Beranda / Genre / Romansa / 31. Cakra di Situs Gunung Candi

31. Cakra di Situs Gunung Candi

Ananta Kama 1600x900
This entry is part 32 of 33 in the series Ananta Kama

Udara sejuk Lereng Sindoro mendadak terasa lebih berat, lebih sunyi, dan canggung setelah Ayesha menerima panggilan telepon. Gadis itu mendadak muram, sesekali aku melihat kaca-kaca bening di palung matanya. Bhaskoro menyikut lenganku, dengan gerakan dagunya seolah bertanya apa yang terjadi. Aku hanya mengedikkan bahu sambil menggeleng. Gerakan kecil dari bibir Bhaskoro memberi isyarat untuk menanyakan pada Ayesha. Aku menghela napas berulang sebelum membuka kalimat.

“Er is een probleem?” tanyaku hati-hati.

“Er is geen,” jawabnya, matanya menghindari tatapanku.

“Kamu berubah setelah terima telepon, yakin nggak ada masalah?” cecarku halus. Ayesha mengembuskan napas berat, ia menunduk memilin ujung rambut ikal kecokelatannya.

“Aku tak memaksamu untuk bercerita, tapi aku tidak suka jika ada yang punya masalah selama perjalananku. Membuat kami kehilangan mood juga.”

Ayesha menunduk, butiran bening menetes di pipi kemerahan. Aku menangkupkan kedua telapak tanganku di wajahnya.

“Hé, wat is er gebeurd? Jika Kamu tidak mau mengatakan, aku tidak mau melanjutkan perjalanan ini.”

“Siapa yang telepon?” Kali ini Bhaskoro yang bertanya, tegas dan sedikit mengintimidasi.

“Papa,” jawab Ayesha masih menunduk, tangannya mengusap butiran bening di pipinya.

“Kenapa?” desak Bhaskoro.

“Papa memintaku pulang,” ucap Ayesha lirih.

“Jika papamu meminta seperti itu, Kamu harus pulang,” tegas Bhaskoro. Ayesha menatapku ragu, lalu kembali menunduk.

“Mungkin papamu merindukanmu.” Aku mengusap lembut punggungnya.

“Tapi … aku masih ingin di sini,” keluh Ayesha. Matanya memandang keluar jendela, seakan menghitung satu per satu tempat yang belum sempat ia kunjungi. Bhaskoro menangkap kegundahan itu. Dengan nada tenang, ia berusaha menghibur, mengatakan bahwa setiap perjalanan memang harus berakhir, tapi jejaknya akan selalu tinggal.

“Tempat-tempat itu tidak ke mana-mana, mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk didatangi kembali.” Bhaskoro berujar pelan.

Aku tahu Ayesha kecewa, berat di hatinya tak mudah luruh, masih banyak sudut yang ingin ia jelajahi, cerita yang belum sempat ia dengar. Tiba-tiba terbersit niat usil untuk menggoda Ayesha.

“Benar kata Mas Bhaskoro, tempat-tempat itu tidak kemana-mana. Kapan saja Kamu mau datang lagi, aku siap membawamu melanjutkan perjalanan, tapi ….”

“Tapi apa?” potong Ayesha cepat.

“Aku dan Mas Bhaskoro hanya akan menerima dengan syarat Kamu tidak datang sendiri.”

“Aku … aku tidak mengerti,” ujar Ayesha bingung. Aku dan Bhaskoro saling menatap penuh arti, lalu tersenyum menggoda.

“Kamu harus datang bersama Zack,” ucapku yang nyaris berbarengan dengan Bhaskoro. Candaan itu memecah keheningan, membuat Ayesha tersenyum kecil, wajah sedihnya berubah tersipu. Aku lega, setidaknya bisa mencairkan suasana dan membuatnya sedikit terhibur.

Perjalanan menuju Situs Gunung Candi pun berlanjut. Hari terakhir ini bukan sekadar penutup eksplorasi, melainkan janji tak terucap, bahwa perpisahan hanyalah jeda, dan setiap langkah yang berhenti hari ini mungkin akan berlanjut di masa depan.

Di Temanggung, situs ini memang tak setenar Situs Liyangan, Gondosuli, dan Candi Pringapus. Tinggalan sisa-sisa batu purbakala juga tak sebanyak candi-candi lainnya. Meskipun begitu situs yang berada di Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung ini memiliki daya tarik sendiri untuk dikunjungi.

Berada di atas bukit yang rimbun dengan tanaman bambu, dan banyak ditemukan situs-situs batuan purbakala yang tersebar di berbagai bukit di sekitarnya.Yang menjadi menarik dari situs ini adalah keberadaan sebuah cakra dengan palang empat yang tidak dijumpai pada situs-situs lainnya.

“Ini apa …?” tanya Ayesha sambil mengusap bentuk bulat seperti roda di antara serahkan batu candi.

