Sudah bukan hal yang aneh, kita semua tahu bahwa hampir setiap kota di Indonesia memiliki pecinan. Sebuah kawasan yang disebut Chinatown, sebab mayoritas warganya adalah etnis Tionghoa yang dulunya merantau, kemudian seiring waktu akhirnya menetap di wilayah tersebut hingga menjadi penduduk tetap. Nah, Kota Magelang juga memiliki pecinan.
Pecinan Magelang terletak di Jalan Pemuda, membentang dengan panjang kurang lebih 800 meter. Chinatown ini tentu sudah mengalami dinamika panjang. Sepanjang kawasan ini dipenuhi dengan bangunan-bangunan tua yang memiliki arsitektur khas Tionghoa, dan menyimpan jejak budaya dan sejarah yang kaya dan menjadi daya tarik utama bagi wisatawan lokal maupun non lokal.
Tidak ada sosok individu yang menjadi pencetus Kampung Pecinan di Magelang secara khusus. Kawasan permukiman etnis Tionghoa ini, terbentuk sebagai akibat dari kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang membatasi tempat tinggal orang Tionghoa dalam upaya segregasi sosial dan ekonomi.
Selain itu, migrasi dan perkembangan komunitas Tionghoa secara alami juga turut membentuk kawasan pecinan di pusat kota dan daerah strategis perdagangan, bukan hanya di Magelang, tapi juga di berbagai kota di Indonesia.
Pecinan di Magelang berlokasi di dekat alun-alun karena alasan sejarah dan sosial. Sebagaimana fenomena di kota-kota lain di Indonesia, alun-alun adalah pusat kegiatan kota. Pada masa lalu, pusat-pusat permukiman etnis seringkali berkembang di sekitar pusat pemerintahan atau pusat kegiatan ekonomi.
Selain itu, lokasi dekat alun-alun memudahkan akses ke berbagai fasilitas dan layanan yang ada di pusat kota sehingga memudahkan untuk berinteraksi dengan berbagai aktivitas.
Kedekatan dengan pusat kota memungkinkan interaksi sosial yang lebih mudah antara etnis masyarakat Tionghoa dengan masyarakat lain
Sejarah Pecinan Magelang tidak terlepas dari peran Belanda. Saat terjadi Perang Diponegoro (1825⎼1830), Belanda sengaja mengajak para pedagang Tionghoa untuk menetap di kota ini. Sebagian hidup dari menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari. Sebagian lagi, dijadikan tenaga kerja.
Belanda menempatkan Pecinan Magelang tidak jauh dari pusat kekuasaan mereka. Tidak mengherankan jika sekarang kawasan ini memiliki lokasi yang sangat strategis.
Para etnis Tionghoa tersebut sebagian diberdayakan untuk membangun kawasan permukiman Belanda. Akhirnya pada 1830-an, pemerintah kolonial mengangkat Hok Hoei Kan, seorang tokoh masyarakat, negarawan, dan tuan tanah peranakan Tionghoa yang dikenal pro-Belanda sebagai letnan.
Di Pecinan Magelang pada waktu itu terdapat jejeran ruko lantai satu sederhana. Kemudian, ada sebuah persimpangan rel kereta api di sebelah utara Stasiun Pasar.
Etnis Tionghoa kala itu terus berkembang. Mereka juga membangun sebuah kelenteng bernama Liong Hok Bio yang masih ada hingga sekarang.
Pada era 1960 sampai 1970-an, nuansa Tionghoa di Pecinan Magelang masih begitu kental. Namun, setelah era itu, pemerintah melakukan pelebaran jalan dan meniadakan persimpangan rel kereta api tersebut. Sebagai gantinya dibangun trotoar lebar yang nyaman untuk pejalan kaki.
Sebagai dampaknya, banyak fasad bangunan Tionghoa yang terpaksa digusur. Hal ini secara perlahan mengurangi suasana yang tadinya terasa begitu kuat.
Memasuki era tahun 1990-an, pada masa itu sejumlah bioskop memenuhi Pecinan Magelang. Ini menjadi magnet tersendiri yang membuat suasananya kembali hidup. Banyak orang menikmati keseruan di Pecinan Magelang dengan berjalan kaki atau berkendaraan. Sayangnya bioskop mulai tutup satu per satu, dan yang terakhir tutup pada tahun 2011.
