“Maafkan saya … Saya ndak bermaksud … tolong jangan sakiti saya … Gusti Putri ndak akan mendengar lagi tentang saya. Saya akan menjauh … Saya bersumpah. Tolong Gusti Putri … beri saya kesempatan … tolong…”
Ghea dan Lastri bertukar pandang. Yang ini terlalu mudah menyerah. Merusak kesenangan saja.
Ghea menghela napas panjang dan mengangkat dagu Sarinten dengan jarinya.
“Sebaiknya kamu berkata jujur karena aku tahu di mana kamu tinggal. Aku tahu kamu tinggal bersama orang tuamu dan aku tahu bapakmu seorang penggarap kebun kerajaan. Aku juga tahu bahwa ibumu membuka rumah pelacuran yang terlarang. Aku tahu kamu tidak mau bapakmu kehilangan pekerjaan atau ibumu berada di dalam tahanan selama sisa hidupnya. Kamu akan menjauh dari suamiku. Lebih baik lagi, kalau aku tahu dia tahu tentang pembicaraan kita ini, aku akan mengirim perempuan ini untuk mempekerjakan orang yang akan membunuh setiap anggota keluargamu ketika kalian sedang tidur.”
Sarinten menangis tersedu-sedu dan menganggukkan kepalanya tak terkendali.
“Sekarang pergi dari hadapanku.”
Gundik Arya Daringin itu menarik kursi ke belakang dengan begitu kuat dan berlari keluar rumah sementara Lastri dan Ghea tertawa.
“Menyenangkan juga, Lastri!” kata Ghea sambil mengangkat cangkir.
“Ngomong-ngomong, beritahu salah satu penjaga bahwa pelacur itu mengurung Gusti Pangeran, mereka harus datang untuk menyelamatkannya.”
Lastri terkekeh dan membungkuk sebelum berjalan keluar.
Ghea masih makan sendirian ketika empat penjaga bergegas masuk pada saat yang bersamaan semuanya melapor padaku dan kemudian berlari ke atas.
Lastri masuk kemudian dan mereka berdua diam, mencoba mendengar apa yang sedang terjadi di lantai atas. Ghea tertawa kecil saat mendengar Arya Daringin mengutuk mereka semua dan mereka meminta maaf.
“Jadi sekarang apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Gusti Putri?” tanya Lastri.
“Aku pikir sudah waktunya aku meminta perhatian suamiku, bukan begitu? Sekarang kita tahu dia menyukai belahan dada.”
Mereka berdua tertawa dan kemudian Nunung masuk.
“Nunung! Ada apa, sayang?”
“Gusti Putri, ada kiriman bingkisan untuk Gusti Putri,” katanya.
“Oh..dari siapa?” tanya Ghea dan Lastri mengambil bingkisan yang dibawa Nunung dan membukanya. Lalu dia menatap Ghea kaget.
“Gusti Putri. Ini … kembang jintan.”
“Kembang jintan?” tanya Ghea heran. “Kembang jin—” Lalu dia tersentak kaget. Jantungnya berdegup kencang.
“Ya ampun! Aku harus bertemu Waiz malam ini!”
***
Terakhir kali Ghea merasa segugup ini adalah sebelum hari ketika dia seharusnya melakukan perjalanan dalam mimpinya. Sekarang dia kembali gugup seperti dulu. Mereka berada di kamarnya, ditemani Nunung dan Lastri.
“Lastri, kamu harus ikut denganku,” akhirnya dia berkata.
Lastri menatap Ghea keheranan.
“Gusti Putri, tapi … tapi … kalau ada saya bisa rusak suasana. Biasanya saya tidak pernah mengikuti Gusti Putri kalau ke sana.”
Ghea lupa mereka terbiasa melihat Ghea zaman itu pergi setiap malam. Tapi bukan Ghea dari masa depanyang penakut.
“Aku tidak bisa pergi sendiri Lastri … bagaimana kalau dia seorang durjana, pembunuh, atau apalah?”
Tatapan mata Lastri membuat Ghea sadar betapa Laastri menganggapnya sudah hilang ingatan.
“Gusti Putri, Gusti membuat saya takut. Gusti selama ini pergi sendiri menemui dia tanpa ditemani. Mengapa Gusti merasa seperti ini sekarang?”
Ghea menghela napas dan berhenti mondar-mandir. Menghentakkan kakinya ke lantai, berkacak pinggang, bibirnya mengerucut seperti paruh bebek.
Bagaimana caranya menjelaskan kepada gadis ini bahwa aku bukanlah aku, secara teori relativitas Albert Einstein, mungkin?
“Lastri,” Ghea bicara sepelan mungkin sambil meletakkan tangannya di bahu gadis itu. . “Lastri, kamu ingat kalau aku bilang aku sudah berubah?”
Dia mengangguk, alisnya sedikit berkerut.
“Aku tidak bercanda sama sekali waktu bilang begitu. Sama seperti aku tidak ingat banyak hal dan kamu yang harus menjelaskannya padaku. Begitu juga ini. Aku tidak ingat orang ini.”
