Seringkah Anda merasa hidup itu biasa-biasa saja, flat, cenderung melelahkan dan membosankan? Apakah Anda hanya bisa merayakan dan mensyukuri hidup jika terjadi hal-hal menggembirakan saja? Bersorak “This is life!” jika menerima berkat berlimpah, keberuntungan, mukjizat. Akan tetapi meratap pilu, “Hidup macam apa ini?” saat terjadi kemalangan bertubi-tubi. Merasa fed up bahkan burn out akibat bermacam-macam masalah.
Pernah terjadi, seorang teman perempuan penulis saat sekolah menengah atas dulu menulis di dalam diary-nya: Bapa (Tuhan), aku ingin pulang. Kami yang dicurhati merasa prihatin dan berusaha menemaninya menghadapi masalah. Sayangnya, teman itu kemudian tidak naik kelas dan terpaksa pindah ke sekolah lain. Putus kontak, penulis hanya bisa berharap semoga teman kami yang malang berhasil menemukan jalan keluar terbaik, bukan buru-buru ingin pulang kepada-Nya.
Pernahkah Anda merasa demikian pula, ingin menyudahi saja semua perjalanan ini? Semua yang dikerjakan seperti sia-sia belaka. Setiap hari matahari terbit lalu terbenam, terasa sama saja dan terulang kembali lagi dan lagi. Ibarat penantian tanpa akhir. Tak ada lagi hal yang bisa dikerjakan dengan antusias. Ini membuat rasa putus asa luar biasa sehingga ‘ingin tutup buku kehidupan’ saja. Tunggu dulu!
Inilah beberapa pengingat indah mengenai hidup dari berbagai sumber dan hasil renungan pribadi penulis.
- Uang bisa membeli obat, namun uang tak bisa membeli keselamatan. Uang bisa membeli hiburan, namun uang tak bisa membeli kebahagiaan. Uang bisa membeli vitamin, suplemen, alat olahraga, perlindungan bodyguard, namun uang tak bisa membeli hidup.
- Kehidupan adalah sebuah misteri besar dan indah dari Sang Maha Pencipta; tak ada yang tahu mengapa Dia menciptakan Anda dan saya, bagaimana jalan hidup kita masing-masing, serta kapan akan berakhir. Ada orang yang tampak sehat, muda dan kaya raya kemarin-kemarin, hari ini tiba-tiba kita dengar kabar duka ia dipanggil pulang oleh-Nya. Sebaliknya, orang yang divonis penyakit tak tersembuhkan dan sudah menderita selama bertahun-tahun, tiba-tiba menerima mukjizat kesembuhan. Hidup bisa berubah kapan saja. Syukurilah dan hargailah misteri nan dinamis itu.
- Hidup ini, seberapapun singkat maupun panjangnya, jadikanlah bermakna. Penulis pernah membaca kisah nyata seorang anak kecil yang cepat-lambat akan meninggal dunia karena sakit, namun rela mendonasikan beberapa organ tubuhnya yang sehat kepada beberapa pasien sakit parah yang membutuhkan. Hidupnya yang singkat mungkin terkesan tidak adil dan menyisakan duka mendalam bagi keluarganya, namun sepeninggal dirinya, beberapa nyawa terselamatkan.
Bukan masalah ‘haruskah menjadi donor’ atau semacamnya, kisah tersebut memiliki hikmah indah: apapun yang ada pada kita bisa sangat berharga bagi sesama. Perhatian, waktu, bahkan doa.
Hidup kita (mungkin bagi kita terasa datar, normal, biasa-biasa saja, akan tetapi) sangat berarti bagi orang-orang yang mengasihi kita. Bayangkan sejenak seorang anak kecil. Jika biasanya ibunya pagi-pagi sudah bangun menyiapkan segala kebutuhan sebelum berangkat ke sekolah. Tiba-tiba ibu jatuh sakit, ayah belum terbiasa bangun sepagi ibu untuk menggantikan tugas-tugasnya. Akhirnya semua ‘keteteran’, si anak terlambat bangun, terlambat pula tiba di sekolah. Peran seorang ibu, meskipun ‘hanya ibu rumah tangga’ biasa-biasa saja, sangat berarti.
Begitu pula hidup Anda! Mungkin anda merasa hanya seorang diri, tidak terlalu kelihatan berkontribusi, keberadaan Anda tidak begitu signifikan. Akan tetapi ketahuilah, Anda berharga. Di mata orang-orang lain, di mata Tuhan!
Kesimpulan: Life is precious! Hidup begitu berharga. Begitu banyak orang di luar sana berusaha memperjuangkannya. Saat dalam kesusahan luar biasa; kecamuk peperangan, bencana alam, kelaparan hebat, hingga bertahan di penghujung kesabaran menghadapi sakit-penyakit atau masa tua. Meskipun harapan semakin tipis, tampak begitu samar dan jauh, harapan itu tetap ada. Janganlah menolak keberadaannya. Hidup bukan ibarat permainan game elektronik/online yang bisa diulang kembali begitu game over, karena itu bertahanlah satu hari lagi. Sanggup bertahan hari ini, mari bertahan pula esok. Let’s make your life full to the fullest!
Jika Anda mendapatkan berkat lewat opini ini, silakan berbagi dengan sesama yang membutuhkan.
Semoga bermanfaat.
Tangerang, 31 Juli 2025.