“Itu Cakra. Dalam candi Buddha, cakra melambangkan roda Dharma atau ajaran Buddha yang berputar menuju pencerahan,” kata Bhaskoro menjelaskan. Ayesha manggut-manggut, meski kedua alisnya bertaut tanda sedang berpikir keras.

“Sering digambarkan sebagai Dharmacakra, roda dengan delapan jari yang mewakili Jalan Mulia Berunsur Delapan. Bisa juga merujuk pada pusat energi psikis tubuh yang penting dalam praktik tantra, serta simbol-simbol seperti Chattra atau payung di puncak stupa yang melambangkan kesempurnaan dan perlindungan spiritual,” lanjut Bhaskoro.

“Seingatku cakra dengan palang empat itu juga ada dalam relief Candi Borobudur. Pada panel 35 relief Lalitavistara,” selaku, tapi aku ingat Ayesha belum mengunjungi Borobudur.

“Di Candi Borobudur terdapat relief gambar sebuah bangunan kuil yang bagian atasnya terdapat cakra dengan empat palang. Sama persis dengan cakra tinggalan di situs Gunung Candi ini, termasuk juga batu-batu yang terserak, hampir sama dengan gambar di relief yang ada di Borobudur. Yang membedakan di Gunung Candi terdapat sebuah Yoni, tapi menurut informasi itu bukanlah Yoni asli situ. Tapi pindahan dari tempat lain,” paparku lengkap, khawatir Ayesha tidak memahami penjelasanku.

“Simbol cakra juga ditemukan dalam relief candi dan sebagai ornamen di wihara, mengingatkan pada roda kehidupan yang berputar,” imbuhku

“Dalam Buddhisme Tantra, cakra adalah titik fokus energi psikis dalam tubuh, tempat energi atau prana berkumpul. Terutama dalam Tantra Yoga, fokusnya adalah pada cakra-cakra utama seperti cakra mahkota, tenggorokan, jantung, pusar, dan area seksual.” Bhaskoro menambahkan penjelasan dengan detail. Ayesha sibuk mencatat.

“Cakra sebagai Simbol Arsitektur Spiritual biasanya berupa Chattra atau Payung, terletak di puncak stupa seperti di Borobudur. Melambangkan perlindungan spiritual dan kesempurnaan stupa, juga bisa disebut bagian dari cakra yang lebih besar.”

“Apakah semua cakra berbentuk roda?” tanya Ayesha.

“Cakra sebagai simbol roda di situs Gunung Candi ini sebagai pengingat akan roda kehidupan yang terus berputar, istilahnya dalam Buddha disebut samsara,” jawab Bhaskoro.

“Lalu tadi disebutkan sutra Lalitavistara?”

“Lalitavistara adalah sutra Mahayana. Sutra dalam bahasa Sanskerta atau sutta Pali, berarti teks, wacana, kitab suci kanonik,  tentang kisah hidup Buddha Gautama, yang mencakup masa turunnya beliau dari surga Tushita hingga khotbah pertamanya di Taman Rusa di Sarnath, Varanasi, India.” Kali ini aku yang menjawab pertanyaan Ayesha.

“Merujuk pada penjelasan Sutra Lalitavistara pada panel relief 35 Candi Borobudur, disebutkan setibanya beliau–Sang Buddha, di kuil itu, tampak patung-patung Dewa Siva, Skanda, Narayana, Kubera, Candra, Surya, Vaisravana, Sakra, Brahma, berikut Empat Maharaja :  Dhrtarastra, Virudhaka, Virupaksa, Kubera, berdiri dan turun dari singgasana mereka, menghaturkan sungkem ke Bodhisattva. Artinya semua Dewa mendukung niat Bodhisattva untuk memutar roda Dharma demi menghilangkan penderitaan semua makhluk.”

“Bodhisattva … aduh, apalagi ini?” keluh Ayesha sambil menggaruk kepalanya. Aku terkekeh menjawil bibirnya yang mengerucut.

“Bodhisattva adalah makhluk tercerahkan yang menunda pencerahan sempurna atau Nirwana untuk membantu semua makhluk hidup mencapai pembebasan dari penderitaan. Gabungan kata Sansekerta ‘bodhi’ yang berarti pencerahan dan ‘sattva’ yang berarti makhluk. Bodhisattva artinya “makhluk yang tercerahkan” atau “calon Buddha”.”

“Berarti setiap orang berpotensi menjadi bodhisattva?” cecar Ayesha.

“Menurut konsep sentral dalam Buddhisme Mahayana, setiap orang berpotensi menjadi bodhisattva yang berbelas kasih, menyempurnakan diri, dan mengabdikan diri untuk kebahagiaan semua,” jawabku.

Penjelasan tentang situs Buddha ini lumayan melelahkan, hari sudah mulai gelap. Kami memutuskan langsung pulang. Ayesha meminta memasak di rumah dan membuat acara makan malam sebagai perpisahan katanya.

Ananta Kama

0. Jejak Sejarah dan Misteri yang Belum Terkuak 2. Ananta Kama (Tamat)

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *