Home / Genre / Misteri / Kekasih Dara

Kekasih Dara

Kekasih Dara

Dara bergegas mengayunkan langkahnya melintasi jalan setapak menuju rumah.
Sesekali, Dara melirik kanan kiri, memastikan tak ada orang yang melihatnya menyelinap masuk rumah pada dini hari seperti ini. Untunglah kamarnya terletak di bagian samping rumah dengan pintu terpisah.

Huft … lega.

Dara menarik nafas panjang lalu segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dari noda-noda yang mungkin terselip di sela-sela jarinya. Berulangkali menggosoknya dengan sabun, menyikatnya hingga benar-benar bersih. Tak lupa dia memasukkan baju yang tadi dipakainya ke dalam kantong plastik hitam.

Setelah berganti dengan pakaian bersih, Dara menghempaskan tubuhnya. Terlentang di atas pembaringan.
Senyum lega menghias wajahnya.

“Ah, pekerjaan belum selesai,” bisiknya lirih seolah berkata pada dirinya sendiri.

Dara bangkit dan menghampiri tas ransel yang dibawanya tadi. Senyuman riang masih tersungging di wajahnya, seolah mendapat buku baru yang sangat ditunggunya. Gadis berambut panjang itu mengeluarkan tas bekal yang dibungkus aluminium foil. Wadah yang biasa dipakainya untuk membeli es krim. Dia memang suka sekali es krim.

Iseng-iseng Dara menyalakan televisi.

Tok! Tok! Tok!

Terdengar ketukan di pintu yang menghubungkan kamar Dara dengan rumah utama.

Dara pun menghentikan kesibukannya dan segera membuka pintu.

Rani, kakak Dara berdiri dengan pandangan bertanya.

“Ada apa, Kak?”, tanya Dara.

“Semalam Kamu ketemu Bima?”

“Gak, tuh. Kenapa, Kak?”

“Tadi Ibunya nelpon, katanya Bima sampai sekarang belum pulang. Kirain sama kamu. Beneran gak ketemuan?” tanya kak Rani menyelidik.

“Nggak, Kak! Udah, ah sana! Aku sibuk nih!”

“Sibuk apa … cuma mau makan es krim doang, paling. Masih pagi, Ra. Makan dulu sana.”

Rupanya sekilas kak Rani melihat tas es krim di meja Dara.

Dara tersenyum mengiyakan dan memberi isyarat pada kakaknya untuk tidak mengganggunya lebih lama. Mendengar nama kekasihnya disebut, hati Dara berdebar sangat kencang, antara marah, kecewa, sakit hati, cemburu, bahkan cinta, bercampur aduk di kepala.

“Tapi aku sudah tak perlu lagi mengingat semua hal yang membuatku kecewa. Karena Bima sudah jadi milikku sekarang.” Wajah Dara merona bahagia dengan senyum yang sedikit mengerikan.

Sambil terus bergumam kepada dirinya sendiri, Dara membongkar tas ranselnya dan mengeluarkan toples-toples kecil dari kaca.
Menjejerkannya dengan rapi di atas meja.

“Sinta bilang, kau sering menelponnya di tengah malam, panggil-panggil sayang lagi. Rika juga bilang kalau kalian sering chat mesra, padahal mereka tahu kau milikku. Karena itu, sayang, aku akan menjadikanmu milikku dan tak ada yang bisa menikmati kata sayangmu kecuali aku, hihihihi …”

Dara tersenyum sambil sesekali membelai toples-toples kaca itu, yang masing-masing berisi lidah, sepasang telinga, sepasang jari telunjuk dan sepasang ibu jari. Potongan-potongan tubuh itu sudah lebih dulu dibersihkan dengan air formalin di sebuah kamar sewaan, tempatnya bertemu dengan Bima semalam.

“Seorang pria ditemukan sekarat di kamar sebuah wisma melati dini hari tadi. Korban ditemukan nyaris tewas akibat kehabisan darah dan tergeletak tanpa sepasang telinga, lidah, juga keempat jarinya. Hingga saat ini, polisi masih melakukan olah TKP dan menduga korban dianiaya oleh orang terdekatnya. Sampai berita ini diturunkan, korban masih belum sadar hingga pihak berwajib masih menunggu korban membaik untuk bisa dimintai keterangan.” Demikian reporter memberitakan tentang sebuah kejadian.

Seolah tak terganggu dengan berita di televisi, Dara memutar rekaman percakapannya dengan Bima. Mendengarkannya melalui headset sambil menelungkup di meja.

“Kamu milikku,” kata Dara sembari mengelus-elus toples kaca seolah ‘kekasih’nya.

Patih, 02 Feb 2021 18.21

Penulis

  • Vi Vone

    Tentang penulis: Vi Vone merupakan perempuan yang besar di Surabaya, dan kini bertempat tinggal di tanah kelahirannya, Gresik. Seorang ibu rumah tangga yang mempunyai kesenangan menulis beberapa tahun belakangan ini. Baru tiga kali membuat buku antologi puisi bersama para sahabat literasi di dunia maya, dan dua buku cerita fiksi romance. Dia menyebut dirinya sebagai Penyintas Senggang. Keyakinannya adalah, "Apa yang ditulis dari hati akan sampai pula ke hati."
     

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image