Beranda / Topik / Wisata / 27. Jejak Sunyi Candi Pringapus

27. Jejak Sunyi Candi Pringapus

Ananta Kama 1600x900
This entry is part 28 of 33 in the series Ananta Kama

Setelah menjelajah situs-situs kecil yang banyak berserakan di Bandongan, hari itu Ayesha mengeluh lelah. Aku mengajaknya pulang lebih cepat, tapi ia menolak ke penginapan karena menurutnya akan membuat teringat Zack. Akhirnya aku mengajaknya menginap di rumah, lumayan mumpung anak-anak belum balik dari kuliah di luar kota.

Matahari masih mengintip disela bukit yang dilatarbelakangi Gunung Sumbing nan gagah. Namun, Ayesha mengajak sarapan di luar bersama Bhaskoro, kami menempuh jarak sekitar 7km untuk sampai di rumah Bhaskoro.

Saat mobil berhenti di depan rumahnya, aku melihat Bhaskoro duduk di beranda rumah dengan secangkir kopi yang uapnya tipis mengepul, seolah ragu meninggalkan cangkirnya seperti hatinya yang sedang gelisah. Aku mengucap salam, laki-laki pencuri hatiku itu hanya membalas singkat. Tak seperti biasanya, kulihat ada letih di matanya. Akhir-akhir ini Magelang terasa terlalu akrab, setiap sudutnya menyimpan jejak langkah yang sama, cerita yang berulang, dan kenangan yang tak sepenuhnya ingin ia sentuh kembali. Ia tahu, kami bertiga membutuhkan jeda. Bukan untuk lari, tapi untuk bernapas dengan cara yang berbeda.

Ayesha masuk lebih dulu, membawa ransel kecil dan senyum yang selalu berhasil meredakan suasana, tapi matanya masih menyimpan sisa kesedihan yang belum sepenuhnya luruh. Bhaskoro menangkap itu tanpa perlu bertanya. Kehilangan dan perpisahan sering kali meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi dengan kata-kata.

“Bagaimana kalau kita cari angin ke Temanggung?” ujar Bhaskoro akhirnya, memecah keheningan. Suaranya tenang, seolah ia sudah memikirkan ajakan itu sejak lama. “Tidak jauh dari Magelang. Kabupaten tetangga, tapi rasanya seperti halaman lain dari buku yang sama.”

Aku mengangkat alis, tertarik. “Temanggung? Wah, aku mau.  Aku punya teman … seorang penulis di kota itu.”

“Secara ekologi, Temanggung tidak banyak berbeda dengan Magelang, topografinya hampir sama. Temanggung juga punya situs-situs lama,” sahut Bhaskoro sambil tersenyum tipis. Ayesha mendekat, sepertinya ia tertarik.

“Jejak sejarah yang sering dilewati, tapi jarang benar-benar disapa. Mas pikir… suasana baru mungkin bisa membantu kita melihat banyak hal dengan sudut pandang lain.”

Ayesha menatapnya, ragu tapi penasaran. Dalam benaknya, perjalanan selalu berarti bergerak, dan bergerak berarti memberi kesempatan pada hati untuk pelan-pelan mengejar ketertinggalannya. Temanggung terdengar dekat, tidak mengintimidasi, tapi cukup jauh untuk membuat jarak dari rasa sesak yang ia bawa.

“Kita tidak harus mencari jawaban,” lanjut Bhaskoro, lebih lembut.

“Cukup berjalan, melihat, dan membiarkan cerita-cerita lama di sana berbicara pada kita. Kadang, sejarah orang lain bisa membantu kita berdamai dengan cerita sendiri,” lanjutnya yang dijawab anggukan kepala Ayesha.

Aku ikut mengangguk, Ayesha menarik napas panjang. Di antara kami bertiga, terselip kesepakatan sunyi,  perjalanan ini bukan sekadar berpindah kota, melainkan upaya kecil untuk menyusun ulang perasaan. Dan Temanggung … kota tetangga yang sederhana … menjadi tujuan pertama untuk mencari suasana baru, sebelum kami kembali melanjutkan perjalanan hidup masing-masing.

Bhaskoro mengemudi dengan santai, tidak tergesa, seolah memberi ruang pada Ayesha untuk melihat lebih dekat daerah yang terkenal sebagai penghasil tembakau tersebut. Selama perjalanan disuguhkan pemandangan hamparan sawah, perkebunan tembakau, dan latar Gunung Sindoro yang menjulang megah.

Mobil berhenti di area parkir Candi Pringapus, sebuah candi Hindu kuno peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang terletak di Desa Pringapus, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung. Candi yang dibangun sekitar abad ke-9 Masehi tepatnya tahun 850 M ini memiliki arsitektur khas Jawa Tengah dengan candi induk menghadap candi perwara.

Ayesha tampak antusias meneliti setiap dinding candi yang menawarkan pemandangan alam sejuk di kaki Gunung Sindoro.

“Candi ini konon difungsikan sebagai replika Gunung Mahameru,” ujar Bhaskoro.

“Gunung Mahameru …?” Alisha menautkan alis heran.

“Gunung suci umat Hindu di India yang diyakini sebagai tempat bersemayam para dewa.

