Yakin banget Tuhan Yesus kita Sang Yehova Rapha, udah pernah dijamah dan disembuhkan-Nya, kok bisa-bisanya ‘sih sakit lagi? Mungkin seperti kejadian nyata di beberapa event pendeta/pengkhotbah ternama, di mana seorang lumpuh secara ajaib berdiri dari kursi rodanya, atau orang buta dicelikkan hingga bisa melihat jelas. Eh, kok pulang dari event itu, bisa-bisanya ia perlahan atau dadakan lumpuh lagi, atau gak bisa melihat lagi? Di mana salahnya, apakah doanya masih kurang cespleng atau kurang kenceng? Apakah Tuhan hanya melakukan mukjizat sesaat aja, gimmick atau promosemata-mata, atau kesembuhannya sebatas sebuah sugesti atau euforia, lalu siap-siap kumat lagi? Inilah beberapa penyebab mengapa kita masih bisa sakit atau kumat lagi meskipun sudah disembuhkan dari sakit:
- Apa yang kita lakukan jika kendaraan bermotor mogok atau rusak? Kita akan mencari bengkel. Kita juga baru mencari dokter hingga obat-obatan ‘yang manjur seperti produk endorse selebgram itu!’ ketika merasa gak enak badan. Kita juga seringkali hanya mencari Tuhan saat kita butuh Dia (saja). Saat kita tidak butuh, adios amigo. Hendaknya kita sadar jika mencari Tuhan bukan hanya saat sedang butuh Dia, saat sedang sakit saja, begitu disembuhkan, jangan lantas bye-bye. Bersyukurlah, berterima kasihlah, berdoalah minta tolong kepada-Nya agar selalu diberi kesehatan.
- Kita terlalu gembira saat sembuh sehingga ‘melupakan pedoman’ tubuh kita. Balik ke kebiasaan-kebiasaan lama yang buruk itu, misalnya berkata, ‘halah, gapapalah, santai aja, nanti ada Tuhan ini! Tinggal doa, ya nanti pasti aku balik sembuh lagi!’ sehingga melalaikan pesan-Nya: “Tubuhmu adalah Bait Allah…” (1 Korintus 3:16). Misalnya, kita dulu batuk-batuk ngukuk ngiklik, begitu sembuh, eh, balik merokok atau vape lagi, atau hantam makan gorengan sebanyak-banyaknya. Kita dulu lemah letih lesu, begitu balik kuat dikit, langsung ‘hajar’ nge-gym pagi siang sore malam. Tuhan menyembuhkan kita bukan ibarat bengkel ketok magic, Dia juga menetapkan batasan-batasan hingga tanggung jawab. Bukan semata-mata anugerah lantas kapan aja pasti ada, siap siaga, akan terulang lagi dan lagi kapan saja kita mau ala ‘Your wish is My command’. Tuhan ingin kita menjaga Bait Allah-Nya, juga kesehatan karunia-Nya, jangan sia-siakan kesempatan kedua, ketiga dan selanjutnya. Dia memang Maha Sabar, akan tetapi jangan bermain-main dengan kesabaran-Nya.
- Pola hidup sehat ala-ala pribadi yang terlalu bersih atau sebaliknya, asal-asalan saja. Terlalu bersih artinya ‘dikit-dikit gak boleh’ atau ‘serba gak mau’. Misalnya, si A menghindari kuman-virus-bakteri, hidup steril bak dalam gelembung nan suci hama, makan-minumnya harus luar biasa bersih dan serba dipilih-pilih, perawatan dirinya juga khusus dan super spesial. Mungkin pada awalnya hidup A terdengar perfect, sebuah ide cemerlang, namun begitu sedikit saja dirinya ‘terpapar’ dunia luar, A mudah sekali jatuh sakit. Sikap sebaliknya, si B terlalu menganggap remeh. Makan-minum di mana saja dan kapan saja, abai pada kebersihan dan nilai gizi, malas merawat diri. Jadi, harus bagaimana? Hiduplah secara sederhana; jangan terlalu ketat membatasi diri, namun juga jangan terlalu cuek.
Kesehatan hingga kesembuhan adalah hak kita Orang Percaya, Yesus Kristus Yehova Rapha masih berkarya dan membuat mukjizat kesembuhan hingga detik ini. Penulis sudah berkali-kali membuktikan dalam hidup lewat doa serta komunikasi erat dan mesra dengan-Nya. Akan tetapi bukan lantas kita lega, pamer, petantang-petenteng sehingga jika kita jatuh sakit lagi, lantas down atau malah menyalahkan pendeta, pendoa, rekan-rekan seiman, anggota keluarga bahkan Tuhan. Kita harus yakin dan percaya jika kesembuhan kita ‘permanen’ dan tahan lama, bukan artinya jadi kebal sakti mandraguna (tidak akan sakit lagi), melainkan imanilah bahwa Tuhan akan ‘perbaiki’ ciptaan-Nya lagi dan lagi hingga usai waktu kita di dunia.
Semoga bermanfaat.
Tangerang, 6 Mei 2026











