Home / Genre / Romansa / 15. Dwipa Kinasih

15. Dwipa Kinasih

MERAJUT MASA SILAM
This entry is part 17 of 34 in the series Merajut Masa Silam

“Orang-orangmu? Kupikir kamu tidak pernah peduli dengan mereka. Kamu sendiri yang mengatakan bahwa mereka dapat menemukan jalan mereka sendiri dan kita tidak perlu mengkhawatirkan mereka. Kamu telah hidup menderita selama berbulan-bulan untuk mereka, tinggal bersama Daringin. Kamu dapat pergi tak lama lagi dan kita tidak akan pernah kembali.”

Ini benar-benar sesuatu untuk dibicarakan …

“Bagaimana dengan orang-orangmu?” tanya Ghea penasaran.

Waiz mendengus dan menempelkan punggung tangan Ghea di bibirnya, menciumnya dengan lembut.

“Orang-orangku tidak penting. Hanya kamu yang penting, Cintaku. Mengapa kamu menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini kepadaku? Apakah yang membuatmu takut?”

Ghea menggelengkan kepala cepat. 

“Tidak ada, kekasihku.”

“Baiklah kalau begitu. Hanya perlu berada di sana pada malam pesta. Kami yang akan menyelesaikan semuanya di luar.”

Malam Pesta

“Aku harus pulang, Waiz.” Ghea berharap Waiz akan marah. 

“Kamu harus pulang dan bersalin pakaian. Aku mengerti. Kamu biasanya tidak nyaman saat sedang datang tamu.”

Waiz menariknya mendekat dan memeluknya erat-erat.

***

“Jadi Gusti Putri ndak jadi putus sama Ndoro Waiz?”

Lastri akhirnya bertanya setelah mereka samapai ke kamar Ghea.

“Aku tidak bisa Lastri. Aku belum bisa. Aku harus perlu bersabar. Sampai tahu apa rencananya.”

“Apa rencananya, Gusti Putri?”

“Lastri. Dia menentang semua yang aku rencanakan. Dia ingin aku mengakhiri pernikahanku, meninggalkan orang-orangku dan melarikan diri bersamanya. Karena Ghea … maksudku aku yang begitu jahat selama ini. Apa yang harus kulakukan?”

“Yah. Menurut hamba Gusti Putri pasti bisa mempertahankan pernikahan Gusti Putri dengan Pangeran. Gusti Putri hanya perlu mengubah pikiran Gusti Pangeran.”

“Tapi bagaimana Lastri? Waktunya semakin singkat.”

“Kebetulan saya tahu caranya,” kata Lastri sambil menyodorkan sepucuk surat.

“Apa itu?” tanya Ghea.

“Ini surat yang ditulis oleh pangeran untuk mengundang salah satu gundiknya yang bernama Bendara Putri Banurasmi ke persembunyian kecilnya di suatu tempat yang jauh dari ibu kota. Saya mendapat surat itu dari…” dia mengedipkan mata.

“Oh, Citraprana. Jangan bilang kamu tidur dengannya.”

Lastri tertawa. “Tidak, Gusti Putri … belum.”

Ghea menerima surat itu dan mulai membaca. 

Dari alamatnya, wanita itu sepertinya adalah seseorang yang ningrat juga karena bergelar “Bendara Putri”. Arya Daringin ingin bertemu dengannya di pondok sederhana di suatu tempat bernama Dwipa Kinasih. Dia juga mengatakan Musri akan datang menjemputnya besok pagi dan mereka akan berada di sana sampai mereka pergi ke pesta Ramanda Sultan ketika dia mempersembahkan Banurasmi sebagai pengantin yang dia inginkan menjadi istrinya.

“Lastri, dia ingin menikahi wanita ini,” kata Ghea dengan nada getir.

“Gusti Pangeran tidak akan menikahinya.”

“Sudah terlambat Lastri, semua ini hanya buang-buang waktu.”

“Gusti Putri masih bisa memenangkan hati Gusti Pangeran.”

“Bagaimana caranya?”

“Kalau Gusti pergi sebagai Bendara Banurasmi, maka Gusti Putri dapat mengambil dari sana!”

***

“Apakah kamu yakin ini akan berhasil?”

“Ya, Gusti Putri,” jawab Lastri sambil terus memilih pakaian untuk Ghea.

“Ini akan membuat Gusti Putri semakin ayu,” Lastri berkata, membentangkan gaun kebaya merah muda yang dia pegang.

“Apakah ini benar-benar akan membuat suamiku bertekuk lutut?”

“Tentu. Gusti Putri harus berkaca setelah memakainya. Gusti Putri pernah memakainya, tapi waktu itu hari sudah malam.”

Ghea yang itu pasti memakainya untuk merayu Waiz.

“Suamiku akan mengetahui bahwa itu bukan aku pada akhirnya.”

“Ya, dan saat itu sudah terlambat, semoga badai yang dibicarakan di pasar akan terjadi dan kalian berdua akan bersama selama berhari-hari.”

Ghea bahkan tidak bisa memikirkannya tanpa aksi pembunuhan muncul di benaknya. 

Salah satu dari kami akhirnya akan membunuh yang lain.

Nunung mendorong pintu hingga terbuka, mengejutkan mereka berdua.

“Ada apa? Kamu bikin kaget saja!” seru Lastri padanya.

“Hamba mohon maaf, Gusti Putri,” kata Nunung menunduk hormat ke Ghea. “Gusti Pangeran baru saja pergi dengan kereta.”

Jantung Ghea berdebar kencang saat dia menatap Lastri dengan tatapan penuh konspirasi 

“Lastri, ini saatnya pertunjukan wayang orang.”

