Saat hendak pulang, Silvia berpapasan dengan Pazel yang sama-sama hendak memasuki lift.
Pazel ingin menghampirinya, tapi di halangi oleh para pengawal Silvia dan Dokter Dana. Dokter Dana mencegah para pengawalnya untuk menghalangi Pazel.
“Ada apa, Pak? Bukankah Bapak yang waktu itu membuat keributan saat acara pertunangan kami?” Dokter Dana bertanya seolah-olah dia tidak mengenal Pazel.
“Iya, Pak. Saya mohon maaf untuk itu. Kenalkan Pak. Nama saya Pazel.” Dia mengulurkan tangannya.
Dokter Dana menjabat tangannya seraya tersenyum. “Saya Perdana Kusuma. Senang berkenalan dengan anda. Sebenarnya saya ingin ngobrol lebih lama, tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat, karena kami akan ada keperluan lain,” ucap Dokter Dana sambil melepaskan tangannya dari Pazel.
“O, maaf kalau begitu, Pak. Bolehkah saya mengundang Bapak dan Silvia untuk makan malam di rumah saya?” tanyanya dengan ragu dan darah yang dag, Dig, dug.
Sebenarnya dia tidak yakin orang hebat seperti Dokter Dana akan mau menerima undangan makan malamnya. Tadinya dia tidak berani mengatakannya, namun karena melihat Dokter Dana melarang pengawalnya untuk menghalangi dia bertemu denganny,a dia jadi punya keberanian. Menurutnya tunangan bos-nya ini orang baik.
Dokter Dana melihat ke arah Silvia. Sedangkan Silvia menaikkan sedikit bahunya tanda dia menyerahkan segala keputusan kepadanya.
“Baiklah, kapan dan di mana?” tanya Dokter Dana sambil tersenyum ramah.
“Di rumah saya, Pak. Silvia sangat tahu alamatnya.” Dia sengaja mengatakan itu agar membuat Dokter Dana cemburu.
Namun Dokter Dana menjatuhkannya dengan kalimat yang santai.
“Kita masih di area kantor, Pak. Panggil tunangan saya dengan sebutan Ibu. Karena dia adalah bos Bapak, dan Bapak adalah karyawan tunangan saya. Bukan begitu, Sayang?” Dokter Dana merapikan rambut Silvia yang agak menutupi pipinya.
Rasa sakit menyeruak di dalam dada Pazel. Rasa sakit karena kalimat yang dilontarkan Dokter Dana dan rasa sakit karena melihatnya membelai rambut orang yang pernah menemaninya selama dua tahun.
“O, iya. Maaf, Pak. Ibu, maksud saya. Maaf karena saya sudah terbiasa—”Ddia tidak melanjutkan kalimatnya karena di potong oleh Dokter Dana.
“Kami masih ada keperluan lain. Kami akan memenuhi undangan Anda. Jam tujuh kami sudah sampai di sana.”
“Baik, Pak. Terima kasih banyak.” Pazel agak membungkukkan badannya untuk menghormatinya.
“Sama-sama,” ucapnya sambil berlalu memasuki sebuah lift. Liftyang tidak boleh dipakai karyawan termasuk Pazel, walaupun dia Manajer Keuangan.
Pazel berjalan menuju lift yang biasa digunakan untuk karyawan.
Kiri kanan karyawan lain tidak ada yang mau bertegur sapa dengannya. Padahal dulu saat jam masuk kantor dan saat jam pulang kantor mereka selalu bertegur sapa dengan Pazel.
Dari kejauhan terdengar bisik-bisik karyawan lain, “Oo jadi bos cantik itu mantan istrinya Pak Pazel itu?”
“iya. Padahal dulu dia yang selingkuh sama wanita yang sekarang sudah jadi istrinya itu,”
“Ha! Tega sekali ya, dia selingkuhin istrinya. Padahal kurang apa dia coba? Cantik iya, tajir apalagi. Bos Perusahaan ini lagi. Dan kabarnya nih ya, dia itu pemilik beberapa perusahaan lho, bukan satu atau dua.”
