Fenomena unik muncul di sosmed ketika seorang Sujiwo Tedjo mengunggah puisi plesetannya. Tidak tanggung-tanggung, yang menjadi korban keisengan president jancukers itu adalah puisinya Eyang Sapardi Djoko Damono.
Padahal semua orang tahu. Sapardi Djoko Damono adalah seorang begawan sastra Indonesia. Beliau dikenal sebagai penyair yang piawai, penulis novel dan seorang akademisi. Kok berani-beraninya Sujiwo Tedjo main-main dengan puisinya?
Eits … kalem. Begitulah cara Sujiwo Tedjo menyikapi situasi sosial saat ini, ialah dengan meminjam puisi Eyang Sapardi Djoko Damono yang sudah kadung melegenda itu.
Juni Identik dengan SDD
Bulan Juni emang identik dengan penyair legendaris Indonesia ini. Puisi berjudul ‘Hujan Bulan Juni’ ditulis oleh sang maestro tahun 1989 dan melambungkan namanya, tidak hanya di Indonesia saja tapi juga ke seluruh dunia. Padahal Eyang SDD sudah menulis puisi sejak tahun 1959.
Memasuki bulan Juni, seperti pemerhati dunia literasi lainnya, saya membuka dan membaca kembali buku bersampul hard cover terbitan penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta – 2013. Buku sepilihan sajak berjudul Hujan Bulan Juni ini memuat sajak-sajak SDD yang ditulis dalam rentang waktu 1959 – 1994.
Buku kumpulan puisi SDD dibuka dengan diawali Catatan Penulis yang menjelaskan bahwasanya buku ini merupakan kumpulan dari sajak-sajak yang sebelumnya termuat dalam duka-Mu abadi (1969), Mata Pisau (1974), Akuarium (1974) dan Perahu Kertas yang terbit tajjn 1984.
Sajak ‘Tangan Waktu’ bertitimangsa 1959 mengawali sajian puisi lainnya sebanyak 102 dan ditutup dengan puisi ‘Terbangnya Burung’ (1994) di halaman 118. Selanjutnya buku memuat Biodata Penulis. Puisi Hujan Bulan Juni yang menjadi judul buku dimuat di halaman 104.
Membaca sajak-sajak SDD menuntun kita untuk meresapi dengan jernih apa makna yang terkandung dalam setiap puisinya. Meskipum ditulis dengan bahasa yang sederhana kita dituntut untuk menggali makna-maksa implisitnya. Seperti puisi Hujan Bulan Juni, bukankah di Indonesia ketika memasuki bulan Juni artinya sudah musim kemarau? Jadi apa sesungguhnya makna puisi ini?
Potret Fenomena Sosial
Nah kaitan dengan puisi plesetan Sujiwo Tedjo tadi, bolehlah disimak persandingan dua puisi yang dimaksud.
Puisi asli Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
…
Puisi Hujan Bulan Juni Plesetan
tak ada yang lebih tabah
dari rakyat Indonesia bulan Juni
dirahasiakannya rintik tangisnya
kepada Pinjol berbunga itu
…
Dua penyair begitu piawainya memotret keadaan sosial masyarakatnya. Eyang SDD dengan kedalaman sajak-sajaknya dan oleh predident-jancukers dengan segala kejenakaannya.
Oh ya, dari puisi Hujan Bulan Juni ini kemudian dikembangkan oleh sang penyair menjadi sebuah novel dengan judul yang sama lho. Nanti lain waktu ya saya ulas cerita novelnya.
Jkt, 120626











