Home / Genre / Chicklit / 20. Jangan Menangis, Ibu!

20. Jangan Menangis, Ibu!

SEBIRU LANGIT CASABLANCA - SATYA PADMA
This entry is part 21 of 32 in the series Sebiru Langit Casablanca

Di salah satu panti asuhan muslim, di sudut kota.


“Yaa Allah, hamba mohon kepada-Mu berilah kiranya hati yang lapang, senantiasa bersyukur dengan apa yang telah menjadi kehendak-Mu. Berkatilah hidupku dan putraku dengan pintu keberkahan dari-Mu. Tunjukkanlah putraku jalan yang Kau ridhoi. Selama ini aku tahu dia sudah banyak menyimpang. Aku mohon, hanya Kau, Sang Penguasa Jiwa, tuntunlah kembali Youssefku untuk-Mu. Aamiin.”

Lamyya mengakhiri serangkaian ritual ibadahnya. Di panti asuhan itu-yang merupakan rumah peninggalan orang tua angkatnya, Lamyaa membesarkan putranya seorang diri, Youssef. Setelah pria yang dicintainya meninggalkannya saat ia mengandung dan kembali ke negaranya. Lamyya mengingat jejak masa lalu bersana seorang pria yang telah menceraikannya tanpa ia tahu letak salahnya di mana.

Lamyya memutar kembali memori itu. Memori yang tidak semuanya terekam dengan baik di benaknya. Almarhum kedua orang tua angkatnya berimigrasi ke Prancis beberapa puluh tahun lalu telah merawat dan membesarkannya serta meninggalkan warisan yang lumayan, karena mereka tidak memiliki keturunan. Lamyya satu-satunya yang mereka harapkan dan berpesan agar peninggalan mereka digunakan untuk membantu siapa saja yang membutuhkan.

Akan tetapi, benar adanya jika kebahagiaan tidak diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, melainkan dari rasa hati yang senantiasa bersyukur atas apa yang dimiliki. Lamyya, selama ini telah belajar banyak hal. Terutama masalah cinta. Dia tak ingin Youssef memiliki nasib yang sama dengannya.

Tanpa ia sadari, seorang pemuda sedari tadi mengamatinya dari pintu kamar. Memperhatikan setiap gerak-geriknya saat berdoa kepada Sang Pencipta. Matanya mengembun melihat keadaan ibunya yang selama ini berjuang keras demi dirinya dan juga adik-adiknya. Diusapnya mata itu, tak ingin terlihat oleh Lamyya.

Lamyya menoleh, merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Youssef telah berdiri di ambang pintu. Lamyya mengembangkan senyum. Tangannya melambai ke arah Youssef. “Kemarilah, Nak!”titahnya, “Duduklah di sini.”

Youssef  mendekati sofa dan duduk di sebelah ibunya. Lamyya mencium kening putranya penuh kasih sayang. “Kau tampak muram, ada apa?”

Youssef tak menjawab. Pandangannya beralih ke arah lukisan yang tergantung di dinding. Gambar abstrak itu seolah-olah kisah hidupnya yang tak jelas.  Dadanya menahan gemuruh yang srlama ini sukar untuk dijabarkan.

“Tidak, Ibu. Tidak ada apa-apa.  Hanya lelah saja,” ujarnya lemah.

“Makanlah. Aku sudah menyiapkan makan untukmu,” kata Lamyya, membelai lembut tangan putranya.

“Nanti saja, Bu. Aku belum lapar.” Hembusan napas Youssef yang sedikit berat membuat Lamyya merasakan ada sesuatu yang tengah dirasakan oleh Youssef.

“Jika ada masalah, berbagilah denganku, Nak. Aku selalu mendengar apa yang kau katakan,” pinta Lamyya, mencoba mengurai kepenatan yang ada dalam diri putranya.

Youssef menggeleng, tetapi beberapa saat kemudian dia berkata, “ Aku tidak ingin melihat ibuku selalu menangis dan bersedih.”

“Tidak, Nak. Aku tidak menangsi,” jawab Lamyya, berbohong. Menutupi sekelumit hati dan pikirannya yang beberapa waktu terakhir ini terasa goyah.

“Ibu jangan bohongi aku. Aku tahu jika ibu sering menangis diam-diam saat berdoa.”

“Akuberdoa untuk keselamatanmu. Tidak hanya itu saja, aku mohon kepada Yang Kuasa, agar hidumu dilimpahi keberkahan dan kebahagiaan.”

“Ibu…apakah ibu izinkan jika aku mencari pria itu?”

Ucapan Youssef membuat Lamyya tersentak. “Pria? Pria siapa yang kau maksud? Aku tidak paham, Nak.”

Youssef tahu jika ibunya berbohong. Entah karena alasan apa, tetapi dia sangat ingin membuat pria  itu bertanggungjawab atas nasibnya dan ibunya.

“Ibu, jangan mengelak. Aku tahu semuanya. Aku tahu siapa pria yang selama ini pikirkan. Pria itu, Bu! Pria itu!” Tiba-tiba saja suara Youssef meninggi, membuat Lamyya tercengang.

Sebiru Langit Casablanca

9. Penyamaran 1. Di Mana Pria Itu?

Penulis

  • Satya Padma

    Satya Padma adalah penulis yang masih terus belajar. Salah satu karyannya yang sudah terbit adalah Sang Elang dari Mesir (SEDM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Bintang Kunang-Kunang

Bintang Kunang-Kunang

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Antologi KompaK’O

Random image