Semakin marak saja pembuatan karya desain komunikasi visual (yang juga dikenal dengan desain grafis) dengan menggunakan teknologi AI generatif. Selain karena mudah, murah bahkan gratis, dianggap cepat plus ‘sudah pasti bagus’ menyebabkan semakin banyak user coba-coba hingga menggunakan setiap hari. Mulai dari desain papan nama toko, poster, undangan, billboard hingga spanduk, mulai dari ChatGPT, Copilot, hingga Gemini siap sedia setiap saat. Sudah bergeser dari tren Canva, user mulai beralih ke tren AI ‘yang penting hasilnya bagus’.
Semakin kita rajin melihat-lihat atau tanpa sengaja menemukan di jalan, di media sosial atau media massa, semakin kita dapat membedakan/mengenali hasil karya desain mana saja yang dihasilkan AI atau yang dihasilkan manusia (desainer komvis profesional-freelance atau penggemar-pemula). Bahkan pemilik usaha besar (misalnya minimarket atau supermarket ternama) semakin sering menyempilkan karya desain AI di brosur produk, meskipun masih menggunakan layout desainer profesional yang sudah ada/’dipatenkan’ sebelumnya.
Beberapa hal krusial perlu kita ketahui dan renungkan sebelum tren ini berlanjut hingga mungkin saja lama-kelamaan sekolah atau kursus bahkan kuliah Desain Komunikasi Visual tak lagi diperlukan. Tentu andai-andai ini tak lahir dari rasa khawatir, iri atau takut kehilangan mata pencaharian, melainkan keprihatinan penulis (serta mungkin banyak kita) akan semakin terbatasnya fungsi otak-hati menuju matinya talenta manusia.
- Desain yang hanya template tanpa pengolahan tidak lagi unik, lama-kelamaan akan menjenuhkan dan tidak lagi menarik. Tidak ada sesuatu yang segar atau baru. Misalnya, jenis huruf/font yang kerap digunakan AI ‘ketahuan’ bentuk dan susunannya, begitu pula printilan ornamen yang digunakan. Hal ini tidak buruk, namun akan menimbulkan creativity rot alias matinya kreativitas. Sangat banyak pilihan font tersedia gratis atau berbayar namun bisa dimiliki seterusnya. Jangan membiarkan kreativitas Anda mentok, hanya dibatasi oleh template.
- Menggunakan prompt-template dalam Canva atau AI bukan proses desain yang salah, namun manusia bisa salah/keliru mengetikkan prompt atau memilih template. Apabila hanya ingin cepat atau bagus, tentu saja AI sanggup melakukan dalam sekejap mata. Namun banyak hal perlu dipertimbangkan. Apakah palet atau pemilihan warna sudah sesuai? Apakah gaya atau style dari desain sudah tepat? Apakah realita/hasil final artwork sudah sesuai ekspektasi/harapan?
- Tidak hanya membuat lalu selesai, unduh, langsung siap pakai, sangat perlu mengolah hasil karya desain yang dihasilkan oleh AI generatif atau Canva. Apakah warna yang digunakan, legibilitas hingga ejaan teks, hingga resolusi – ketajaman sudah tepat dan tercapai? Apakah bisa diterapkan hingga menjadi desain dengan ukuran besar (misalnya spanduk hingga baliho dan billboard)? Desain yang ‘pecah’ atau blur (kurang tajam) bukan hanya sekadar gagal, melainkan isi pesannya tidak akan sampai kepada calon customer.
- Template, terutama yang sudah tersedia secara cuma-cuma dan berlimpah, menurut opini penulis, hanya sekadar contoh. Jauh lebih baik membuat sendiri dari nol, jika memungkinkan. Apakah sulit, ribet, buang waktu? Tentu saja tidak. Ibarat seorang siswa TK mendapat tugas membuat gambar bebas, mungkin pada awalnya gambar itu hanya oret-oret biasa (scribbles). Namun seiring waktu, akan tiba saatnya siswa TK itu semakin mahir menggambar dan ia mampu membuat sketsa-gambar-lukisan yang jauh lebih baik. Demikian pula dengan desain dari nol. Ada kebebasan di sana. Mau pilih warna apa, jenis font apa, hingga apa elemen visual yang ingin ditampilkan, semua terserah Anda dan bisa diganti setiap saat, diulik tanpa keterbatasan. Bukankah itu jauh lebih fun dan kreatif serta meningkatkan kemampuan serta pengalaman, daripada hanya sekadar mengetikkan sesuatu dan menerima bersih?
AI bisa menolong (help) dan membantu (assist), namun bukan pengganti (subsitute) tugas Anda maupun tugas tenaga kerja (SDM) desain Anda. Jangan puas hanya dengan hasil sekali jadi yang terlihat indah atau full color, berlimpah warna. Tugas masih jauh dari usai. Periksa dan sempurnakanlah hasil AI generatif Anda. Demikian pula dengan template, usahakan agar tidak hanya ‘asal isi/ganti teks’ semata-mata, melainkan personalisasi hingga tercapai tepat tujuan komunikasi perusahaan atau customer Anda: promosi berhasil, produk terjual atau laris manis, feedback/perubahan positif yang diharapkan, dan masih banyak lagi.
Semoga bermanfaat.
Tangerang, 17 September 2026







