“Tidak semua doa (segera) dijawab Tuhan meskipun Dia sangat mengasihi seluruh umat manusia!” Kok bisa?
Tentu sebagai manusia yang beriman kepada Tuhan YME, kita berdoa sesuai kepercayaan masing-masing. Namun ada kalanya kita berhenti atau jadi malas berdoa. Alasannya beragam. Kita sakit, lalu berdoa minta kesembuhan, gak juga sembuh-sembuh. Kita dalam kesulitan ekonomi, berdoa siang-malam minta rezeki, gak juga turun cuan yang dinanti. Kita berdoa minta jodoh, namun sampai saat ini masih sorangan wae, jomblo akut, bertanya-tanya di mana gerangan sang pangeran tampan atau putri cantik itu? Banyak sekali doa lain yang kita panjatkan tapi seakan-akan Tuhan ‘stecu’ alias setelan cuek, ‘bomat’ alias bodo amat, dan sebagainya. Akibatnya kita malah ditertawakan orang di sekeliling kita, “Mana jawaban doanya? Bagaimana hasilnya?” lantas jadi pu-as alias putus asa, apatis, semakin jauh dari kegiatan ibadah kita, dan sebagainya.
Mengapa doa kita kadang tidak dijawab Tuhan (sesuai keinginan atau permintaan kita)? Inilah beberapa hal yang perlu kita renungkan:
1. Tanpa sadar kita kadang-kadang memperlakukan Tuhan seperti Blue Genie dalam film atau Jin Biru yang dapat (baca: harus) mengabulkan beberapa keinginan kita. Jika lama dijawab atau tidak sesuai keinginan kita, lantas kita marah, ngambek, bahkan (mengancam akan) meninggalkan Dia.
Doa yang belum dijawab bukan berarti Tuhan tidak dengar, lagi sibuk, tak peduli, atau mengabaikan kita. Bahkan jawaban doa yang tidak sesuai dengan kehendak kita juga bukan berarti Tuhan tidak sayang pada kita. Rancangan hingga keputusan-Nya terindah, terbaik bagi kita.
2. Kita masih kurang yakin/tidak serius percaya jika Tuhan dapat melakukan apa saja sesuai kehendak-Nya. “Dijawab apa enggak, ya?” “Bakal terkabul atau enggak, ‘sih?” atau, “Ah, kayaknya mustahil deh! Selama ini udah sering doa yang kenceng, lama, khidmat, mana efeknya? Sia-sia belaka! Apalagi permintaanku ini mungkin receh aja. Gak mungkin bangetlah!”
Jika memohon ke manusia saja kita tidak menunjukkan keseriusan, manusia bisa ragu-ragu pada kesungguhan kita. Apalagi Tuhan! Kadang keraguan itu membuat Tuhan ragu juga pada kita. “Apakah kamu serius dengan doamu?” mungkin demikian tanya-Nya, “Jika tidak, lalu mengapa kamu datang kepada-Ku?”
3. Kita berdoa kadang juga hanya untuk memuaskan keinginan kita semata-mata saja. Kita mau hape baru seperti milik teman, mainan canggih, OOTD atau kosmetik premium biar glowing, jam tangan mewah, hingga rumah-kendaraan seperti punya tetangga, apa lagi pasangan impian rupawan dan kaya-raya seperti di film-film/drakor/drachin, novel-novel online, dan lain-lain. Padahal belum tentu kita membutuhkan atau akan berbahagia setelah mendapatkan semua itu.
4. Kita berdoa secara ‘bolong-bolong’ alias tidak setia. Ibarat ingin memperbaiki sehelai kain robek atau bolong-bolong/berlubang lalu hanya ditisik jarang-jarang, tentu saja masih tidak bisa digunakan sebagai pakaian. Tisiklah kain robek itu secara berkelanjutan, jangan asal-asalan atau jarang-jarang. Meskipun singkat saja, berdoalah setiap hari, setiap saat kita ingat dan mampu. Setialah mengulangi sampai doa itu terjawab.
5. Keberadaan Tuhan sering ‘terlihat’ offline bagi kita. Padahal seandainya Tuhan juga punya aplikasi whatsapp, whatsapp-Nya selalu online! Kita lebih percaya dan khawatir pada hal-hal tak terlihat lainnya: kekhawatiran, apa kata orang, ramalan-ramalan mereka yang mengaku sebagai peramal jitu, bahkan keberadaan ‘hantu’! Jika ‘hantu’ saja bisa membuat kita merinding di ‘tempat sepi’, merasa takut duluan padahal gak kelihatan, lalu mengapa lantas gak takut kepada Tuhan? Tuhan selalu online! Doa-doa kita di ujung sana selalu centang biru dua! Kita hanya perlu bersabar menunggu jawaban-Nya: Ya, tidak, atau tunggu.
Tuhan, Sang Maha Pencipta, tidak pernah abai seperti manusia. Doa kita sampai kepada-Nya lebih instan daripada pesan tercepat. Namun doa tidak selalu dijawab-Nya saat itu juga, tidak juga selalu berupa kata ya. Yakinlah jika penantian kita tidak akan sia-sia. Tetaplah berdoa sampai sesuatu terjadi! Yakinlah jika jawaban-Nya terbaik bagi hidup kita. Amin.
Semoga bermanfaat.
Jakarta-Tangerang, 3 September 2025