***

Arya Daringin berjalan mondar-mandir dari dinding di dinding. Dia bertanya-tanya apa yang menyebabkan Banurasmi begitu lama. Dia sudah sampai sepuluh jam yang lalu tetapi Banurasmi tidak ada di sini.

Arya Daringin sangat gelisah dan mulai merasa kesepian dan bosan. Akan menyenangkan untuk menunggang Sembrani, kudanya untuk menghilangkan kebosanan. Dia sudah memberi tahu Jaka untuk membawanya. 

Banurasmi suka menunggang kuda, jadi itu akan menjadi cara lain untuk membuat segalanya sesuai dengan rencananya. 

Hari semakin mendung. Badai petir yang dibicarakan semua orang akan segera datang. Dia sangat berharap Banurasmi akan tiba tepat waktu.

Sementara menunggu, dia memutuskan untuk berjalan-jalan dan membiasakan diri dengan tempat ini.

Arya Daringin membeli tanah garapan itu beberapa tahun yang lalu. Salah satu periode ketika dia harus melarikan diri dari ramanda dan kakang barepnya yang jahat. Selama berbulan-bulan mereka tidak menemukannya sampai dia siap untuk kembali. 

Dia tertawa kecil ketika mengingat bagaimana dia kemudian kembali dan menemukan Citraprana telah dipenjara karena tidak memberi tahu ke mana dia pergi. 

Dwipa Kinasih bagai terletak di negeri antah berantah, tempat tetirah yang sempurna. Dari ibu kota butuh hampir tujuh jam berkuda untuk sampai ke sini. Keraton berjarak sepuluh jam perjalanan lagi dari sini. di situlah keluarganya tinggal. 

Keluargaku..sudah lama aku memikirkan mereka.

Itu adalah tempat yang indah. Lingkungan sekitarnya selain pantai dan perairan hanyalah hutan dan pohon-pohon tinggi.

Betapa aku mencintai keindahan alam.

Dia mengamati pondoknya yang bersih dan rapi. Citraprana telah melakukan pekerjaan yang sangat baik. 

Dia berjalan keluar pondok membawa teropong untuk mengamati lingkungan sekitar

Banurasmi seharusnya sudah berada di sini.

Saat dia berjalan di hutan, Arya Daringin menyadari awan mendung membuat suasana menjadi semakin suram dan gelap. Dia berhenti di depan pohon jambu mete dan memutuskan untuk memanjat. Menggantung teropong di bahunya, dia memegang salah satu cabang dan menaikinya hingga ke puncak pohon. Dia menemukan cabang yang bagus dan duduk. Dari atas dia bisa menangkap pemandangan yang lebih luas lagi.

Inilah yang dia lakukan saat terakhir kali ke sini, ketika membawa Nyimas Selayur bersamanya. Mereka menikmati waktu yang indah bersama. Arya Daringin sebenarnya tidak ingin kembali, tetapi dia tahu mungkin ramandanya bisa mati karena serangan jantung dan kakang barep … dia tidak tahu apa yang akan kakangnya lakukan, terutama karena Arya Daringin telah membawa calon istrinya bersamanya.

Begitu dia kembali, Sultan mengumumkan pernikahannya dengan Ghea dan mengusirnya dari keraton sampai Sultan memanggilnya untuk menghadiri pesta.

Inilah mengapa dia tidak bisa kembali ke istana. Arya Daringin dihukum karena tidak patuh dengan cara pernikahan paksa dan pembuangan.

Dia masih mengingat raut wajah kakang barep saat dia dibuang. Kakang barep tampak puas. Terlalu puas, dan Arya Daringin membencinya.

Mereka saling membenci satu sama lain sejak masih remaja, terutama menyangkut soal wanita. Arya Daringin tidak tahu mengapa gadis yang dipilih kakang Barep untuk dirinya sendiri selalu memilihnya, dan Arya Daringin menyukai perempuan. Maka dia memberi mereka apa yang mereka inginkan.

Arya Daringin adalah kesayangan Sultan, jadi Baginda tidak pernah benar-benar menghukumnya. Sebaliknya, ramanda mereka menyuruh kakang barepnya untuk memilih wanita lain dan berhenti memilih pelacur yang akan meniduri Arya Daringin. kemudian Nyimas Selayur datang. Dia adalah seorang putri dari kerajaan seberang. Mereka diundang ke hari ulang tahunnya dan saat itulah Arya Daringin melihatnya, tanpa menyaadari bahwa Arya Pandega, kangmas barepnya, tertarik pada Nyimas Selayur. Arya Daringin dan Nyimas Selayur saling menggoda sepanjang pesta tanpa mengetahui bahwa kangmasnya menginginkan Selayur untuk menjadi calon pengantinnya.

Hari ketika Selayur seharusnya menerima mahar pengantin dari Arya Pandega adalah hari Arya Daringin membawanya pergi. Hari Arya Daringin membawanya ke Dwipa Kinasih.

Maka, sekarang dia diberi seorang istri yang membencinya setengah mati dan yang dia juga benci. Dia dan istrinya saling benci sehingga sangat mungkin berakhir dengan ujung keris di dada masing-masing jika ada kesempatan. 

Sultan mengira pernikaha putranya yang bandel akan membuatnya jinak. 

Betapa kelirunya sang baginda …

Mendadak dia melihat sesuatu bergerak di bawah dan dia mengangkat teropong ke matanya. 

Kereta datang.

Banurasmi ada di sini.

Arya Daringin tersenyum puas.

Merajut Masa Silam

4. Kembang Jintan 6. Suami Istri

Penulis

  • Alexis

    Pengarang  novel Lamaran atau Pinangan? (Pimedia, 2022) dan (Deception) Ingkar Jodoh (Pimedia, 2022). Segera terbit, Penyintas Terakhir.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image