Dia menemukan lelaki pertama itu di Facebook. Atau mungkin Tinder. Dia sendiri sudah tak terlalu ingat.
Restoran tempat mereka bertemu diterangi lampu-lampu antik. Dindingnya dilapisi wallpaper hijau bermotif klasik, sofa beludru memenuhi sudut-sudut ruangan, semuanya tampak hangat dan mengundang. Tak ada satu pun yang memberi pertanda tentang apa yang akan terjadi satu atau dua jam kemudian.
Lipstik warna raspberry yang melapisi bibirnya meninggalkan bekas ciuman sempurna di serbet bar. Lelaki itu menyelipkan serbet tersebut ke dalam saku mantel sambil tersenyum, meremasnya pelan di antara jemari.
Dia tampak begitu hidup malam itu. Kulitnya mulus, wajahnya bersinar, seolah seluruh tubuhnya memantulkan cahaya. Rok pensil merah mudanya membuat langkah-langkahnya kecil dan cepat. Lalu, di kamar lelaki itu yang gelap, dia melepaskan sweater warna blush dari tubuhnya seperti sedang menanggalkan sebuah jubah.
Dia siap.
Siap ketika tangan-tangan berat itu mulai meraba tubuhnya tanpa permisi, berhenti bertanya apakah semuanya baik-baik saja.
Ketika sebuah telapak tangan menutup mulutnya—mungkin, pikir lelaki itu, hanya bagian dari permainan yang tak pernah ditanyakan kepadanya apakah dia ingin memainkannya.
Dan tepat saat itulah lelaki itu merasakannya.
Tubuh di bawah tangannya mendadak runtuh. Kulit dan dagingnya seakan pecah menjadi pusaran halus yang berhamburan ke segala arah. Serbuk itu menempel di tangan dan wajahnya, memenuhi udara dengan rasa manis yang lembap, seperti gula yang terkena embun.
Lelaki itu tersentak. Tubuhnya langsung kejang.
Serbuk itu memenuhi bibir dan lidahnya. Menempel di jemarinya. Panik, dia mengusap wajah—lalu tanpa sengaja menggosokkan tangannya ke mata.
Jeritannya mengguncang kamar.
Saat tubuhnya ambruk ke atas seprai yang seminggu tak dicuci, semuanya justru menjadi lebih buruk. Serbuk itu terangkat dari kain, masuk ke hidung dan mulutnya setiap kali dia menarik napas.
Benda rapuh yang beberapa menit lalu dia kira adalah seorang perempuan muda dan langsing dDengan mata besar yang sempurna.
Manis, cerah, dan tampak polos seperti permen rambut nenek.
***
Teman-teman lelaki berikutnya bersikeras kepada polisi bahwa dia tidak pernah menggunakan aplikasi kencan.
Dia sudah punya pacar.
Tak satu pun pegawai bar benar-benar ingat melihat perempuan itu masuk. Tapibartender samar-samar ingat kuku panjang berwarna merah menyala yang berkilau saat mencengkeram gelas shot.
“Merahnya kayak cabe,” katanya.
Tak ada yang menganggap aneh ketika lelaki itu membungkuk mendekatinya dari bangku bar. Mulutnya basah oleh alkohol, senyumnya lebar dan menjijikkan.
“Kamu pernah capek nggak,” tanyanya, “dibilang eksotis dan pedas terus?”
Kalimat itu bukan penyebab kematiannya, atau sederet tequila yang terus dia sodorkan, atau ulat putih yang menggeliat di antara giginya setelah dia menenggak gelas terakhir.
Ketika lelaki itu menariknya ke sebuah gang sempit dan memaksa bibirnya menempel pada bibir perempuan itu, mula-mula hanya rasa panas yang menjalar ke seluruh mulutnya. Lidahnya terasa terbakar. Tenggorokannya seperti disiram api.
Lelaki itu terhuyung mundur lalau terjengkang. Tangannya mencengkeram dada ketika jantungnya mulai menghantam tulang rusuk dengan liar. Wajahnya perlahan berubah keunguan, membeku dalam ekspresi kesakitan yang mengerikan.
Dan perempuan itu?
Dia sudah pergi jauh sebelum ambulans datang.
Tak seorang pun bisa menjelaskan bagaimana lelaki tersebut menelan capsaicin dalam jumlah cukup banyak hingga menyebabkan serangan jantung. Apalagi di sebuah gang sepi, beberapa blok jauhnya dari restoran mana pun.
Mereka juga tak bisa menjelaskan serbet dengan noda lipstik yang tergeletak di atas dadanya.
