juga,” bisiknya di telinga Silvia.

“Seluruh tubuh Silvia terasa hangat. Dia terhanyut dalam khayalan saat mendengar bisikan indah suara orang yang dicintainya.

Dia menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.

Dokter Dana semakin mendekatkan wajahnya dan mencium kening Silvia dengan lembut. Dia ingin mencium bibir indah Silvia namun dia tidak ingin orang lain melihatnya. Maka dia mengurungkannya.

“Sayang. Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sama kamu. Tapi sepertinya bukan sekarang tempat dan waktu yang tepat untuk membicarakannya.”

“Jadi?” tanya Silvia.

“Jadi, sekarang aku hanya ingin merayakan hari spesial ini denganmu dan keluarga kita.”

“Hmm, iya, Mas.”

“Sayang. Aku sangat mencintaimu.”

“Aku juga, Mas.”

“Juga apa?” goda Dokter Dana.

“Mencintaimu.” Silvia menjawab dengan sangat mantap, karena dia memang sangat mencintainya.

“Kenapa kita harus bertunangan, sih?”

“Maksud Mas? Apa Mas menyesal bertunangan denganku?”

“Ya.”

Silvia terdiam, matanya pun mengembun.

Dokter Dana menyadari hal itu. Dia segera memeluk pinggang ramping Silvia. “Maksudku seharusnya kita langsung menikah saja, Sayang.”

Silvia segera merebahkan badannya ke pelukan Dokter Dana. Dia sangat takut kehilangan lagi orang yang dicintainya.

Saat itu terdengar suara pembawa acaranya mengatakan bahwa akan ada seorang artis terkenal yang akan menyanyikan sebuah lagu.

Dokter Dana mengajak Silvia lagi untuk berkumpul dengan keluarga mereka. “Tidak baik juga lama-lama bicara berdua saat acara sedang berlangsung,” ucap Dokter Dana.

Sebuah lagu dangdut yang sangat merdu dinyanyikan oleh seorang artis bernama Listi. Suaranya sangat merdu dan indah.

***

Satu Minggu kemudian, Silvia sedang bersiap untuk berangkat ke kantor barunya. Pukul enam tiga puluh dia sudah rapi dengan setelan resminya.

Pakaian yang dia kenakan bukan kaleng-kaleng. Dia memakai pakaian dari merek terkenal. Sebagian pakaian dari merek terkenal dia dapatkan sebagai hadiah pertunangan dari perusahaan tersebut.

Tapi dia lebih memilih pakaian yang dihadiahkan Dokter Dana untuknya. Warna dan desainnya sangat cocok dengan warna kulit dan postur tubuhnya.

Dia terlihat cantik, anggun dan berwibawa. Ditambah sepatu hak yang tidak terlalu tinggi semakin menambah wibawanya sebagai seorang bos.

Para pengawal berbaju jas warna hitam juga selalu siaga untuk menjaganya.

Dia menuruni anak tangga dengan diikuti para pengawal pribadinya. Senyumnya merekah saat matanya melihat seseorang yang sedang duduk manis menunggunya di sofa ruang tamu.

Laki-laki yang sangat tampan dan rupawan. Silvia merasa berada di alam mimpi saat melihat ada lelaki setampan tunangannya.

Silvia sampai di lantai bawah. Dia segera menghampiri tunangannya dan mencium punggung tangan kanan tunangannya. Dokter Dana pun membelai kepala tunangannya dengan tangan kiri dan mendekatkannya untuk mencium keningnya.

“Sayang. Kamu sudah siap?”

“Iya, Mas. Insyaallah siap.”

“Hamm. Pagi, Nak Dana.”

“Pagi juga Ayah. Ibu,” serunya seraya mencium punggung tangan Ayah dan Ibu Silvia.

“Sebelum berangkat mari sarapan dulu, Nak,” ujar Bu Iyes sambil melihat ke arah anak dan calon menantunya.

Mereka semua berjalan ke meja makan. Sampai di sana hidangan sudah di siapkan oleh para pembantu rumah mereka.

Setelah selesai mereka berpamitan kepada Bu Iyes untuk berangkat ke kantor.

Silvia berangkat dengan Mobil Dana, sedangkan Pak Herman berangkat dengan mobilnya sendiri. Begitu sampai di kantor. Semua pengawal berbaris menjaga keamanan mereka. Mereka turun dari mobil.

Asisten pribadi Pak Herman segera menyusul Pak Herman. Dia memang sengaja disuruh Pak Herman untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

“Pak. Semua sudah siap,” ucap pria berkacamata itu.

“Baiklah. Ayo.” Pak Herman berjalan dengan tegas dan berwibawa.

Mereka langsung menuju ruangan besar. Pembawa acara segera memulai acaranya.

Serangkaian acara telah dilakukan. Hingga sampai ke acara penanda tanganan pemindahan kepemilikan perusahaan. Pak Herman memberikan ucapan selamat kepada putrinya.

“Mulai sekarang kamu sudah resmi menjadi pemilik Agung Perkasa Group. Ayah yakin kamu mampu menjadi seorang pemimpin yang hebat di perusahaan ini.”

Pak Herman sangat percaya dengan kemampuan putri sulungnya itu.

Semua kolega, dan semua pemegang saham bahkan sampai semua karyawan memberi selamat kepada Silvia.

Tak terkecuali Pazel yang dijabat tangannya hanya sekadarnya saja oleh Silvia, seolah mereka tidak saling mengenal.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 37 Cinta Kedua & Terakhir: Bab 39

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *