Malam adalah lembar kosong.
Aku menuliskan sesuatu di sana dengan tinta yang bukan dari pena, melainkan dari dadaku sendiri. Kata pertama jatuh seperti embun:
“kau kata aku ku kata kau lalu kau aku jadi kita dalam kata.”
Darinya lahirlah gema.
Bukan sekadar bunyi, melainkan tubuh tipis yang bergerak di udara, menjelma siluet samar, menatapku dengan mata yang bukan mata, dengan wajah yang tak pernah usai berubah, seakan pantulan diriku sendiri, atau barangkali wajah kau.
“Kau panggil aku dengan kata, dan lihatlah, aku datang dalam rupa kata pula.”
Aku tercekat. Kata itu bukan hanya bersuara; ia hidup, ia bernapas. Bahkan mungkin ia lebih hidup daripada aku yang menuliskannya. Aku menatapnya, lalu bertanya:
“Dengan apa lagi harus kumaknai cinta?”
Gema diam sejenak, lalu menjawab dengan suara seperti serpihan kaca pecah:
“Dengan luka.”
Aku bertanya lagi, penuh ragu:
“Dengan apa lagi harus kumaknai luka?”
“Dengan cinta.”
Lingkaran itu terus berputar, menelanku perlahan. Aku merasa seperti ikan yang terjerat jaring yang tak kukenal. Aku menggeliat, mencoba melepaskan diri. Tapi semakin kucoba, semakin rapat ia menutupku.
Aku teringat pada kau.
Pada malam-malam yang dulu kita isi dengan percakapan panjang tanpa ujung. Bukankah dalam setiap percakapan itu ada kata yang kita pertukarkan? Kau mengumpan, aku menyodorkan. Begitu sebaliknya, begitu seterusnya, hingga akhirnya kita sadar: semua bukan sekadar dua jiwa yang berhadapan, melainkan dua kata yang saling mengisi, saling menjelma.
Maka lahirlah kalimat itu:
kau kata aku ku kata kau lalu kau aku jadi kita dalam kata.
Tubuhku kian ringan. Barangkali sebentar lagi aku pun akan menjelma kata. Barangkali aku akan larut dalam mantra yang kuciptakan sendiri.
Di langit, bulan tak lagi bulat. Ia berubah menjadi huruf, satu per satu, menyusun kalimat yang sama:
“kau kata aku ku kata kau lalu kau aku jadi kita dalam kata.”
Setiap huruf yang jatuh menumbuhkan bunga.
Tapi bukan bunga biasa: kelopaknya bukan warna, melainkan suara. Kelopak yang ketika kudekati terus berbisik—bisikan yang tak lain pengulangan mantra kita. Batangnya pun bukan hijau, melainkan pilinan kalimat yang menjulang.
Aku berjalan di ladang malam, menginjak tanahnya.
Setiap injakan menimbulkan gema:
“kau kata aku ku kata kau…”
Kalimat itu berulang-ulang, semakin lama semakin keras, hingga aku merasa tak lagi berjalan di ladang, melainkan di dalam dadaku sendiri.
Namun gema berubah.
Mula-mula lembut, menenangkan. Lalu perlahan menjadi tajam, penuh teguran. Kata-kata itu menuduhku, seolah aku telah menyalahgunakan mereka.
“Kau menuliskan kami untuk apa?” tanya suara itu.
Aku terdiam.
“Kami bukan sekadar mainan bibirmu. Kami tubuh yang ingin dikenali. Kau tak bisa hanya memanggil lalu meninggalkan. Kata harus diberi jiwa, bukan sekadar ditorehkan.”
Aku merasa bersalah. Ladang bunga itu tiba-tiba layu. Kelopak suara luruh. Batang kalimat patah. Semua yang indah berubah menjadi reruntuhan bisikan. Aku berdiri di tengah kehancuran yang lahir dari tanganku sendiri.
Namun dari reruntuhan itu—lahirlah kau.
Kau muncul perlahan dari kumpulan huruf yang tercerai.
Wajah kau tersusun dari tanda baca. Mata kau bersinar dari titik koma. Rambut kau mengalir dari tanda seru. Bibir kau—oh, bibir kau—adalah dua garis miring yang bertemu di ujungnya.
Aku terperangah. Kata-kata ternyata bisa berubah menjadi kau. Atau barangkali, sejak awal, mereka memang hanya jembatan untuk mendekatkanku pada kau. Kata adalah jalan, dan ujung jalan itu adalah wajah kau.
Aku mendekat. Ingin menyentuh.
Tapi setiap kali jariku hampir mengenai kulit kau, tubuh kau pecah menjadi huruf. Huruf-huruf beterbangan, menancap di udara, menyusun kembali kalimat yang sama:
“kau kata aku ku kata kau lalu kau aku jadi kita dalam kata.”
Aku tergugu.
Ternyata aku hanya bisa merangkul kau lewat kata.
Tak ada pelukan:
tubuhmu kata,
napasmu kata,
senyummu kata,
semuanya kata—
hanya mantra yang mengikat kita dalam lingkaran abadi.
Tetapi, bukankah itu sudah cukup?
Aku bertanya kepada malam.
Malam hanya menatapku. Tidak menyangkal. Tidak mengiyakan. Ia hanya memberi ruang agar aku terus bergulat dengan diriku sendiri.
Jika cinta adalah kata, maka biarlah aku menjadi penjaga kata.
Jika hidup hanyalah kata, biarlah aku menghabiskan hidupku menuliskan kau.
Jika mati adalah hening tanpa kata, maka biarlah aku melawan mati dengan terus menyebut nama kau.
Namun malam tetap menjawab dengan keheningan.
Keheningan yang bukan kekosongan, melainkan ruang tempat kata bergema tanpa batas. Keheningan setara kertas putih terbesar, tempat semua mantra bisa dituliskan.
Aku kembali duduk.
Menuliskan kalimat yang sama. Setiap gores huruf terasa seperti darah baru. Aku menuliskannya bukan sekali, tapi seribu kali, sejuta kali. Hingga tinta tak lagi hitam, melainkan merah menyala—ekstraksi hidupku sendiri.
Dari setiap tulisan, muncul gema baru.
Bukan hanya satu sosok, melainkan ribuan: ribuan wajahmu, ribuan wajahku, bercampur, saling memanggil, saling menegur, saling jatuh cinta.
Ladang bunga-kata lahir kembali, kali ini lebih luas, lebih riuh, lebih hidup.
Hidup adalah kata.
Cinta adalah kata.
Luka adalah kata.
Segalanya adalah kata.
Namun di tengah hiruk-pikuk itu aku tersadar: ternyata aku menulis bukan hanya untuk kau.
Aku menulis untuk hidup itu sendiri. Hidup yang rapuh, rumit, penuh tanya. Hidup yang hanya bisa dipahami lewat kata.
Mungkin benar kata gema itu: cinta dan luka adalah lingkaran.
Lingkaran yang hanya bisa dikenali ketika ada kata yang menggambarnya.
Tanpa kata, semua hanyalah hampa.
Dengan kata, hampa pun menjelma rumah.
Maka kepada malam aku berjanji: aku akan terus menulis, terus mengucap, akan kujadikan hidupku sebuah mantra. Hingga suatu hari, ketika tubuhku lenyap, orang-orang masih mendengar gema itu. Masih menemukan kalimat yang terus berbisik di telinga mereka, entah kapan, entah di mana:
“kau kata aku ku kata kau lalu kau aku jadi kita dalam kata.”
Hingga akhirnya aku benar-benar larut. Tubuhku hilang. Yang tertinggal hanya kalimat itu, bergema di udara, mengisi malam, menembus cahaya pagi, mengalir ke segala arah.
Tapi aku tahu:
di balik setiap kata itu, ada diri kau.
Karena cinta memang tak perlu tubuh:
cukup kata,
cukup gema,
cukup mantra.
Dan jika kau bertanya siapa aku, akan kujawab:
aku, pada akhirnya,
hanyalah kata—
dicipta semata-mata
untuk memanggil kau.
Bay-Purbalingga, 9925.












2 Komentar
Puisi yang unik dan menarik.
Cuma kadang rada bingung merangkainya biar ga wagu dan tetap berbentuk puisi, Ce….