Matahari meleleh di balik cakrawala, mengembuskan sisa cahaya terakhirnya ke ujung awan. Langit memerah seperti darah, seolah baru saja menyaksikan pertempuran sebelum malam menindihnya dan mendorong siang ke belahan dunia lain. Tak lama, senja datang sebagai pertanda kemenangan malam.
Bayangan merentang.
Pelan-pelan, ia menelan segalanya.
Penglihatan. Suara. Rasa aman.
Malam tiba.
Dan hanya ada kau.
Sendiri.
Terselubung gelap, kau masih berdiri. Masih ada. Tapi—apa itu yang kau lihat?
Cuma tipuan gelap, mungkin. Tipuan mata. Tipuan pikiran. Tak ada yang bisa menjelaskan debar aneh di dadamu.
Kau mengingat sesuatu.
Tak ada yang perlu ditakuti selain malam itu sendiri.
Lalu gelap mulai berkumpul di sekelilingmu.
Menebal.
Mendekat.
Menjadi sesuatu.
Padat.
Lengket.
Mencekik.
Dan ada yang lain.
Sesuatu yang mulai terbentuk dari hitam pekat itu.
Monster malam.
Kau melihatnya, perlahan muncul dengan—
(tapi tentu saja ini cuma mimpi, kan?)
—gigi.
Mata.
Napas panas yang busuk, lembap, memburu wajahmu.
Masih mau bertaruh itu cuma mimpi?
6 Mei 2026