Sejak saat itu Pecinan Magelang tidak seramai dulu. Meskipun demikian Pecinan Magelang masih menjadi destinasi wisata yang menarik. Apalagi, warga di kawasan ini sangat ramah kepada para pendatang.
Saat ini kawasan Pecinan juga dikenal dengan sebutan “Shopping”. Bukan karena arti kata sebenarnya dari “shopping” yang artinya belanja, tetapi lebih karena perkembangan fungsi pecinan sebagai pusat perdagangan dan kegiatan ekonomi yang ramai. Seiring waktu, pecinan menjadi tempat berkumpulnya berbagai toko, pedagang, dan tempat usaha, sehingga secara informal dikenal sebagai area yang identik dengan aktivitas belanja.
Hal tersebut karena sejak dahulu pecinan sudah menjadi pusat perdagangan dan kegiatan ekonomi. Masyarakat Tionghoa yang tinggal di pecinan memiliki keahlian dalam berbagai bidang usaha, seperti perdagangan, kerajinan, juga jasa, membuat pecinan menjadi tempat yang ramai dikunjungi untuk mencari berbagai kebutuhan.
Seiring dengan perkembangan waktu, semakin banyak toko, restoran, dan tempat usaha yang berdiri di pecinan, membuatnya semakin terlihat seperti pusat perbelanjaan informal.
Masyarakat kemudian mulai mengasosiasikan pecinan dengan kegiatan berbelanja karena banyaknya pilihan barang dan jasa yang tersedia di sana. Istilah “shopping” pun melekat secara informal pada pecinan.
Meskipun istilah “shopping” digunakan, tapi penting untuk diingat bahwa pecinan bukan hanya pusat perbelanjaan modern. Pecinan juga memiliki nilai budaya dan sejarah yang kaya, dengan tradisi dan karakteristik khas Tionghoa yang masih terjaga.
Di kawasan Pecinan, selain berbelanja juga bisa mampir untuk menikmati kuliner legendaris dengan banyak sekali pilihan antara lain:
Kupat Tahu Pak Slamet, Kupat Tahu Pojok Magelang, Wedang Kacang Kebon, Bebek Lahap, dan masih banyak lagi.
Ada pula sejumlah restoran yang khusus menyajikan Chinese food yang lezat. Saking banyaknya tempat makan, Pecinan Magelang juga bisa menjadi tujuan wisata kuliner.
Tidak jauh dari kawasan ini terdapat alun-alun kota dengan ikon Patung Pangeran Diponegoro. Beberapa area dekat Pecinan Magelang dan alun-alun sangat popular dikalangan anak muda karena bagus untuk dijadikan spot berphoto.
Setiap sudut Pecinan Magelang memang seakan membawa pengunjung ke masa lalu, ketika kawasan ini masih menjadi pusat perdagangan yang sibuk. Hingga kini, jejak kejayaan tersebut masih terasa, terlihat dari toko-toko tradisional yang menjual beragam barang, mulai dari rempah-rempah, peralatan sembahyang, hingga jajanan khas.
Sepanjang jalanan Pecinan dihiasi lampion yang menyala dan terlihat cantik di malam hari. Bahkan di akhir pekan, Pecinan Magelang sering menjadi lokasi acara budaya, seperti pertunjukan barongsai, pameran seni, dan bazar makanan yang menarik banyak pengunjung. Hal ini menunjukkan bahwa selain sebagai pusat perdagangan, Pecinan Magelang juga berperan sebagai pusat interaksi budaya yang mempererat hubungan antar komunitas.
Meski telah melalui berbagai perubahan, tapi Pecinan Magelang tetap mempertahankan identitasnya. Meskipun sekarang sudah banyak bangunan yang lebih modern, tapi masih ada beberapa orang yang datang untuk mencari nuansa otentik.
Pemerintah Kota Magelang sendiri telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga kelestarian kawasan Pecinan. Merombak beberapa bangunan tua serta penambahan fasilitas umum seperti bangku taman dan lampu penerangan hingga membuat kawasan ini semakin nyaman untuk dikunjungi.
Dengan pesona sejarah dan kebudayaan yang dipadukan dengan perkembangan zaman, Pecinan Magelang tetap menjadi saksi bisu perjalanan kota dan menjadi ikon yang patut dilestarikan. Bagi wisatawan yang ingin merasakan perpaduan sejarah, budaya, dan kuliner, jalanan Pecinan Magelang adalah destinasi yang tak boleh dilewatkan.









