Aku bukan penulis, hanya saja aku
suka menulis.
Kutulis apapun yang menggoda pikiranku
Menari-nari mengajakku bercumbu
luruh bersama hasrat dalam
lautan kata penuh makna. Mendekap jiwa penuh nista
Aku bukan penulis; hanya saja kutuliskan kata-kata yang
telah membuatku jatuh cinta dan
patah hati bersamaan. Tentang rasa ini. Rasa tak biasa yang sudah biasa padanya.
Mereka inspiratorku. Tokoh-tokoh maya yang
kunyatakan nyata. Mereka penunjuk jiwa kecilku, tatkala
aku tak bisa merangkai kata
Karena aku bukan penulis; hanya saja suka menulis
Kutuliskan nama-nama tak bertuan
Apakah ini puisi atau bukan puisi? Maaf.
Yang jelas aku bukan penulis; tapi aku tetap menulis
Kutulis semua tentangku, tentangmu, tentang dia, mereka, tak semua. Aku tak pandai menulis. Namun, kata-kata itu berbisik dan menggoda imanku;
“Tulislah aku! Tulislah aku!”
Ingin segera kulahirkan dalam untaian madah
penggugah rasa. Memesona dengan rangkaian kata nan indah
Meski aku hanya bisa menulis.
Lalu, aku harus menulis, kisahku dan kisahmu.
Harapku bisa jadi penulis; aku hanya suka menulis, bukan penulis.Menuliskan tentangmu dan tentangku
Lihatlah! Bahkan kisahku dan kisahmu telah jadi buku yang
pernah kutulis. Kukumpulkan kata-kata darimu yang tercerai-berai wakili jiwa kerdilmu
menyatu, terangkai dalam jiwa kita. Ya, kamu yang
telah membuatku menulis
Ah, plong sudah rasaku; sudah menulis
Menuliskanmu, dia, kita, mereka, tak semua.
Tak pernah cukup rasa rinduku menuliskanmu
Aku yang bukan penulis; hanya suka menulis
Menulis yang telah kususun di sini dan di sini. Bersama rinduku dan rindumu.
Bersama adamu dan tiadamu.
Temanggung, 4 Maret 2025, 17.43
(Ternyata, menanti ifthar dengan belajar menulis prosa sederhana di buku bisa membangkitkan semangat yang kendor. Puisi ini ditulis di buku menjelang maghrib dan ditulis ulang di ponsel saat adzan Isya’).












2 Komentar
Meskipun kita masih penulis pemula atau mode recehan/gratisan, kita tetap berkarya dari hati. Semangat.
Tetap semangat, terus semangat