Beranda / Topik / Renungan Kehidupan: Sibuk Kejar Tujuan, Lupa Nikmati Perjalanan?

Renungan Kehidupan: Sibuk Kejar Tujuan, Lupa Nikmati Perjalanan?

Renungan20260902
3

Ibarat seorang penumpang kereta api ingin segera tiba di tujuan, kita seringkali sibuk mengejar-ngejar ‘tujuan hidup positif’: berkat dan keberuntungan, kesembuhan dari sakit-penyakit, keselamatan hidup, penghasilan besar, kesuksesan dan masih banyak lagi. Bahkan setelah semua itu tercapai, seakan-akan masih ada lubang hitam yang takkan pernah penuh atau tertutupi; mau lagi dan lagi, masih kurang, belum cukup, kemudian sibuk mengejar lagi.

Tidak semua orang mampu menyadari semua itu bisa jadi sia-sia belaka, kok bisa? Misalnya, waktu bersama keluarga kerap terlewatkan meskipun sudah mendapatkan materi lebih dari cukup. Rumah besar mewah tak jadi tempat berkumpul yang hangat; selalu rapi namun sepi dan dingin. Kelimpahan harta dan pencapaian gemilang tetap membuat hati hampa. Di mana letak masalahnya?

Inilah beberapa hikmah indah yang mungkin kita sudah lama ketahui, namun rindu penulis bagikan kembali agar kita tetap ingat dan bertambah kuat.

  1. Apakah proses terasa lama dan berat bahkan membosankan? Sebenarnya proses (pekerjaan, latihan atau perjalanan) itulah yang membuat kita bertumbuh, bertambah mampu, semakin bisa, semakin diberkati. Jika selama ini kita mengira hanya hasil atau pencapaianlah satu-satunya ‘hadiah’ atau tujuan, sungguh sayang sekali. Proses sering di-skip, atau dilakukan ogah-ogahan, pokoknya saya mau cepat saja tiba di tujuan, titik. Ibarat penumpang KRL tertidur dalam perjalanan, tentu tiba di tujuan, akan tetapi urung menikmati pemandangan indah di luar jendela. Barangkali sering tidak dianggap penting/berguna bagi sebagian orang, semacam pendapat, “Ah, biasa-biasa saja, setiap kali lewat juga udah sering lihat! Besok bakal masih sama aja, kok! Ngapain iseng kayak ga ada kerjaan.” Sadarkah kita, seiring perjalanan waktu sekian bulan atau tahun kemudian, ada kalanya momen terlewatkan itu akan berusaha keras kita kenang. Kita rindu ingin kembali melihat pemandangan itu, namun sekeras apapun berusaha, waktu takkan bisa terulang lagi. Entah karena usia menua atau raga tak lagi sehat-kuat untuk mencapainya, entah orang-orang yang menemani perjalanan kita tak dapat lagi kita temui, dan masih banyak lagi. Karena itu, nikmatilah prosesnya.
  2. Saat luang, nikmati quality time atau waktu berharga bersama keluarga. Akibat pengaruh masif ajakan-ajakan konten media sosial untuk ‘aktif menjaga kesehatan mental’,seringkali kita lebih mementingkan self reward, self love, dan lain-lain. Semua itu baik, akan tetapi jika berlebihan malah jadi sebaliknya. Seolah-olah diri menjadi aktor utama, pasangan hidup atau anggota keluarga malah dianggap sebagai ‘pengganggu’, ‘toh mereka gak ngerti, gak peduli padaku’, atau sebaliknya, ‘terlalu banyak ikut campur masalahku’. Ingatlah jika kita dimampukan bekerja demi masa depan serta kebahagiaan bersama dan memenuhi kebutuhan orang-orang tercinta, bukan hanya demi pencapaian pribadi.
  3. Tujuan atau hasil akhir ‘sangat bagus’ atau ‘sempurna’ bukanlah sesuatu yang mutlak. Kegagalan kecil, flaws, atau kesalahan-kesalahan manusiawi sangat mungkin terjadi. Meskipun demikian, tetaplah berusaha sebisa Anda dengan penuh tanggung jawab. Jauh lebih baik terus mencoba – gagal – coba lagi, daripada berhenti atau tidak pernah sama sekali melakukan apa-apa.
  4. Terkadang, Tuhan YME memakai cara atau orang yang tidak terpikirkan oleh kita untuk menegur serta meluruskan arah perjalanan kita. Lewat cara-cara lazim atau jika orang-orang sehati sepikiran menegur, semua itu sudah biasa. Namun akan jadi luar biasa apabila mereka yang tak terduga berhasil membetik kesadaran kita, akan ada ‘this is it’ moment yang luar biasa. Jangan ingkari atau lari dari kenyataan itu. Bersyukur saja dan jalani terus arah baru hingga tiba di tujuan. Percayalah, Tuhan takkan membiarkan kita tersesat.

Jangan hanya damba tiba di tujuan (utang lunas, karunia kesembuhan, doa terjawab, kesuksesan dan keselamatan), juga nikmati dan hargai momen serta proses menjalani. Bukan pula tak peduli atau melupakan, melainkan buka mata buka hati, berdoa kepada Tuhan, kelak pengalaman ini akan jadi sesuatu yang bermanfaat (penuh makna) serta makin mendewasakan. Dengan demikian, tercapainya tujuan hidup takkan semata-mata jadi akhir sebuah kisah, melainkan awal kisah baru yang jauh lebih indah.

Semoga bermanfaat.

Tangerang, Agustus-September 2026

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *