Beranda / Fiksi / Puisi / Cinta yang Aku Pilih

Cinta yang Aku Pilih

Cinta yang Aku Pilih

Hidup tak selamanya gelap dan terang
Realita terkadang mampu mengantarkan pada waktu
Berapa tahun aku menghirup udara dan bernafas
Namun yang aku tau hanyalah keindahan yang fana

Beribu kata cinta yang aku dengar, beribu cinta yang hadir, beribu cinta yang ku sebutkan dan beribu cinta yang ku terima
Semua yang aku kenal adalah cinta yang fana
Cinta di mana aku terkungkung rapuh, lelah dan lemah
Kemelekatan hingga tak tahu siapa diriku

1. Air Mata Cinta

Begitu indah bagaikan pelangi yang berwarna-warni di kala sang cinta hadir
Mengalir ke seluruh tubuhku bagaikan getaran yang berfrekuensi
Tak ada yang indah selain cinta
Menggenggam hingga melekat dan bergantung

Sesekali cinta itu diuji oleh Sang Maha Cinta
Hanya air matalah yang sering menetes bagaikan air hujan menyatu dengan embun
Badanpun sempoyongan tak kuasa untuk menahan kepergiannya untuk selamanya
Tak sanggup kehilangan cinta yang selama ini aku puja

2. Lorong Cahaya Cinta

Aku tersadar dalam perjalanan yang menuju lorong
Seberkas cahaya dari kejauhan yang memantul bak menyinari seluruh tubuhku
Aku terheran aneh hingga bertanya-tanya
Cahaya itulah yang menghantarkanku untuk tau siapa diriku

Pengakuanku dan sujudku
Aku hanyalah hamba yang dhoif
Aku milik-Mu
Begitupula cinta yang pergi untuk selamanya adalah milik-Mu juga

Aku bercermin seorang diri tanpa kata
Bahkan pandanganku hanya tertuju padaku
Suara rintik hujan yang setia menemaniku
Tersadar tak ada satupun yang ada di dunia ini tentang milikku

3. Cahaya Sang Maha Cinta

Kepergiannya untuk selamanya adalah kuasa-Nya
Kepergiannya mengenalkanku mengerti tentang apa arti cinta sejati
Cinta yang abadi  dan cinta yang  tak akan pernah pergi
Cinta yang selalu ada dalam setiap keadaan

Wahai Sang Maha Cinta
Kini aku tenggelam dalam lautan cinta-Mu
Nama-Mu terpahat di dalam hatiku
Cinta yang Agung bersemayam pada segumpal hati

Aku mencintai mihrab-Mu
Kasih sayang-Mu melebihi seorang ibu
Cinta yang hadir saat ini sekaligus menjadikan obat bagiku
Cinta yang ku punya saat ini adalah cinta yang menyelamatkanku

4. Terlena dalam Cahaya Cinta

Ya Allah kalam-Mu begitu menyejukan dan menghantarkan ku pada kebenaran
Setiap yang aku ucap berulang kali membuatku semakin dekat dengan cinta
Tak ada lagi yang aku kejar selain cinta-Mu
Semuanya begitu tak berharga di saat aku mencintai-Mu

Kenapa aku tak menemukan-Mu sedari dulu
Biarlah waktuku habis hanya untuk bercinta dengan-Mu
Mungkin cintaku tak sesempurna Rabiatul Adawiyah
Biarlah hanya Engkau dan aku yang tau tentang dalamnya hatiku

Sandaranku hanya Engkau wahai Sang Maha Cinta
Berbagai bentuk sajian-Mu untukku, sungguh aku terima dengan ikhlas
Bahagiaku di kala cintaku terbalas
Aku milik-Mu

Setiap bait puisi yang ku tulis tak ada lagi selain tentang-Mu
Di setiap bangun pagiku hanyalah Engkau
Ucap syukur tak henti aku haturkan
Setiap makhluk hidup yang kutemui yang teringat adalah pemilik-Nya

Kesedihanku mengantarkan ku pada-Mu
Jalan sunyi penuh doa yang ku sebut cinta
Aku tak pernah mengemis cinta selain kepada-Mu
Pengabdianku saat ini hanyalah untuk-Mu

Tak terasa setiap bait dan aksara yang aku tulis adalah tentang-Mu
Segala rinduku pada-Mu menjelma doa
Berharap akhir hayatku abadi dalam peluk-Mu
Air mataku dulu adalah jalan menuju-Mu

Setiap kejadian adalah cara-Nya berkomunikasi dengan hamba-Nya
Cinta yang abadi adalah cinta-Nya
Pengabdian yang tidak akan pernah sia-sia hanya kepada-Nya
Sungguh aku tunduk pada cinta yang Agung.


Cimahi, 9 September 2025

#puisipanjang

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *