Konon menurut sahibul hikayat, dahulu kala di sebuah desa ada seorang pendongeng yang tinggal di sebuah kedai cerita. Desa itu bergantung padanya untuk bercerita setiap hari. Hari bagi penduduk desa tidak akan berjalan baik tanpa cerita sang pendongeng. Maka ketika pendongeng itu sakit, penduduk desa akan membawakan kuahnya dan mendandaninya, lalu menyeretnya ke alun-alun kota untuk menceritakan kisahnya, lalu membaringkannya di tempat tidur sampai keesokan harinya, berharap dia tidak akan meninggal di malam hari.
Namun suatu hari, sang pendongeng mengaku sudah selesai bercerita. Dia tidak punya cerita lagi untuk diceritakan. Kedai cerita itu kosong.
Dia berdiri di alun-alun kota pagi itu dan berkata, “Maafkan aku. Aku sudah memberikan segalanya untukmu. Aku sudah sampai pada akhirnya. Aku selalu berpikir kedai ceritaku akan bertahan sesudah aku meninggal dunia, tetapi tampaknya aku hidup lebih lama dari cerita-ceritaku. Tidak ada lagi cerita yang tersisa.”
Mendengar kata-katanya, penduduk desa terdiam. Kemudian salah seorang dari mereka berteriak, “Pencuri! Pasti ada pencurian cerita!”
“Ya, pencuri yang menguras isi gudang kedai cerita! Di mana kamu menyimpannya? Kami akan menangkap pencurinya dan mengembalikan cerita-ceritamu kepadamu.”
“Kalian tidak mengerti. Cerita-cerita itu tidak ada di mana pun. Cerita-cerita itu tidak ada. Cerita-cerita itu hilang begitu saja.”
“Dia pasti syok,” kata salah seorang wanita. “Dia tidak tahu apa yang dia katakan. Tentu saja cerita-cerita itu ada. Kita harus menemukan pelakunya.”
Dan sejak saat itu hingga akhir zaman, penduduk desa tidak pernah berhenti mencari pencuri cerita itu dan tidak pernah berhenti memberikan cerita-cerita baru yang semakin menarik kepada si pendongeng kisah-kisah tentang pencuri cerita.
12 Mei 2025