Merah menyala, seperti warna cabai yang matang.
Namun ketika diperiksa, tak ada DNA yang ditemukan selain DNA milik korban.
***
Lalu cerita-cerita itu mulai bermunculan. Urban legend, tulis seorang content creator.
Di satu kota, tiga atau empat kejadian terjadi hampir bersamaan. Kemudian kasus serupa muncul ratusan kilometer jauhnya. Kemudian di zona waktu lain.
Mayat-mayat membentuk pola. Seperti bekas gigitan di sepanjang leher yang terbuka. Anak-anak kuliahan yang tertawa sambil saling menyikut ketika melihat seseorang yang mereka anggap mangsa empuk. Tawa mereka menjadi suara terakhir yang mereka dengar.
Lelaki-lelaki yang menggunakan sikap canggung dan kikuk untuk menyembunyikan bahaya yang sebenarnya mereka bawa. Mereka yang teman-temannya selalu bela mati-matian.
“Dia tak mungkin nyakitin siapa pun.”
“Dia orang baik.”
“Dia bahkan tak mampu membunuh kecoak.”
Kalimat-kalimat yang sama untuk tubuh yang ditemukan penuh memar. Setiap memar persis sama dengan ukuran tangan mereka sendiri.
Kadang-kadang penyidik menemukan serbet dengan bekas lipstik, Seolah-olah itu adalah kartu nama.
Petunjuk. Tanda tangan.
Yang setiap kali mereka mencoba menelusurinya, jejak itu berakhir di jalan buntu.
Warnanya selalu berbeda. Merah seperti apel permen.
Peach lembut. Hitam pekat seperti licorice.
Bentuk bibirnya pun tak pernah sama.
Kadang kecil. Kadang penuh. Kadang tipis.
Menjadi tanda tanya apakah perempuan yang meninggalkan bekas itu selalu berganti wajah.
Dan tak ada seorang pun yang mampu menjelaskan mengapa bukti biologis yang ditemukan—rambut, serpihan kulit, apa pun—selalu berasal dari korban sendiri.
***
Kalau ada yang memintanya menjelaskan, mungkin dia akan berkata bahwa dia menciptakan dirinya sendiri.
Wujud favoritnya sejauh ini adalah tubuh penuh tato, otot-otot padat, dan sepatu bot tinggi hingga lutut.
Tipe perempuan yang selalu disebut “kuat” oleh lelaki-lelaki yang ternyata menyukai perempuan kuat hanya selama perempuan itu masih bisa mereka kendalikan.
Malam itu, dia duduk bersama seorang lelaki di sebuah bar.
Lelaki itu menaruh bubuk putih dari sebuah amplop kecil ke dalam minumannya.
Dia melihat semuanya, tetap meminumnya.
Cairan itu mengalir ke seluruh tubuhnya, menyusuri pembuluh darah yang hampir kasat mata.
Lelaki itu menuntun langkahnya yang dibuat seakan-akan limbung keluar dari bar. Dia bahkan mengedip pada seorang asing yang memandang heran saat melihat betapa berat tubuh perempuan itu ketika diseret masuk ke dalam taksi.
Tato ular melingkar di pahanya. Sketsa pisau mengoyak luka di bahunya.
Lelaki itu setengah mengangkat, setengah menyeretnya menuju sebuah kamar. Jelas bukan pertama kali dia gunakan untuk hal seperti ini.
Hasil yang berbeda.
Ketika lelaki itu menempelkan bibirnya ke bibir perempuan itu, dialah yang justru menelan semuanya.
Zat yang tadi dia masukkan ke dalam minumannya, hanya sekarang jauh lebih kuat karena bercampur dengan kemarahan dan rasa malu.
Dengan ketakutan dan amarah semua perempuan yang pernah terbaring di tempat yang sama.
Dan kalau dia memang menginginkan tubuh lelaki itu kejang dan menggeliat tanpa kendali, maka keinginannya terkabul.
Lelaki itu mencakar-cakar tenggorokannya sendiri, seolah dengan melukai kulitnya dia bisa mengeluarkan sesuatu yang sudah telanjur masuk ke dalam tubuh.
Pagi harinya, ketika jasadnya ditemukan, seprai di sekelilingnya basah oleh busa air liur. Zat yang persis sama dengan yang dia masukkan ke dalam minuman perempuan itu.
Minuman milik seorang perempuan sempurna. Perempuan impiannya.
Seorang perempuan yang sebenarnya tak pernah ada.
26 Agustus 2026









