Home / Fiksi / Puisi / Jaket Hijau

Jaket Hijau

Jaket Hijau
3

Sosok-sosok berjaket hijau
Terkadang pudar lusuh, tak dicuci berminggu-minggu
Mungkin pemandangan biasa saja bagimu
Satu dari mereka mungkin pernah menunggu di depan pintu pagar,
Bukan kekasih, bukan pasangan, hanya pekerja
Tak banyak berbeda dari kita

Seorang mitra bertalenta kemudi, sedia sumbangsih jasa
Setia siap antar bekerja atau jemput di depan stasiun
Menyambutmu akrab, ramah dengan senyum sapa
Walaupun bukan saudara
Mengantarkanmu kembali dengan selamat sentosa ke rumah, bertemu lagi dengan keluarga
Atau sabar mengantre membelikanmu produk kuliner, segelas kopi kekinian yang kauidamkan
Mencari sekeping Rupiah guna beli sesuap nasi
Demi nafkah keluarga mereka yang sedang menunggu

Rezeki mereka bagai cuaca, tak menentu
Ada hari penuh rezeki, ada pula hari biasa-biasa, bahkan sering kering tanpa orderan
Cuaca gerah atau hujan, panas dingin mereka lawan
Demam hingga masuk angin tak dihiraukan

Kemarin sore, salah seorang pemilik jaket hijau berhati mulia itu terpaksa pergi
Raganya tiba-tiba terkapar di jalan, tiada bisa dihuni lagi
Dalam pilu bela napas demokrasi harus tinggalkan dunia semrawut ini
Meskipun tiada adil, sungguh belum waktunya pergi
Keluarga bahkan dunia lirih pedih berurai air mata melepasnya
Seorang ibu pun kehilangan putra
Ia masih sangat muda,
Tulang punggung keluarga

Di mana keadilan? Hanya retorika belaka
Mudah ucap maaf, tiada insaf
Tak pernah turun dari atas pentas
Roda pemegang tongkat otoritas berputar di atas
Menggilas habis yang masih rendah, jatuh terinjak-injak di bawah
Ya Tuhan, maafkanlah lalai abai kami,
Walaupun berat sangat, ampunilah mereka yang bersalah

Bagi yang selama ini diam, tutup mata dan panca indra, tak sudi peduli
Yang penting mereka sudah dibayar, datang dan pergi
Para pemilik jaket hijau itu,
Meskipun barangkali tak kita kenal secara pribadi,
Adalah pahlawan-pahlawan senyap, pengantar hidangan yang kita idam-idamkan
Pengantar diri selamat sampai tujuan bahkan saat panas hujan
Patutlah kita bersyukur, berterima kasih, doakanlah dalam hati
Semoga mereka selalu diberi berkat rezeki, kesehatan, keselamatan
Semua yang kita beri ada saatnya akan kembali berlipat ganda
Hukum dunia dapat buta, hukum Tuhan adil nyata
Azas tabur tuai nyata adanya

Jakarta, 29-30 Agustus 2025

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Riak-riak Cangkir Retak

Ibu ke Mana?

Ibu ke Mana?

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Diam

Diam

Bab 13. Serangan (Part 2)

Bab 13. Serangan (Part 2)

Antologi KompaK’O

Random image