“Dasar laki-laki tidak bersyukur. Sudah dikasih istri cantik, masih mau yang lain. Sekarang sudah punya yang lain, eh giliran istrinya tunangan sama yang lain dia gak terima.”
“Kok ada ya, laki-laki seperti itu? Kalau aku punya suami seperti itu, akan kupotong burungnya.”
Tanpa sadar Pazel memegang burungnya. Dia pun bergidik ngeri mendengar perbincangan orang-orang yang mempergunjingnya.
Saat lift terbuka orang-orang memasuki lift, sedangkan Pazel memilih untuk berjalan memakai tangga darurat.
Sebelum dia membuka pintu menuju tangga darurat, dari balik pintu, dia mendengar orang berbicara di ponsel selulernya.
“ Maaf, Bos. Kami belum berhasil melakukannya. Iya, Bos. Baik, Bos. Kami akan segera melenyapkan perempuan itu.”
Pazel menahan napasnya karena takut. “Perempuan mana yang dimaksud orang itu?” batin Pazel.
Saat orang itu mau keluar dari pintu itu melewati Pazel, jantung Pazel seperti ingin berhenti berdetak, saking takutnya
Untung saja Pazel dengan refleks pura-pura baru datang dan tidak menghiraukan orang itu. Dia berjalan santai dan tersenyum ramah kepada laki-laki yang memakai setelan sama persis dengan pengawal Silvia.
Dia berjalan menuruni tangga darurat.
“Untung orang tadi tidak mengikutiku,” ucapnya dalam hati.
Dia berjalan dengan cepat. Meski mencoba menghilangkan rasa takutnya, tetap saja dia ketakutan setengah mati.
Dalam hati dia bertanya-tanya. “Siapa yang akan diuuu…. Ih, takut,”
Saking takutnya bahkan dia tidak berani untuk menyebutkannya meski dalam hati.
Telapak kaki dan tangannya basah karena takut. Dia menyesal telah lewat tangga darurat. Kalau dia tidak melewati tangga itu tentu dia tidak akan mendengarnya.
Tangga darurat yang dilaluinya sangat sepi. Baru separuh perjalanan, dia mendengar bunyi sepatu yang berjalan turun. Dia pun mempercepat langkahnya karena takut.
Sepanjang dia terus berjalan dia selalu berdoa, kepada Allah subhanahu wata’ala, untuk menyelamatkannya dari si pelenyap itu.
Dia memacu jalannya lebih cepat lagi. Semakin cepat dia berjalan semakin cepat pula langkah sepatu itu berjalan mendekat ke arahnya.
Dia berpikir keras sambil berjalan.
“Oh Tuhan, apa yang harus hamba lakukan? Apa orang itu akan membunuh hamba karena tadi hamba mendengar percakapannya?”
“Beri hamba kesempatan untuk melakukan hal yang baik sebelum ajal,” batinnya lagi.
Perjalanannya terasa sangat lama bagi Pazel, hingga dia memutuskan untuk keluar di pintu berikutnya.
Setelah keluar pintu di lantai dua, dia merasa lega, dia berjalan menuju lift. Keringat bercucuran dari kepalanya. Sekujur tubuhnya terasa dingin.
“Syukurlah sepertinya orang itu tidak mengejaku sampai kesini. Tapi siapa yang akan melenyapkan orang itu? Kenapa di kantor ini bisa berkeliaran seorang pembunuh?”
Saat sampai di tempat yang agak ramai, hatinya begitu lega, karena akhirnya dia tidak lagi sendiri.
Saat pintu lift terbuka, bergegas dia akan memasukinya. Tapi ada tangan yang memegang pundaknya. Dia kaget. Seketika, jantungnya berhenti berdetak.








