Home / Topik / Wisata / Prasasti Tuk Mas dari Lereng Merbabu

Prasasti Tuk Mas dari Lereng Merbabu

Prasasti Tuk Mas (wordpress.com)

Masing-masing daerah tentu memiliki jejak masa lalu yang menjadi sejarah panjang dalam pembangunan peradaban yang dilakukan oleh para nenek moyangnya. Demikian juga dengan Magelang, banyak cerita dan sejarah panjang di masa lampau yang hingga kini memiliki pengaruh pada kehidupan masyarakat.

Magelang secara geografis dikelilingi gunung-gunung yang menjulang gagah. Sudah bukan rahasia lagi, para pendaki dan tektoker mengakui keindahan gunung-gunung di sekitar Magelang yang membuat candu. Salah satunya adalah Gunung Merbabu yang terletak di sebelah timur laut Kota Magelang. Meski secara administratif, gunung ini berada di wilayah Kabupaten Magelang (di lereng barat) dan Kabupaten Boyolali (di lereng timur dan selatan), serta juga termasuk di wilayah Kabupaten Semarang (di lereng Utara).

Lereng Gunung Merbabu kaya akan mata air yang menjadi sumber air bersih dan memiliki peran penting bagi masyarakat sekitar, terutama dalam memenuhi kebutuhan air minum dan pertanian. Beberapa mata air yang terkenal di lereng Merbabu antara lain Mata Air Doplang, Mata Air Tuk Tritis, dan mata air di desa Lencoh. Ketinggian mata air umumnya berada di antara 1000-1500 meter di atas permukaan laut, yang menunjukkan sistem sabuk mata air vulkanik.

Selain itu, ada mata air yang keluar dari atas bukit dan memiliki debit air yang stabil, mengalir dengan caranya tersendiri. Uniknya, saat musim kemarau, debit airnya justru bertambah besar, sebaliknya di musim hujan mengalir kecil dan stabil. Dialah mata air Tuk Mas, yang mampu mencukupi konsumsi ribuan jiwa masyarakat Magelang dan warga sejumah dusun di sekitar mata air.

Sejak tahun 1971, sumber air Tuk Mas dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Magelang. Sehingga pada hari biasa, tidak semua orang bisa masuk ke dalam area sumber air Tuk Mas.

Konon ada yang mengatakan bahwa mata air Tuk Mas berasal dari sejumlah sumber air kecil dari sela batu Gunung Merbabu yang membentuk aliran sungai tempat berenang angsa-angsa emas. Di depan pintu masuk area Tuk Mas terdapat sebuah batu paling besar yang dikenal sebagai Bale Kambang atau tempat mengapung. Namun, tidak ada yang tahu pasti mengapa disebut Bale Kambang dan kebenaran adanya angsa emas di Tuk Mas.

Menurut warga sekitar, mata air Tuk Mas sudah dimanfaatkan masyarakat zaman dahulu untuk membangun peradaban dan disakralkan. Di sepanjang aliran air tersebut ditemukan banyak peninggalan peradaban sejarah Kalingga, salah satunya adalah Prasasti Tuk Mas

Secara harfiah Prasasti Tuk Mas berarti mata air emas, adalah sebuah prasasti yang dipahat pada batu alam besar yang berdiri di dekat mata air yang ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang. Prasasti tersebut tidak berangka tahun, ditulis dengan bahasa Sansekerta huruf Palawa yang berasal sekitar tahun 500 M.

Apabila dilihat dari bentuk aksaranya, prasasti ini tampak lebih muda dibandingkan aksara yang dituliskan di masa Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara.

Tulisan pada prasasti tersebut mencermati perjalanan sejarah Magelang, dan merupakan salah satu prasasti yang keberadaannya termasuk salah satu prasasti tertua yang ditemukan pulau Jawa. Meski sudah berusia ratusan tahun, tapi letak batu prasasti Tuk Mas tidak berubah.

Pada prasasti ini terdapat pula lukisan alat-alat, seperti trisula, kendi, kapak, sangkha, cakra, bunga tunjung, dan masih banyak gambar yang sulit untuk diidentifikasi karena aksaranya lebih tua dari masa raja Mulawarman. Gambar yang dapat diidentifikasi merujuk pada laksana (tanda khusus) yang digunakan para pemuka agama Shiva atau Penganut Hindu.

Meski bentuk prasasti tidak lagi utuh, karena terdapat kerusakan di beberapa bagiannya, tapi para arkeolog masih bisa membaca sisa pahatan dalam Prasasti Tuk Mas, yang isinya :

“(Itant) usucyamburuhanujata
Kwacicchilawalukanirgateyam
Kwacitprakirnna subhasitatoya
Samprasrata m(edhya) kariwa ganga”

Dalam bahasa Indonesia artinya :

“(Mata air) yang airnya jernih dan dingin ini dan yang keluar
Dari batu atau pasir ke tempat yang banyak bunganya tunjung putih
Serta mengalir ke sana-sini
Setelah menjadi satu lalu mengalir seperti sungai Gangga”

Empat baris sajak di prasasti tersebut memuji kejernihan mata air sakral yang mengalir di lereng Gunung Merbabu : “Bermula dari teratai yang gemerlapan – dari sini memancarlah sumber air yang mensucikan – air memancar keluar dari sela-sela batu dan pasir – di tempat lain memancar pula air sejuk – dan keramat seperti (sungai) Gangga”.

Karena dianggap sakral, warga setempat mengingatkan hendaknya jika berada di antara sumber air Tuk Mas, agar berlaku sopan, selalu menahan diri dari amarah, dan tidak berkata kotor demi keselamatan diri sendiri.

Saat hari Raya Nyepi, umat Hindu dari berbagai wilayah di Magelang akan mendatangi sumber air Tuk Mas yang terletak sekitar 25 kilometer dari pusat kota Kabupaten Magelang untuk melakukan sembahyangan Melasti, mensucikan diri dan peralatan peribadatan di sumber air Tuk Mas.

Prasasti Tuk Mas setidaknya memberikan suatu konklusi kepada kita bahwa Magelang pada abad tersebut telah mengembangkan berbagai bidang kehidupan baik sosial, ekonomi, agama maupun politik. Hal tersebut menjelaskan bahwa sudah terdapat suatu “desa” atau wilayah sosial yang ditempati masyarakat di sekitar sumber mata air Tuk Mas. Pemilihan tempat tinggal di sekitar sumber mata air adalah bentuk kecerdasan dan kepekaan yang dikembangkan dan dimiliki masyarakat. Melalui pengembangan intuisi maupun pengetahuan dan pengalaman, mereka akhirnya menemukan sumber mata air Tuk Mas.

Adanya Prasasti Tuk Mas memperjelas bahwa masyarakat Magelang pada abad 5 M sudah beragama Hindu. Kemungkinan warga Dusun Dakawu juga sudah beragama Hindu pada saat itu. Dengan adanya komunitas Hindu di wilayah Dakawu dan sekitarnya inilah, sumber mata air Tuk Mas dapat dijaga dan dijadikan sebagai sumber ekonomi maupun tempat yang disakralkan. Dengan dikeluarkannya Prasasti Tukmas semakin memperkuat keberadaan masayarakat Hindu di wilayah tersebut, dan menjadi sejarah perkembangan agama Hindu di Magelang.

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image