Lastri tampak kebingungan seperti sebelum-sebelumnya.
“Oh! Sialan! Lastri, bilang saja kamu mau ikut aku. Aku tidak punya orang lain yang akan mengerti ini.”
Entah Lastri mengerti atau tidak, atau dia hanya akan mengikuti perintah, Ghea tidak peduli.
“Tidak apa-apa, Gusti Putri. Saya tidak menyangka kalau sampai seserius ini. Saya berjanji akan menolong Gusti Putri, tapi, tolong dimengerti bahwa Anda tidak bisa membawa saya bersama Anda untuk bertemu dengannya. Tapi aku akan turun di jalan. Kita tidak ingin siapa pun mencurigai bahwa Anda sudah berubah. Anda kan tidak tahu dia berbahaya atau tidak.”
Ghea merasa sedikit lebih tenang dan tanpa berpikir dua kali, dia memeluk Lastri. Dayang-dayangnya itu tampak terkejut tapi tak menolak.
Ghea mendengar suara Nunung tertawa cekikikan, dan dia berbalik untuk melihat Nunung sedang menyikat salah satu wignya..
“Ayolah, sini bergabung dengan kami, Nung,” kata Ghea. “Jangan ketinggalan kalau ada peluk memeluk begini.”
Nunung terkekeh dan kemudian mereka saling berpelukan seperti teletubbies.
***
“Musri?”
“Ya, Gusti Putri”
“Kamu yang mengantarku?”
“Seperti biasa, Gusti Putri.”
Astaganagatapabrata! Bagaimana mungkin Musri adalah kusir yang membawaku bertemu Waiz? Ini sangat kacau. Baru kemarin aku memintanya untuk mengantarkanku ke gundik pelacur yang melayani suamiku, sekarang dia yang membawaku sebagai perempuan lacur ke seorang lelaki yang bukan suamiku, pikir Lastri.
“Aku ingin tahu apa yang suamiku pikirkan tentangku sekarang,” katanya pelan kepada Lastri yang duduk di sampingnya.
Lastri hanya tertawa.
“Gusti Putri, saya bukan hakim. Selain itu, rahasia Gusti Putri aman bersama saya,” katanya sambil mengedipkan sebelah mata.
Aku merasa jadi perempuan paling munafik yang sempurna!
“Musri, ngomong-ngomong, Lastri akan turun ketika kita sedikit lebih dekat ke tujuan kita.”
“Baiklah, Gusti Putri.”
Ghea duduk dengan nyaman ketika kereta mulai bergerak. Dia mengenakan wig ungu dan gaun kebaya malam yang menempel indah di pinggulnya. Dandanannya tipis saja, hanya urat sarafku yang menebal.
Dia menghela napas lagi saat mereka semakin dekat dengan tempat tujuan.
Dalam kepalanya, Ghea mulai berpikir yang bukan-bukan.
Apa yang akan aku katakan padanya? Bagaimana aku akan bereaksi? Tolong Tuhan, jangan izinkan dia menjadi seorang penjahat, dalam hati Ghea berdoa.
Musri ternyata memang tahu jalan menuju tempat Waiz. Ghea bertanya-tanya berapa kali dia membawa dirinya ke sini. Musri bahkan tampak tenang saja sambil bersiul-siul tembang dolanan sambil mengisap rokok kawung, tidak seperti Ghea.
Lastri kemudian turun seperti yang sudah direncanakan sebelumnya.
“Gusti Putri tetap tenang, dan jangan panik sampai membuat keadaan menjadi kacau,” kata Lastri pada Ghea, meremas tangan tuan putrinya untuk memberi semangat. Menyenangkan untuk Ghea bahwa dia dan Lastri menjadi dekat dalam waktu singkat.
“jangan jauh-jauh, Lastri” jawab Ghea.
Kemudian dia dan Musri melanjutkan perjalanan.
***
Akhirnya kereta berhenti.
“Kita sudah sampai, Gusti Putri,” kata Musri sambil turun dari kereta untuk membantu Ghea turun.
Suasana di sekitarnya sunyi sepi. Angin sejuk berhembus sepoi-sepoi. Barulah Ghea menyadari bahwa dia berada di tepi danau. Dia bisa mendengar gemericik air danau, tapi di sekelilingnya gelap.
Ghea berjalan ke sisi lain kereta dan dia melihat di kejauhan cahaya redup di sesuatu seperti tenda.
Apakah aku harus pergi ke sana? tanya Ghea dalam hati. Dia tahu kalau dia tidak bisa menanyakan apa pun kepada Musri, karena sais kereta itu sudah kembali ke kereta sambil bersiul fals.
“Ghea, di mana pun kamu berada. Aku bersumpah kalau orang ini membunuhku, aku akan melakukan reinkarnasi dari generasi ke generasi untuk membunuhmu dengan tanganku sendiri,” kata Ghea untuk dirinya sendiri yang terdengar sangat bodoh.
Bergumam untuk membangkitkan keberanian dalam dirinya, Ghea mulai melangkah maju untuk bertemu dengan kekasih gelapnya.