Candi yang berada di kaki Gunung Sindoro ini tidak hanya menyimpan nilai historis dan religius, tetapi juga menawarkan panorama alam yang sejuk dan asri. Keberadaannya menjadi saksi bisu perkembangan kebudayaan Hindu di Jawa Tengah, menjadi destinasi wisata edukatif yang memadukan unsur sejarah, seni, dan keindahan alam dalam satu tempat.

Bhaskoro menuturkan, menurut literasi yang pernah dibaca, keberadaan Candi Pringapus pertama kali tercatat secara ilmiah oleh peneliti Belanda F.W. Junghuhn pada tahun 1844. Kondisi bangunan sempat mengalami kerusakan, kemudian dilakukan pemugaran oleh Dinas Purbakala Hindia Belanda pada sekitar tahun 1929–1930. Meskipun sebagian strukturnya merupakan hasil rekonstruksi, candi ini tetap mempertahankan ciri arsitektur aslinya yang khas. Hingga kini, Candi Pringapus menjadi salah satu bukti penting perkembangan seni bangunan dan kehidupan religius masyarakat Jawa pada masa klasik.

Bhaskoro mengikutiku mengelilingi candi yang dibangun menggunakan batu andesit dengan denah berbentuk persegi, menempati area seluas kurang lebih 29,68 meter persegi. Struktur utamanya menjulang dengan atap bertingkat yang mengerucut ke atas, Pintu masuk candi menghadap ke timur dan dihiasi ornamen kala-makara, yaitu ukiran kepala raksasa dan sepasang makhluk mitologis yang berfungsi sebagai penolak bala.

Aku mengusap relief di dinding candi yang menampilkan motif flora seperti bunga teratai dan sulur-sulur daun, serta figur hapsara atau makhluk setengah dewa. Di bagian dalam, terdapat arca dan simbol lingga-yoni yang merepresentasikan pemujaan terhadap Dewa Siwa. Di halaman candi, juga terdapat arca Nandi, lembu suci yang menjadi wahana Dewa Siwa.

“Ini arca apa?” tanya Ayesha

“Durga Mahesasuramardhini,” jawab Bhaskoro.

“Arca Durga Mahesasuramardini, menggambarkan Dewi Durga dalam wujud cantik tapi kuat sedang mengalahkan raksasa atau Asur dalam wujud kerbau atau Mahesa dan merupakan simbol kebesaran dewi selain arca Nandi dan yoni yang menjadi bagian penting dari kompleks candi ini,” ujarku lagi. Ayesha mengangguk-angguk.

“Dewi Durga adalah perwujudan Uma atau istri Siwa dalam bentuk krodha atau marah yang mengalahkan raksasa Mahesa, menunjukkan kekuatan ilahi dalam membasmi kejahatan.” Aku menambahkan penjelasan agar Ayesha lebih paham.

“Cantik … tapi seram,” ujar Ayesha mengamati

“Kamu benar, Dewi Durga digambarkan cantik tapi kadang menyeramkan, dengan tiga mata dan mahkota yang disebut Jatamakuta atau Kirita Makuta.”

“Apakah posisinya selalu seperti ini?” cecar Ayesha yang penasaran dengan bentuk arca Dewi Durga.

“Posisinya seringkali berdiri dalam sikap Tribhanga atau tiga lekukan di atas kerbau, dengan kaki kanan di atas singa dan kaki kiri menginjak kerbau, atau berdiri di atas badan kerbau. Memiliki tangan 4, 6, 8, atau lebih, masing-masing memegang senjata ilahi seperti cakra, trisula, pedang atau khadga, busur, anak panah, kapak, perisai, dan tasbih atau aksamala.”

Ayesha mengangguk-angguk, sepertinya masih menyimpan banyak pertanyaan, tapi untuk kali ini cukup menyimpan pertanyaannya.

Keunikan lain candi Pringapus terletak pada sebuah sendang atau kolam kecil di area sekitar candi yang airnya tidak pernah kering, menambah nilai spiritual sekaligus daya tarik bagi para pengunjung.

Siang mulai meninggi ketika kami menyelesaikan eksplorasi. Aku menarik napas panjang.

“Sunyinya Pringapus itu beda,” ucapku pelan, seolah takut mengganggu ketenangan yang masih menggantung di udara. Ayesha mengangguk, matanya masih menelusuri relief yang kini hanya tinggal dalam ingatan. Di tempat seperti ini, waktu terasa tidak lurus, ia berputar, mengikat masa kini dengan jejak yang telah berabad-abad lalu.

Kami meninggalkan lokasi, menyusuri jalan yang mengarah ke lereng gunung Sindoro. Perjalanan belum usai. Di depan sana, Situs Liyangan menunggu … bukan sekadar tujuan berikutnya, melainkan lapisan lain dari cerita yang belum terucap yang menjadi penanda peralihan dari sunyi Pringapus menuju harapan akan penemuan baru.

Bagi kami, setiap situs bukan hanya tentang batu dan tanah, melainkan tentang perjalanan batin, tentang bagaimana mereka belajar mendengarkan, merasakan, dan melanjutkan langkah. Dan ke arah Liyangan, cerita itu akan kembali berlanjut.

***

Ananta Kama

6. Narasi dari Reruntuhan Batu Candi 8. Situs Liyangan, Sebuah Jejak Kehidupan

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *